Nabia Sky

Nabia Sky
Nabsa 12


__ADS_3

Selama dua hari ini, Bia tengah disibukkan untuk mengurusi kepindahannya ke Vinson Group. Awalnya, Bia menolak rencana kepindahan tersebut. Namun, setelah mengetahui gaji yang diberikan setara tiga kali lipat dari gaji yang diberikan perusahaannya, mau tidak mau Bia langsung tertarik.


Tidak munafik jika memang Bia tergiur dengan jumlah gaji yang ditawarkan. Bia memang dipindahkan ke perusahaan yang memang masih ada hubungannya dengan perusahaan lamanya. Hal seperti itu memang pernah beberapa kali terjadi untuk posisi-posisi yang strategis dan saling menguntungkan kedua perusahaan.


Namun, entah mengapa kali ini Bia yang hanya seorang staf menjadi ikut terjaring. Bu Sonia sendiri pun tidak mengetahui alasan sebenarnya dengan pasti. Beliau hanya mengikuti keputusan perusahaan.


Hari itu, Bia mengadakan perpisahan kecil-kecilan dengan teman-teman divisinya. Sebenarnya, Bia ingin mengajak makan-makan mereka semua. Namun, hal itu tidak bisa direalisasikan karena banyaknya pekerjaan yang sudah menanti. Apalagi, pekerjaan yang semula dipegang oleh Bia, harus dilimpahkan ke mereka. Mau tidak mau, mereka harus bekerja lebih giat lagi.


Tidak ada waktu beristirahat bagi Bia. Dia sudah harus bekerja di perusahaan barunya setelah selesai keluar dari perusahaan lamanya. Bahkan, Bia sudah mendapatkan email tentang apa yang harus dilakukannya ketika mulai bekerja esok hari.


"Cckkk. Ini kenapa banyak sekali aturan yang boleh dan tidak boleh dilakukan, sih?" Bia membaca peraturan yang sudah dicetaknya tersebut. "Dan, ini apa lagi. Kenapa harus di hafalkan juga?" Bia masih sibuk membolak balik beberapa lembaran kertas tersebut.


Secara garis besar, peraturan di kantor baru dan kantor lamanya hampir sama. Hanya ada beberapa hal tambahan yang membuat Bia sedikit heran. Pasalnya, ada hal yang harus diperhatikan Bia yaitu, alergi makanan. Bia masih berpikir mengapa dia harus mengetahui makanan-makanan yang membuat alergi tersebut.


Bia yang memang masih belum mengetahui posisinya di kantor baru, hanya bisa menebak-nebak. Bu Sonia juga masih belum memberitahu posisi baru Bia di kantor barunya nanti. Meskipun  begitu, Bia tetap yakin jika kantor barunya nanti akan sama nyamannya dengan kantor lamanya.


Tak terasa pagi sudah menjelang. Bia yang pagi ini bangun lebih pagi dari biasanya, segera membuat sarapan sederhana. Sandwich dengan potongan buah apel dan jeruk menjadi pilihan untuk bekalnya pagi itu.


Bia sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya. Hal ini dilakukan sekalian untuk beradaptasi dengan kantor barunya.


Jarak kantor baru Bia memang lebih jauh kantor lamanya. Dan, tentu saja berbeda arah. Namun, beruntung Bia berangkat lebih pagi sehingga tidak terjebak macet.


"Akhirnya sampai juga," gumam Bia setelah memarkirkan kendaraannya. "Ehm, setelah ini ke pak Rusdi bagian HRD," lanjut Bia sambil menatap sepucuk surat yang diberikan oleh bu Sonia kemarin.


Tak sulit bagi Bia untuk menemui pak Rusdi. Bia segera diantar oleh petugas security untuk menuju ruangan pak Rusdi.


"Mbak Bia tunggu dulu di sini, ya. Pak Rusdi biasanya datang sekitar lima belas menit lagi," ucap pak Aslan, security yang mengantarkan Bia tadi.


"Baik, Pak. Terima kasih bantuannya," jawab Bia sambil mengulas senyuman.

__ADS_1


Setelahnya, pak Aslan segera berpamitan. Sementara Bia, langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan yang ada di dekat ruang HRD tersebut. Bia cukup takjub dengan desain ruangan di kantor barunya itu.


Pencahayaan yang sangat bagus, ditambah dengan tanaman asli yang ada di beberapa titik di ruang terbuka tersebut. Ada juga beberapa tempat duduk untuk sekedar bersantai di balkon lantai tiga itu.


"Hhmmm, desain interior bangunan ini benar-benar bagus. Sepertinya, gue bisa nyaman nih di kantor ini," gumam Bia sambil masih menyusuri ruangan terbuka dan masih terlihat sepi itu. Maklum, jarum jam masih menunjukkan pukul tujuh lewat sedikit.


Hingga tak sampai sepuluh menit kemudian, Bia mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Bia yang saat itu tengah duduk di dekat jendela lebar, langsung mengalihkan tatapannya dari ponsel yang sejak tadi ditekuninya itu.


Bia segera menyimpan ponselnya, dan berdiri saat laki-laki yang baru saja datang tersebut sudah berada tak jauh darinya.


"Mbak Bia?" tanya laki-laki yang baru saja datang tersebut.


"Benar, Pak." Bia mengulas senyuman dan mengangguk mengiyakan. "Anda pak Rusdi?" Lanjut Bia.


"Benar sekali. Senang bertemu dengan anda akhirnya," ucap pak Rusdi sambil mengulurkan tangan ke arah Bia.


"Senang bertemu dengan anda juga, Pak."


"Silahkan duduk, Mbak." Pak Rusdi mempersilahkan Bia duduk.


"Terima kasih, Pak."


Bia menarik kursi yang ada di depan meja pak Rusdi dan duduk menghadap laki-laki tersebut. Setelah berbasa-basi sedikit, pak Rusdi mulai menjelaskan posisi Bia di kantor barunya itu.


"Begini mbak Bia, sebelum saya menjelaskan posisi mbak Bia di kantor ini, saya akan menanyakan apakah mbak Bia benar-benar sudah yakin mau bekerja di kantor ini?" tanya pak Rusdi.


Bia menganggukkan kepala dengan yakin. Saat itu, Bia masih berpikir jika posisi di kantor barunya itu tidak jauh berbeda dengan posisinya di kantor yang lama.


"Iya, Pak. Saya yakin."

__ADS_1


Pak Rusdi menganggukkan kepala. Setelahnya, pak Rusdi baru mulai menjelaskan posisi Bia di kantor tersebut.


"Mbak Bia di kantor sebelumya berada di divisi pemasaran, kan? Jadi, sudah biasa menghadapi klien dengan segala karakteristiknya," ucap pak Rusdi. Bia hanya menganggukkan kepala mengiyakan.


"Nah, untuk itu, kami sudah tidak khawatir lagi mbak Bia akan mengalami kesulitan di kantor ini jika menemui karakter orang yang suka berubah-ubah." Lanjut pak Rusdi sambil masih menyunggingkan senyuman.


Kening Bia berkerut mendengar ucapan pak Rusdi. Dia mulai berpikir yang tidak-tidak tentang posisinya di kantor barunya ini.


"Maksud Bapak bagaimana, ya? Saya akan bekerja dengan orang-orang dengan karakter berbeda begitu, kan?" Bia mencoba menegaskan.


Pak Rusdi menggelengkan kepala sambil masih mengulas senyum


"Bukan orang-orang, Mbak. Mbak Bia hanya harus banyak berinteraksi dengan satu orang dengan mood yang cenderung berubah-ubah. Mbak Bia akan menjadi asisten pribadi Pak Kailash Sky nantinya."


"Apa?!"


***


Sementara di sebuah penthouse, tampak seorang laki-laki tengah bersiap untuk berangkat ke kantor. Dia sedang berada di walk in closet saat sebuah panggilan telepon terdengar.


Laki-laki tersebut langsung menoleh dan menatap nama penelepon yang tertera pada layar ponselnya. Setelah mengetahui identitas penelepon, panggilan telepon tersebut langsung diangkat.


"Hhhmmm?"


"Sky, permintaan lo sudah gue turuti. Bia sudah pindah ke kantor lo dan jadi asisten pribadi lo."


"Thanks."


🌹

__ADS_1


Tbc


__ADS_2