Nabia Sky

Nabia Sky
Nabsa 22


__ADS_3

Bia dan Sky langsung menoleh ke arah pintu. Bia mendadak merasa was-was ketika melihat siapa pelaku yang telah membuka pintu tersebut dengan kasar. Sementara hal berbeda justru ditunjukkan oleh Sky. Dia menatap dengan malas orang tersebut.


"Apa-apaan sih kamu, Jane? Punya sopan santun kan?" ucap Sky dengan ekspresi datar.


"Sopan santun? Masih perlu sopan santun disini, hah?" jawab Jane dengan geram. Dia menatap ke arah Sky dan Bia dengan tatapan membunuh. Ya, Jane lah yang baru saja membuka pintu ruangan Sky dengan kasar.


"Tentu saja. Dimanapun tempatnya, sopan santun harus dijaga, Jane. Jangan seperti biinatang bar-bar yang tidak punya etika sopan santun." Sky menjawab dengan nada suara datar, tapi menunjukkan ekspresi wajah kesal.


"Cukup, Sky! Aku kesini bukan untuk belajar sopan santun." Jane melempar sebuah majalah tepat di depan Sky. 


Brukk.


Sky dan Bia sama-sama bisa melihat cover majalah yang baru saja di bawa oleh Jane tersebut. Majalah bisnis terbaru yang memberitakan tentang hubungan Sky dan Bia. Dan, disana juga disinggung tentang Jane beserta keluarganya yang selalu menempel dengan keluarga Sky.


Jane dan keluarganya tidak terima karena merasa direndahkan. Padahal, mereka sudah cukup bangga karena merasa sudah membantu keluarga Sky hingga seperti saat ini.


"Apa maksud berita itu, Sky?" tanya Jane dengan ekspresi yang masih terlihat marah.

__ADS_1


"Berita? Berita yang mana?" 


"Jangan berbelit-belit. Aku yakin ini semua ulah kamu dan teman-temanmu, kan? Ada artikel yang membahas tentang keluargaku. Kamu mau menyangkal hal itu, hah?!" Jane benar-benar kesal.


"Emang berita apa, sih? Mana tau aku berita yang nggak penting seperti ini," jawab Sky sambil mendorong majalah itu menjauh. Dia menoleh ke arah Bia. "Kamu tau, Sayang?" lanjut Sky.


Bia yang mendapat pertanyaan dadakan dari Sky tersebut hanya bisa menggelengkan kepala dengan cepat. Dia sendiri bingung harus berbuat apa.


Jane yang melihat respon Sky begitu santai, merasa semakin kesal. Apalagi, ada Bia di sana. Jane sama sekali tidak tahu jika Bia bekerja di tempat Sky.


"Nggak usah sok polos ngaku-ngaku nggak tau apa-apa, Sky! Aku tau ini semua akal-akalan kalian. Ingat, karena berita ini reputasi keluargaku jadi buruk. Kalian akan menerima akibatnya!" Jane berteriak sambil meraih majalah yang baru saja dibawanya dan pergi dari ruangan Sky masih dengan omelan tiada akhir.


Sky langsung mengambil ponselnya dan segera menghubungi Bastian. Tak butuh waktu lama panggilan suara Sky tersebut langsung diterima oleh Bastian.


"Hallo, Sky. Tumben lo telepon pagi-pagi begini. Ada apa?" tanya Bastian begitu panggilan telepon tersebut sudah tersambung.


"Jane baru dari kantor gue. Dia marah-marah sambil bawa majalah. Lo lakuin sesuatu?" 

__ADS_1


"Oh, itu. Iya."


"Cckkk. Apalagi yang lo lakuin? Bikin hidup gue tambah runyam."


"Tenang saja. Gue cuma menyinggung sedikit keluarga Jane. Lebih tepatnya sih, ayahnya."


Kening Sky berkerut saat Bastian menyebutkan ayah Jane.


"Lo bawa-bawa kasus penyuapan pajak itu?" tanya Sky penasaran.


"Ho oh. Dan parahnya lagi, ternyata perusahaan tempatnya bekerja sama sekali nggak tahu menahu tentang hal itu. Jadi, sekali melempar umpan, bisa dong gue dapet double strike. Hahaha." Terdengar suara kekehan tawa dari seberang sana.


"Cckkk. Lo dapat dari mana buktinya?"


"Gampang sih, untuk bukti. Yang penting, lo kali ini bisa tenang dulu dari si Jane. Ada hal lebih penting yang harus lo hadapi setelah ini," ucap Bastian dengan suara terdengar lebih serius.


"Maksud lo?"

__ADS_1


🌹


Tbc


__ADS_2