Nabia Sky

Nabia Sky
Nabsa 9


__ADS_3

Mau tidak mau, Sky terpaksa mengikuti perintah sang mommy untuk sarapan pagi itu. Setelah mencuci muka, Sky langsung beranjak menuju ruang makan. Wajah bantalnya masih jelas terlihat meskipun Sky sudah cuci muka.


"Daddy kemana, Mom?" tanya Sky saat menunggu mommy mengambilkan sarapan untuknya.


"Kerja, lah. Kamu kira ini jam berapa daddy kamu belum berangkat kerja?" Mommy masih mencebikkan bibir ke arah Sky.


Sky menoleh ke arah jam dinding di ruang makan tersebut. Terlibat jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.12 pagi. Pantas saja daddy nya sudah berangkat.


"Kamu itu harus berapa kali mommy bilang untuk tidak telat makan. Baru juga sembuh dan nggak kambuh-kambuh lagi penyakit maag kamu itu, sekarang mau cari penyakit lagi." Mommy sudah mulai kuliah pagi.


"Iya, iya, Mom. Ini juga sudah mau sarapan, kan." Sky membela diri.


"Iya, karena dibangunin. Coba kalau mommy nggak ada, pasti kamu akan melewatkan jam sarapan."


Sky menulikan telinganya. Dia sudah sangat kenyang dengan segala rentetan omelan mommy nya itu. Mommy Sky pasti akan mengomel jika ucapannya tidak didengar oleh suami maupun putra semata wayangnya. Meskipun para laki-laki tersebut terlihat bosan, namun tidak ada satupun diantara mereka yang berani membantah atau melawan ucapan mommy. 


Mommy masih menunggui Sky sarapan sambil sesekali mengomentari apa yang selama ini dilakukan Sky ketika berada jauh darinya. Ya, Sky memang lebih banyak berada di Singapura dan Australia. Sementara kedua orang tua Sky, lebih banyak berada di Jakarta dan sesekali ke Singapura. Jadi, bisa dipastikan pertemuan mereka hanya terjadi setiap satu minggu atau dua minggu sekali.


Setelah menyelesaikan sarapan, Sky langsung meneguk air minumnya hingga tandas. Dia mengusap bibirnya dan hendak beranjak kembali menuju kamar. Maksud hati ingin melanjutkan tidur, namun niatnya itu terhalang ketika mommy menahannya.


"Tunggu, Sky. Jangan langsung tidur. Biarkan makananmu tercerna dengan baik," ucap mommy menahan Sky agar tidak beranjak dari kursinya.


Mau tidak mau, Sky menuruti keinginan sang mommy. Dia mengurungkan niatnya untuk melanjutkan tidur dan tetap berada di ruang makan sementara mommy membereskan meja makan.


"Ada yang mau mommy bicarakan," ucap mommy setelah menyelesaikan aktivitasnya.


"Ada apa?" Sky masih belum bisa menebak kemana arah pembicaraan mommy nya itu.


"Mengenai berita kemarin, apa benar perempuan yang diberitakan itu pacar kamu?" 


Sky mengerutkan kening bingung. Tidak biasanya mommy nya itu peduli dengan gosip yang beredar. 


"Mommy tumben-tumbenan peduliin gosip seperti itu. Biasanya juga masa bodo, lah," jawab Sky sambil menggelengkan kepala.


"Cckkk. Jika bukan hal seperti ini, mungkin mommy tidak akan ambil pusing, Sky. Tapi, kali ini lain. Gosip tentang kamu dengan perempuan yang belum mommy kenal. Jika sebelum-sebelumnya mommy sudah tahu siapa perempuan yang digosipkan denganmu, tapi yang sekarang beda. Mommy belum kenal siapa perempuan itu, Sky."


"Jangankan mommy, aku saja nggak kenal siapa perempuan itu, Mom."


"Eh, kok bisa?" Mommy langsung terkejut mendengar ucapan sang putra.

__ADS_1


"Ya bisa, Mom. Orang kami saja belum pernah bertemu."


"Terus, kok bisa kamu digosipin sama dia, Sky? Nggak mungkin ada asap jika tidak ada apinya, kan?" Mommy masih mengejar Sky untuk jujur.


"Asap apa sih, Mom. Sudah kubilang aku nggak kenal perempuan itu." Sky masih kekeh membela diri. 


Namun, sepertinya apa yang diucapkan Sky tidak serta merta dipercaya oleh mommy nya. Hal itu terlihat dari ekspresi penasaran mommy yang ditunjukkan dengan kerutan di keningnya.


"Kamu yakin, Sky? Kamu nggak sedang sembunyikan apa-apa sama mommy, kan?"


"Astaga, Mom. Mana ada aku sembunyiin sesuatu. Lagian, apa yang bisa aku sembunyikan dari mommy dan daddy?" Sky mendengus kesal. Pasalnya, entah mengapa kedua orang tuanya itu selalu tahu tentang hal-hal yang memang sengaja disembunyikan oleh Sky.


Mommy mencebikkan bibir. Dia memutar kedua bola matanya untuk menunjukkan sikap kesal terhadap sang putra.


"Sebenarnya, kalaupun kamu ada apa-apa dengan perempuan itu, mommy juga setuju. Dia sepertinya perempuan yang nggak suka aneh-aneh seperti Jane atau Sikka. Kalau mommy boleh minta, kamu pepet saja perempuan itu, Sky. Siapa tahu jodoh, kan?"


Sky langsung mendengus kesal setelah mendengar ucapan mommy nya itu.


"Pepet, pepet apaan sih, Mom. Jangan suka aneh-aneh, deh." Sky menggerutu kesal sambil beranjak dari duduknya. Dia berniat kembali melanjutkan tidurnya yang tertunda.


"Cckkk. Aneh apa sih, Sky. Mommy kan juga mau seperti ibu sahabat-sahabat kamu yang suka riweh ngurusin pacar anak-anaknya," jawab mommy.


"Mommy mau seperti tante Farah dan tante Andini yang pusing tujuh keliling mikirin kelakuan Bas dan Jero yang playboy naudzubillah itu?"


Mommy mencebikkan bibir kesal sambil mendelik ke arah Sky.


"Ya, nggak sampai begitu juga Sky. Awas saja kamu ikut-ikutan mereka permainin perasaan cewek-cewek. Dikira perasaan cewek itu seperti squishy apa jika terluka bisa kembali baik-baik saja seperti semula."


Sky hanya bisa menggelengkan kepala. Dia tidak mau berdebat lagi dengan sang mommy. Sky lebih memilih melanjutkan langkah kakinya menuju kamar. Tidurnya yang masih kurang, sudah meronta-ronta ingin segera dipenuhi.


Sementara itu di Jakarta, Bia yang baru saja tiba di kantor langsung diberondong berbagai pertanyaan dari rekan-rekan divisinya. Mau tidak mau, Bia terpaksa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Beruntung semua rekannya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bia.


"Tapi Bi, lo tahu kan jika perusahaan ini berada di bawah pimpinan pak Bastian Hadi?" tanya Lukman yang saat itu masih berdiri di dekat kursi Bia. Entah mengapa dia masih saja kepo meski sudah mendapat penjelasan dari Bia.


"Iya, tau. Memang ada apa?" Bia langsung balik bertanya.


Lukman menghela napas dalam-dalam sebelum menjelaskan apa yang diketahuinya kepada Bia.


"Pak Bas dan Pak Sky kan sahabatan. Mereka sudah bersahabat sejak di bangku sekolah dulu. Apa lo nggak khawatir jika berita ini sampai ke telinga pak Bastian dan lo bakal dimintai keterangan?" 

__ADS_1


Seketika kening Bia berkerut mendengar ucapan Lukman.


"Memang apa hubungannya masalah ini sama pak Bas? Ya kali pak Bas ngurusin gosip beginian, Lux."


"Eh, jangan salah. Pak Bas itu, meskipun pemimpin perusahaan, beliau juga punya banyak sekali skandal berita. Emang lo nggak pernah dengar?" Lukman berbicara lirih.


"Ya, tau juga, sih. Tapi maksudku, mana mungkin pak Bas ngurusin urusan yang bukan jadi urusannya? Ih, sudah sana. Kerjaan gue masih banyak, nih." Bia segera mengusir Lukman agar segera kembali ke mejanya.


Mau tidak mau, Lukman segera kembali ke meja kerjanya. Setelah itu, aktivitas pekerjaan kembali seperti semula.


Hingga jam kerja sudah selesai, Bia dan rekan-rekan kerjanya bergegas untuk pulang. Bia langsung berjalan menuju tempat parkir mobilnya. Dia bukannya tidak mendengar desas desus yang membicarakannya terkait gosip yang saat ini sedang beredar.


Namun, Bia tidak terlalu ambil pusing. Menurutnya, jika gosip itu tidak benar, dia tidak perlu repot-repot mengklarifikasinya.


Bia memutuskan mampir belanja bahan kebutuhan dapur setelah pulang kerja. Kemarin, dia sudah sibuk dengan pekerjaan hingga lupa belanja. Bia berhenti di sebuah minimarket yang berada tak jauh dari lokasi kantornya.


Dan, entah kebetulan atau bukan, Bia bertemu kembali dengan sang mantan, Danar.


"Lho, ketemu lagi kita, Bi," ucap Danar sambil mengulas senyuman.


Bia yang saat itu baru saja mengambil trolley belanjaan, langsung menoleh ke arah sumber suara. Tentu saja saat itu dia juga terkejut setelah mendengar suara Danar.


"Eh, kenapa bisa ketemu lagi?" Bia hanya bisa mengumpat dalam hati.


Danar masih mengulas senyuman sambil berjalan menjajari Bia.


"Ya, namanya juga jodoh. Mana bisa menolak, kan?"


"Cckkk. Jodoh apaan. Nggak ingat istri di rumah?" ucap Bia kesal. Ya, Danar memang sudah menikah sejak sekitar dua tahun yang lalu.


"Ya ingat, dong. Tapi, bukan berarti diingat-ingat terus yang di rumah." Danar mencoba mengakrabkan diri.


Bia menoleh sambil mendelik tajam ke arah Danar.


"Ya harus di ingat terus, dong. Bagaimana, sih? Bisa-bisa kalau nggak ingat istri di rumah, suami pasti gampang sekali selingkuh," ucap Bia sambil menatap tajam ke arah Danar.


"Eh, a-aku nggak selingkuh, kok," jawab Danar sambil menggelengkan kepala dengan cepat. Entah mengapa dia mendadak gugup.


🌹

__ADS_1


Tbc


__ADS_2