MY SWEETIE BOYFRIEND

MY SWEETIE BOYFRIEND
BIARKAN AKU


__ADS_3

"Istrinya Anda mengidap tumor otak," ucap dokter pria berkacamata yang menangani Dila.


"Dokter jangan mengada-ngada. Istri saya tidak mungkin mengidap penyakit itu," bantah Dion. "Saya akan bawa dia ke rumah sakit yang lebih bagus dari ini."


Dokter mengembuskan napas pelan. Ia mengerti akan keterkejutan Dion saat mengetahui kondisi penyakit istrinya.


"Tuan, ini hasil dari pemeriksaan nyonya Dila. Saya, adalah dokternya. Sakit kepala yang nyonya derita tidak bisa disembuhkan dengan hanya obat pereda nyeri saja," kata dokter sembari menyodorkan hasil pemeriksaan agar Dion membacanya.


Namun, Dion malah menyodorkan kembali berkas itu dan enggan untuk membacanya ataupun melihat hasil CT Scan pemeriksaan istrinya.


"Saya akan tetap memindahkan istri saya ke rumah sakit yang paling bagus." Dion beranjak dari duduknya, dan tanpa permisi langsung keluar dari ruangan dokter itu.


"Bagaimana? Apa kata dokter?" tanya Reyhan.


Dion terdiam, dan tetap melangkah menuju ruang perawatan sang istri. Reyhan mengerutkan dahi akan sikap diam yang Dion tunjukkan.


"Dion, apa kata dokter? Mama baik-baik saja?" kata Reyhan.


Dion masuk ke ruang rawat melewati Diki yang berada di luar. Diki menahan lengan tangan Rey agar menjelaskan apa yang terjadi, tetapi pria itu mengedikkan bahu jika ia tidak tahu apa-apa.


"Anna, kamu keluar dulu," kata Dion. "Kalian keluarlah. Aku ingin bersama istriku."


Anna yang memang tengah berada di dalam, ikut kaget akan perintah Dion. Ia melirik Reyhan serta Diki yang tidak jadi untuk masuk. Reyhan memberi kode agar Anna meninggalkan Dion sendirian.


"Iya, Pa. Anna keluar dulu," ucapnya.


"Tutup pintunya," kata Dion.


Sebelum keluar, Anna melirik lagi Dion yang sudah duduk di kursi tepat di samping Dila. Ia keluar dan menutup pintu. Namun, dalam benaknya, Anna ingin sekali bertanya akan sikap dari mertuanya itu.


"Ada apa dengan papa?" tanya Anna.


"Entalah. Sejak keluar dari ruang dokter, ia diam saja. Aku bertanya saja tidak ia hiraukan," jawab Reyhan.


"Apa ada sesuatu mengenai mama?" sahut Diki.


"Kalian tunggu di sini. Biar aku yang menemui dokter itu," kata Reyhan.


"Aku ikut, Sayang," pinta Anna.

__ADS_1


...****************...


Dila masih terbaring di atas ranjang pasien dengan jarum infus di tangan serta selang oksigen di hidungnya.


"Dila." Dion meraih tangan istrinya. Mengenggam jari-jemari lemah itu, lalu mengecupnya. "Kamu tidak sakit, Sayang. Kamu bisa sembuh dan kita bisa bersama-sama lagi. Aku akan memindahkanmu ke rumah sakit yang lebih besar dan bagus."


Dila tidak merespon apa pun. Matanya masih terpejam, dan Dion terus saja mengecup punggung tangan istrinya. Pria itu mendekat, berbisik ke arah telinga Dila.


"Kapan kamu akan bangun? Lihatlah, aku tidak ada yang mengurus," bisik Dion dengan mengecup pipi Dila. Pria itu menundukkan wajah. Air mata mengalir dari kelopak mata Dion, dan ia tersedu.


Hatinya terasa nyeri karena perkataan dokter tadi. Ada keinginan agar dokter itu mengatakan jika Dila hanya tidur saja, dan dia akan segera bangun.


Jemari Dila bergerak, bibirnya terbuka sedikit dengan menyebut nama Dion. "Di-on."


"Sayang! Akhirnya kamu sadar juga." Dion menekan tombol yang ada di dekat brangkar pasien untuk memanggil dokter agar segera datang.


Dion langsung mengecup kening Dila beberapa kali, dan juga punggung tangan istrinya. Ia berucap syukur karena Dila telah siuman dan itu artinya istrinya akan baik-baik saja.


"Dion," ucap Dila dengan suara yang nyaris tidak terdengar.


"Jangan dulu bicara. Dokter akan segera datang," kata Dion.


"Bagaimana, Dok?" tanya Dion. "Istriku baik-baik saja, kan?"


"Mari ikut saya, Tuan," ucap dokter.


"Baiklah." Dion melirik Dila. "Sayang, kamu bersama Anna dulu, ya."


Hanya tatapan mata tanpa jawaban yang Dila perlihatkan. Wanita itu baru siuman, dan masih belum sepenuhnya keluar dari pengaruh obat. Dion menyuruh Anna untuk menjaga istrinya, sedangkan Reyhan ikut pergi ke ruangan dokter.


"Tumor otak yang menyerang nyonya Dila telah mencapai stadium tiga. Kita bisa melakukan pengangkatan, tetapi hanya sebagian; sebab tumor itu sebagiannya berada di bagian sensitif dalam kepala. Kita bisa melakukan kemoterapi atau terapi radiasi," tutur dokter.


"Sedari tadi dokter selalu bilang seperti itu? Istriku itu baik-baik saja."


"Itu memang benar, Dion. Kita harus melakukan yang terbaik untuk mama," kata Reyhan yang ikut kaget ketika tadi dokter mengatakan jika Dila mengidap tumor.


"Reyhan, pindahkan Dila dari rumah sakit ini. Di sini tidak bagus. Ayo, kita pindahkan."


"Tenang, Dion," kata Reyhan.

__ADS_1


Dion beranjak dari duduknya, lalu keluar dari ruangan dokter. Reyhan segera menyusul sahabatnya yang pergi menuju bagian administrasi.


"Tunggu, Dion." Reyhan memegang lengan Dion. "Rumah sakit ini sudah yang terbaik. Dokter itu juga."


"Lepaskan! Aku akan bawa dia ke luar negeri. Jika kamu tidak mau menguruskan, biar aku saja."


"Oke, aku akan mengurusnya. Kita bawa mama ke luar negeri," kata Reyhan, "pergilah. Temui mama."


Dion mengangguk, lalu memutar haluan menuju ruang istrinya berada. Reyhan bernapas lega karena Dion menuruti keinginannya. Reyhan kembali lagi menuju ruang dokter. Memindahkan pasien juga perlu persetujuan dari dokter.


"Ann, biarkan kami berdua," kata Dion.


Sekali lagi Anna keluar. Dila sudah tersadar, dan bisa menatap wajah kesedihan dari suaminya. "Apa kata dokter?"


"Tidak ada apa-apa?" jawab Dion.


"Aku sudah tahu, Sayang. Aku tidak ingin di kemoterapi ataupun di operasi."


Dion tersentak, "Kamu baik-baik saja. Kita akan ke luar negeri."


"Aku tahu ada alat-alat canggih yang bisa memperkecil tumor, dan membuat hidupku bertahan untuk beberapa tahun ke depan, tetapi aku-"


"Tetapi apa?! Kamu ingin meninggalkanku begitu?" potong Dion.


"Kamu tega membuatku kesakitan selama itu? Penyakit ini tidak akan sembuh. Dia akan terus menyebar."


Dila selalu menyepelekan sakit kepala yang ia derita. Memang tidak sering kambuh. Jika ia minum obat, maka akan sembuh. Saat usianya bertambah, sakit kepala sering menyerang, dan pada akhirnya penyakit itu mulai mengerogoti. Anna juga sudah menceritakan semuanya atas desakan Dila tadi. Mau tidak mau Anna bicara terus terang.


"Kamu akan sembuh," ucap Dion dengan lirihnya.


"Sayang, kumohon. Untuk saat ini aku hanya ingin bersamamu. Aku tidak ingin di sini. Ayo, bawa aku pulang ke rumah," pinta Dila.


Dion mengeleng, "Tidak! Aku tidak bisa kehilangan kamu."


"Itu artinya kamu rela aku merasakan kesakitan?"


"Sekarang kamu juga sudah sakit. Kita lakukan kemoterapi atau apa pun asalkan bisa membuatmu sembuh," ucap Dion.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2