
Sky masih misuh-misuh tidak jelas meski panggilan telepon Bastian sudah dimatikan. Entah mengapa dia selalu saja mudah emosi jika digoda Bastian seperti itu.
Bia yang melihat Sky sudah cukup kesal, mengurungkan niatnya untuk kembali bertanya. Dia menunggu jika suasana hati Sky sudah lebih membaik. Namun, hal itu ternyata tidak berubah sampai mobil yang membawa mereka tiba di sebuah bangunan yang cukup mewah.
Bia bahkan harus mengerjap-ngerjapkan kedua matanya saat memastikan penglihatannya benar. Saking terkejutnya, bahkan Bia tidak menyadari jika Sky sudah lebih dulu turun dari mobil. Bia baru tersadar saat sang supir membukakan pintu untuknya. Setelah itu, Bia buru-buru turun setelah mengucapkan terima kasih.
"Ayo," ucap Sky saat sudah berada di samping Bia.
Bia yang masih cukup terkejut pun langsung buru-buru mengekori langkah kaki Sky.
"Pak, ini kita beneran mau masuk ke sini?" tanya Bia mencoba memastikan.
"Hhmmm."
"Seriusan, Pak? Waahh, mimpi apa saya semalam bisa masuk ke Kim's Palace," ucap Bia dengan ekspresi antusias.
__ADS_1
Bagaimana tidak, Bia sudah cukup mengenal brand dan product dari Kim's Palace tidak main-main dengan kualitas maupun harganya. Untuk product kecantikan, Kim's Palace bisa bersaing dengan product terkenal lainnya. Apalagi, dengan product fashionnya yang juga sudah mulai banyak dikenal oleh masyarakat di Indonesia.
Dengan penuh semangat, Bia mengekori langkah kaki Sky yang langsung menuju sebuah ruangan yang ada di lantai dua. Bahkan, Bia sempat heran jika ternyata beberapa karyawan di sana mengenal Sky.
"Rose ada?" tanya Sky kepada seseorang yang tengah duduk di depan komputer.
Seketika perempuan tersebut mendongakkan kepala dan langsung memasang ekspresi terkejut begitu melihat Sky ada di depannya.
"Eh, tuan Sky. Maaf saya tidak tahu jika anda akan datang hari ini. Mari, silahkan masuk. Nona ada di dalam," ucap perempuan bername tag Wina itu dengan terburu-buru.
Wina berhenti di depan sebuah pintu berwarna baby blue dengan lapisan kaca buram di tengahnya. Dia mengetuk bagian tepi pintu itu untuk meminta izin masuk. Terdengar suara dari dalam ruang itu, dan Wina pun segera membuka pintu untuk Sky dan Bia.
"Silahkan, Tuan." Wina mempersilahkan Sky dan Bia untuk memasuki ruangan tersebut.
Sky mengangguk dan menoleh ke arah Bia untuk mengikutinya masuk. Bia juga sempat mengucapkan terima kasih kepada Wina sebelum mengekori Sky memasuki ruangan tersebut.
__ADS_1
Begitu sudah berada di dalam ruangan, kedua bola mata Bia langsung membulat begitu melihat seseorang yang sedang berjalan ke arah mereka dengan ekspresi bahagianya itu.
"Sky, is that, yey? Ahhh, seneng banget eike. Akhirnya yey bisa datang ke sindang juga. Capek tau eike yang harus nyamperin yey ke Jakarta," ucap perempuan, eh, laki-laki, ah entahlah.
Bia masih melongo saat melihat Sky langsung beringsut menghindar dari sentuhan Rose, laki-laki atau perempuan itu. Tentu saja tindakan Sky tersebut membuat Rose merengut kesal.
"Cckkk, Sky. Kenapa sih yey selalu menghindar. Eike jadi merasa seperti kuman. Jahara deh, yey!" Ucap Rose sambil mengerucutkan bibir kesal.
"Jangan pegang-pegang. Gue geli, Ros. Cckkk, kenapa jika panggil nama lo gue jadi merinding begini sih." Sky masih bergidik di dekat Bia.
"Emang kenapa sih? Rose kan memang nama eike," jawab Rose dengan ekspresi yang sudah berubah senang. Jangan lupakan gerakan tangannya yang sedang mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.
"Ya, ya, ya. Serah lo deh, Rosandi."
"Vangsat. Masih aja lo panggil nama asli gue, Sky!" Teriak Rose dengan suara aslinya.
__ADS_1
Sabar, gantian ya upnya. 🤗