
Bia menggelengkan kepala saat mendapati ekspresi Danar. Entah mengapa dia menjadi berpikir yang tidak-tidak. Bahkan, Bia tidak menggubris saat Danar memanggilnya beberapa kali.
Bia segera berbelanja barang-barang yang dibutuhkannya. Mulai dari kebutuhan dapur, sampai kebutuhan sehari-harinya. Namun, ketika Bia sedang memilih sayuran, lagi-lagi Danar menghampiri Bia. Dia tampak sudah memilih beberapa barang belanjaan. Hal itu terlihat dari sudah ada banyak barang yang memenuhi trolleynya.
"Eheemmm. Ternyata, selera kamu boleh juga," ucap Danar saat sudah berada di dekat Bia.
Tak mau ambil pusing dengan ucapan Danar, Bia melanjutkan kembali aktivitasnya memilih sayuran. Dia bahkan tidak menanggapi ucapan Danar.
"Tidak sia-sia informasi yang kuberikan kepada Winar kemarin." Danar tampak masih semangat mengajak Bia mengobrol.
Kening Bia berkerut saat mendengar ucapan Danar. Informasi apa? Winar? Winar siapa maksudnya? Apah Winar si wartawan itu? batin Bia.
"Informasi apa maksud kamu?" tanya Bia pada akhirnya. Tak lupa juga Bia melayangkan tatapan menelisik ke arah Danar.
Danar mengulas senyuman tipisnya sebelum menjawab pertanyaan Bia.
"Informasi tentang pacar kamu. Kapan hari itu, kamu sendiri yang bilang jika kamu sudah move on, kan? Dan, kamu juga menunjukkan siapa pacar baru kamu." Danar menjawab sambil masih mengulas senyumannya.
Namun, hal berbeda justru dirasakan oleh Bia. Dia benar-benar terkejut saat mengetahui jika sebenarnya Danar lah orang yang telah menyebarkan berita yang membuatnya terseret skandal dengan seorang Kailash Sky.
"Maksud kamu?" Bia masih mencoba mencari kebenaran ucapan Danar.
"Ya, itu tadi. Pacar yang kamu bilang kemarin pak Sky, kan?" Danar kembali mengingatkan. "Jangan kamu kira aku nggak kenal siapa Kailash Sky. Beliau adalah putra tunggal dari Damian Vinson. Dan, asal kamu tahu saja, aku bekerja di salah satu perusahaan mereka di Australia." Danar melanjutkan.
Lagi-lagi Bia terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Sky? Jadi laki-laki yang kemarin ditunjuknya adalah Sky?
Bia merutuki kebodohannya sendiri. Salahnya juga tidak memperhatikan wajah laki-laki itu. Jika sudah seperti ini, apa yang harus dilakukannya? Mau mengelak pun sudah kepalang tanggung. Lagi pula, jika Bia mengelak, bisa dipastikan Danar akan mengejeknya. Dan, yang lebih parah lagi, Danar pasti akan menyebarkan berita itu ke teman-temannya.
Cckkk. Bia hanya bisa berdecak kesal dalam hati. Otaknya kini tidak bisa diajak kompromi untuk menyelesaikan masalah yang baru saja disadari Bia terjadi karena kebodohannya itu.
Bia masih diam mematung saat Danar menerima panggilan telepon. Beruntung saat itu sepertinya ada hal yang mendesak dan harus Danar kerjakan. Danar terus berbicara dengan lawan bicara di seberang sana sambil berjalan menuju kasir. Ekspresi wajahnya cukup serius saat itu. Dia bahkan tidak berpamitan dengan benar kepada Bia. Danar hanya menoleh dan kemudian mengangguk kepada Bia untuk berpamitan.
Sepeninggal Danar, Bia masih diam mematung. Entah mengapa dia mulai kesal sendiri dengan tindakannya beberapa waktu yang lalu.
"Sial. Jadi gara-gara Danar berita itu viral seperti sekarang ini? Aduuhhh, bagaimana jika berita itu semakin tak terkendali. Pak Sky kan orang terkenal," gumam Bia sambil memukul-mukul kepalanya.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, belanjaan Bia sudah selesai. Dia bergegas pergi ke kasir untuk membayar semua belanjaannya. Setelahnya, Bia langsung pulang ke kontrakan.
Sementara itu di Singapura, Sky yang baru saja selesai meeting, langsung mendapat panggilan telepon dari sahabatnya.
"Hhhmmm?"
"Sky, lo dimana sekarang?" tanya sang sahabat yang tampak tergesa-gesa.
"Di rumah. Kenapa?" Sky menjawab dengan santai.
"Cckkk. Maksud gue rumah yang mana? Jakarta, Bandung, Sydney, atau Singapura?"
"Singapura."
"Bagus. Berarti lo sama Om dan Tante, kan?"
Kening Sky berkerut. Nggak biasanya sahabatnya itu menanyakan keberadaan orang tuanya jika tidak ada hal penting.
"Emang ada apa?" Bukannya menjawab, Sky malah balik bertanya.
Kening Sky berkerut. Dia masih mencoba mencerna ucapan Jero. Ya, Jero, sahabat Sky yang saat itu tengah menghubunginya.
"Jane? Ngapain gue selingkuhin Jane? Emang dia siapa gue?" Sky bersuara.
"Ya, dia ngira lo pacarnya kali. Emang selama ini lo pacaran sama si Jane?" Jero terdengar penasaran.
"Cckkk. Ngaco. Lo kira-kira dong kalau ngomong. Ya kali gue pacaran sama modelan "kutilang dadar" seperti itu." Sky terdengar tak kalah kesal.
"Kutilang dadar?" Jero terdengar bingung setelah mendengar ucapan Sky.
"Hhmm. Kurus tinggi seperti tiang dan dada rata."
"Buseettt. Lengkap bener lo ngabsenin si Jane. Hahahahaha." Jero tertawa terbahak-bahak mendengar penjabaran Sky.
Sedangkan Sky, dia bahkan tidak bereaksi dengan ucapan sang sahabat. Hingga beberapa saat kemudian setelah tawanya selesai, Jero kembali bersuara.
__ADS_1
"Ehemm. Sky, lo yakin nggak nggak ada apa-apa sama si Jane, kan?"
Terdengar dengusan Sky. Dia benar-benar jengah jika masih disangkut pautkan dengan Jane.
"Sudah gue bilang kan kalau gue nggak ada hubungan apa-apa sama si Jane. Lo masih ngeyel tanya mulu." Suara Sky terdengar sedikit tinggi.
Tentu saja hal itu bisa disadari oleh Jero. Dan, hal itu langsung bisa membuat Jero gelagapan.
"Bu-bukan begitu maksud gue, Sky. Gue hanya nggak mau lo dapat masalah nanti jika lo sudah resmi pegang perusahaan di Jakarta. Lagian, lo tau sendiri orang tua Jane ngebet banget sama lo. Mereka benar-benar berniat mendapatkan menantu potensial seperti lo."
"Nggak sudi gue."
"Ya, makanya itu. Lo harus bisa cari cara buat ngehindarin si Jane. Lo tau sendiri tu anak bener-bener nekad."
"Gue nggak takut." Sky terdengar semakin jengah.
"Iya, tau. Gue tau lo nggak takut. Cuma kalau bisa, lo menghindari dia secepat mungkin. Rese nya si Jane itu lho yang buat males, Sky."
Sky memikirkan kembali ucapan Jero. Memang benar apa yang diucapkan Jero. Dulu saat Sky baru lulus kuliah saja, Jane sudah berulah dengan mengaku-ngaku sudah tidur dengannya. Dan bisa dilihat, efeknya benar-benar membuat repot Sky. Waktunya banyak tersita untuk mengurusi masalah itu.
"Hhmmm. Nanti gue pikirin," jawab Sky pada akhirnya.
"Ehm, okay. Eh tapi, gue juga denger gosip lo sudah punya pacar. Kenapa nggak lo manfaatin aja tuh. Bisa kan berita itu untuk mengusir si 'kutilang dadar'." Jero tampak menahan tawa saat mengatakan kutilang dadar.
Lagi-lagi Sky kembali teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu. Dia kembali ingat pertemuannya dengan seorang perempuan yang ternyata sedang digosipkan dengannya. Entah mengapa Sky tiba-tiba mengingat perempuan tersebut.
Lama Sky masih terdiam hingga membuat Jero penasaran dengan apa yang dilakukan sang sahabat.
"Sky, lo masih di sana, kan?"
"Bia. Nabia Ayyara."
"Eh, siapa?"
🌹
__ADS_1
Tbc