
Begitu memasuki kamar, Bia langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kamar tersebut. Dia cukup takjub dengan desain kamar hotel yang baru pertama kali dikunjunginya itu. Sepertinya, kamar di hotel ini memang dikhususkan untuk orang-orang tertentu.
"Ini, seperti bukan kamar hotel," gumam Bia yang masih betah berdiri di depan pintu kamar hotel tersebut. Bahkan, dia masih belum beranjak dari posisinya setelah memasuki kamar tadi.
Sky yang mendengar ucapan Bia pun menoleh sekilas sebelum kembali melanjutkan niatnya untuk membuka lemari pendingin yang ada di dekat dapur.
"Memang. Kamar ini memang khusus untukku, mommy dan daddy." Sky menjawab sambil menuangkan air putih ke dalam gelas.
"Hah? Serius, Pak?" Bia yang terkejut langsung membulatkan kedua bola matanya. Tak lupa juga Bia bergegas berjalan menghampiri Sky yang masih berada di dekat mini bar dapur.
"Serius, lah. Hotel ini memang bukan punya keluarga kami. Tapi, kami punya saham lebih dari setengah di sini. Hotel ini milik salah satu teman daddy." Sky menjelaskan setelah menenggak air minumnya.
__ADS_1
Bia mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Pantas saja jika dia merasa jika kamar di hotel ini mirip dengan apartemen.
"Lalu, aku harus tidur dimana, Pak?" tanya Bia.
"Itu. Kamu bisa tidur di kamar yang biasa dipakai mommy jika ke sini. Tapi kamu tenang saja. Mommy nggak sering ke sini. Paling hanya beberapa kali saja. Lagipula, kamarnya selalu dibersihkan."
Inginnya Bia menolak usul Sky tersebut. Dia merasa tidak nyaman jika harus tidur di kamar orang tua Sky. Namun, Bia juga tidak mungkin memesan kamar lagi. Akhirnya, mau tidak mau Bia berjalan menuju kamar yang ditunjukkan oleh Sky.
Belum sempat Bia sampai di depan pintu kamar, terdengar suara ketukan pintu. Bia segera berjalan untuk membukakan pintu tersebut. Ternyata, pesanan pakaian mereka sudah datang. Bia segera mengucapkan terima kasih dan membawa baju-baju tersebut kembali ke dalam kamar.
"Hhmmm."
__ADS_1
Bia hanya bisa mencebik sambil berbalik menuju kamar yang akan ditempatinya. Sebelum tidur, Bia membersihkan diri dan mulai melakukan ritual perawatan malamnya. Dia sama sekali tidak melihat ponsel sejak kedatangannya ke hotel.
Baru saat sudah rebahan di balik selimut, Bia mulai memeriksa ponselnya. Keningnya berkerut saat melihat rentetan pesan yang dikirimkan oleh Jihan, sang sahabat.
Bia langsung membuka pesan-pesan tersebut. Kedua bola matanya langsung membulat saat membaca kabar yang baru saja disampaikan oleh Jihan. Jihan memberitahu jika keluarganya tahu tentang 'kelainan' yang dialami oleh sang suami. Alhasil, keluarga Jihan langsung meminta Jihan menggugat cerai suaminya.
Bia yang cukup penasaran, langsung menekan gambar telepon untuk mengkonfirmasi cerita Jihan. Namun, panggilannya beberapa kali tidak terhubung ke nomor Jihan. Sepertinya, ponsel sahabatnya itu sedang tidak aktif. Bia memutuskan untuk menghubungi Jihan esok hari.
Karena sudah cukup malam, Bia memutuskan untuk beristirahat. Dia butuh tenaga yang cukup untuk aktivitas esok hari. Bia juga sudah sempat memeriksa email yang dikirimkan oleh Zidan terkait pekerjaannya esok hari. Jadi, Bia bisa sedikit lebih tenang.
Keesokan pagi, Bia dan Sky sarapan di dalam kamar. Rupanya, Sky sudah memesan sarapan lengkap dengan kopi untuknya. Bia cukup bersyukur karena mereka tidak harus terburu-buru sarapan di restoran hotel. Bia bangun agak kesiangan pagi itu.
__ADS_1
Menjelang pukul sembilan, Bia dan Sky sudah berangkat ke kantor klien mereka. Dengan menggunakan mobil yang biasa Sky pakai ketika sedang berada di Surabaya, keduanya meluncur menuju alamat yang sudah dihafal oleh Sky. Bia hanya bisa mengikuti kemana atasannya itu pergi.
Tak sampai tiga puluh menit kemudian, mobil yang dikemudikan Sky sudah berhenti di area parkir khusus. Bia dan Sky langsung turun dan bergegas menuju lobi. Namun, langkah kami keduanya terhenti saat mendengar seseorang memanggil Bia.