Nabia Sky

Nabia Sky
Nabsa 14


__ADS_3

Bia masih linglung saat berjalan menuju lobi untuk mengambil pesanan makan siang Sky. Dia masih terngiang-ngiang dengan ucapan Sky.


Aku tidak akan mempermasalahkan pemberitaan kemarin. Sebagai gantinya, aku akan mengajukan kesepakatan.


Berhubung pemberitaan tentang kita yang sedang menjalin hubungan sedang santer beredar, sekalian saja kita lanjutkan. Aku ingin menjauhkan seseorang agar tidak menggangguku. Sedangkan kamu, juga ingin membuktikan kepada teman-temanmu jika kamu sudah move on. Jadi, kita lanjutkan saja pemberitaan yang sudah beredar.


Sekalian kita berikan bumbu-bumbu penyedap agar pemberitaan tersebut terlihat benar-benar terjadi, bukan hanya gosip semata.


"Kesepakatan apa itu tadi? Mana ada kesepakatan sepihak seperti itu?" Bia masih menggerutu kesal. 


Dia sebenarnya ingin menolak permintaan Sky. Namun, konsekuensi yang harus diterimanya jika menolak kesepakatan Sky, membuat Bia mengurungkan niatnya dan dengan terpaksa menerima kesepakatan itu.


Bagaimana tidak, Sky mengancam akan memperkarakan pemberitaan kemarin dengan tuduhan pencemaran nama baik. Selain itu, Sky juga akan meminta ganti rugi dengan nominal yang tidak main-main. Mau tidak mau, Bia akhirnya menerima kesepakatan yang memaksa tersebut.


Setelah mengambil pesanan makan siang Sky, Bia kembali beranjak menuju ruang kerja Sky. Ketika berada di depan pintu ruang kerja tersebut, Bia bertemu dengan Zidan yang baru saja keluar dari ruangan Sky.


"Baru ambil makan siang pak Sky, Bi?" tanya Zidan saat menatap bungkusan yang ada di tangan Bia.


"Eh, iya, Mas."


"Jangan lupa dipindah di piring, ya. Pak Sky tidak suka makan dari bungkus makanan secara langsung."


"Siap, Mas."


Setelahnya, Zidan langsung berpamitan. Bia juga bergegas memasuki ruangan Sky untuk menyiapkan makan siang. Beruntung Bia sudah cukup tahu tentang makanan kesukaan Sky. Jadi, tidak sulit baginya untuk memesankan makan siang.


Bia meminta ijin untuk makan siang di kantin kantor. Setelah mendapat ijin, Bia langsung bergegas menuju kantin kantor yang diketahuinya berada di lantai lima tersebut. 


Saat memasuki kantin kantor, Bia bisa melihat banyak sekali karyawan yang makan siang di sana. Hal itu cukup berbeda dengan kantor lamanya dulu yang tidak mendapat pengunjung sebanyak ini. 

__ADS_1


Bia segera berjalan memasuki kantin dan menuju ke arah etalase makanan. Kedua bola mata Bia langsung berbinar saat menyadari banyak sekali pilihan menu makanan di sana. Pantas saja kantin kantor ini ramai sekali.


Setelah memilih makanan dan membayarnya, Bia segera mengambil nampan berisi makan siang lengkap dengan minumnya. Dia menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan untuk mencari tempat duduk yang masih tersisa. Namun, sepertinya tidak banyak tempat duduk yang tersisa mengingat banyak sekali karyawan yang makan siang di kantin tersebut.


Bia melihat ada tiga buah kursi kosong yang berada tak jauh dari kasir. Dia hendak beranjak kesana saat mendengar seseorang memanggil namanya. Bia segera menoleh ke arah sumber suara dan melihat Zidan tengah melambaikan tangan ke arahnya untuk memintanya bergabung. Dengan senang hati Bia langsung beranjak menghampiri Zidan.


Beberapa pasang mata langsung menoleh saat melihat Bia melintas di antara mereka. Mereka yang baru pertama kali melihat Bia, cukup merasa heran saat Zidan terlihat akrab dengannya. Tidak biasanya sekretaris Sky tersebut bisa akrab seperti itu dengan karyawan lain. Ya, meskipun Zidan memang cukup ramah.


"Aku tidak tahu jika kamu mau makan siang di sini. Jika tahu, aku pasti akan menunggumu tadi," ucap Zidan saat Bia sudah duduk di depannya.


"Ah, itu. Sebenarnya, aku juga bingung mau makan siang dimana, Mas. Tadi, aku hanya bawa sedikit bekal untuk sarapan. Jadi, aku memutuskan untuk makan siang disini. Sekalian untuk melihat-lihat kantin kantor."


Zidan mengangguk-anggukkan kepala setelah mendengar jawaban Bia.


"Kamu tahu dari mana kantin kantor kita ada di lantai lima?"


"Dari pak Rusdi tadi pagi. Aku sudah dikasih tahu tempat-tempat yang sekiranya aku kunjungi," jawab Bia sambil nyengir kuda.


"Iya, benar."


Setelahnya, obrolan santai pun berlanjut. Bia bersyukur sekali saat mendapat senior sebaik Zidan. Bia sempat berpikir jika dia akan merasa sendirian di kantor barunya itu. Tapi ternyata, kekhawatiran Bia tidak terbukti. Tentu saja hal itu membuat Bia merasa sangat bahagia.


Selesai makan siang, Zidan dan Bia segera beranjak menuju kembali ke tempat kerjanya. Namun, Zidan harus mampir dulu ke lantai tujuh untuk menemui seseorang. Alhasil, Bia melanjutkan sendiri langkah kakinya menuju ruangan Sky.


Bia segera mengetuk pintu ruangan Sky ketika sudah berada di depannya. Setelah mendapatkan ijin, dia segera membuka pintu dan memasukinya. Kening Bia berkerut saat sudah ada dua orang tamu di sana. Dan, tentu saja salah satunya cukup dikenal oleh Bia. Dia adalah mantan atasan Bia di kantor lamanya dulu, Bastian.


"Waahhh, ini pacar yang kamu sembunyikan itu, Sky?" ucap sebuah suara hingga membuat Bia terkejut.


Bugh.

__ADS_1


Sebuah pukulan bantal sofa mendarat di belakang kepala laki-laki yang baru saja bersuara.


"Dasar jeroan. Mulut lo dijaga kalau ngomong," ucap Sky dengan ekspresi kesalnya.


"Cckkk. Gue kan cuma ngomong berdasarkan gosip yang beredar, Sky. Kalau nggak benar, ya tinggal ngomong aja, sih. Ngapain pukul-pukul, ih," ucap Jero, sahabat Sky.


Bastian yang melihat perdebatan antara Jero dan Sky, hanya bisa menggelengkan kepala. Dia sudah cukup hafal dengan interaksi keduanya itu. Setelahnya, Bastian menoleh ke arah Bia yang masih berdiri tak jauh darinya.


"Nabia?" tanya Bastian sambil masih menatap Bia.


"Eh, iya Pak. Panggil Bia saja." Bia menunduk tak berani menatap ke arah tiga orang yang ada di depannya itu.


"Baik." Bastian mengangguk paham. "Bia, kamu tahu alasan mengapa kamu di tarik di kantor Sky, kan?" tanya Bastian.


Bia melirik sekilas ke arah Sky kemudian mengangguk. "I-iya, Pak."


"Bagus." Bastian mengangguk-anggukkan kepala. "Berarti, kami tidak perlu repot-repot menurunkan pemberitaan yang sudah beredar akhir-akhir ini. Bukan begitu, Sky?" Bastian menoleh ke arah Sky.


"Hhmmm."


"Okay. Berarti Bia sudah tahu apa yang harus kamu lakukan nanti malam, kan?" Tanya Bastian sambil menoleh ke arah Bia. Jangan lupakan senyumannya yang menawan langsung tersungging di bibir Bastian. 


Bia sampai membulatkan kedua bola matanya saat melihat senyuman Bastian. Pantas saja banyak sekali perempuan yang terpesona dengan Bastian. Ternyata, Bastian memiliki senyuman manis yang benar-benar membuat lawan jenis klepek-klepek. Tak heran Bastian bisa dengan mudah mendapatkan pacar seperti berganti baju pagi, siang, sore, dan malam.


Namun, tak berapa lama Bia langsung sadar dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Bastian. Mendadak Bia langsung panik dan refleks menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Na-nanti malam? Me-memangnya saya harus ngapain, Pak? Ti-tidak menemani tidur, kan?"


"Hhaaa?"

__ADS_1


🌹


Tbc


__ADS_2