
Suara gelak tawa langsung terdengar beberapa saat setelah ucapan Bia. Bastian dan Jero adalah pelaku utama tawa tersebut. Suara tawa keduanya bahkan langsung menggema di ruangan Sky tersebut. Sementara si pemilik ruangan, hanya bisa mendengus kesal sambil mencebikkan bibir.
"Sky, asisten lo kenapa bisa polos begini, sih? Pas banget sama lo yang juga masih polos begini. Hahaha." Jero masih tergelak sambil memukul-mukul bahu Sky.
"Si alaan! Gue nggak polos, ya." Sky langsung protes.
Mendengar protesan Sky, kedua sahabatnya itu kembali tergelak. Mereka benar-benar puas menistakan sang sahabat jika menyangkut urusan beginian.
"Cckkk. Masih mengelak nggak mau dibilang polos. Padahal, saat lulus kuliah S2, lo masih nggak tau bagaimana cara pasang kon dom. Dipasang saat masih jadi ucet, atau saat sudah jadi naga. Hahaha."
Kedua bola mata Sky langsung membulat saat mendengar ledekan Jero. Entah mengapa Sky mendadak malu ejekan tersebut didengar oleh Bia. Dia melirik ke arah sang asisten yang ternyata masih tidak berpindah dari posisinya.
"Vangkee! Lo bisa nggak sih hapus itu dari ingatan lo!" Sky langsung meninggikan suaranya.
Bukannya takut, Jero justru semakin tergelak.
"Mana mungkin kami bisa lupa, Sky. Kalau ingat wajah polos lo waktu itu saja gue masih suka ketawa sendiri. Hahaha."
Sky masih misuh-misuh tidak jelas setelah berhasil digoda oleh kedua sahabatnya. Sementara itu, Bastian yang juga masih tertawa, segera berusaha menghentikan tawanya. Dia menoleh ke arah Bia yang masih tak bergeming di posisinya tadi sambil mendengarkan obrolan ketiga orang laki-laki tersebut.
"Apa yang kamu pikirkan sebenarnya, Bi? Sini, duduk dulu. Aku akan menjelaskan sesuatu. Sepertinya, Sky belum ngomong apa-apa sama kamu." Bastian melakukan gerakan yang meminta Bia untuk duduk di kursi tak jauh darinya.
Mau tidak mau, Bia akhirnya menuruti ucapan Bastian. Dia beringsut mengambil tempat duduk di single sofa yang berada tepat di sebelah kiri Sky. Tatapan mata Bia masih tampak khawatir. Meskipun begitu, dia berusaha bersikap tenang.
"Begini, Bia. Aku akan menjelaskan sesuatu kepadamu. Dan, aku harap kamu bisa melakukannya. Sky juga pasti sudah menjelaskan konsekuensi jika kamu menolak untuk diajak bekerja sama, kan?" Bastian memulai pembicaraan.
Bia menelan salivanya dengan keras. Entah mengapa dia menjadi teringat dengan denda yang disebutkan oleh Sky tadi. Masih dengan ekspresi bingung dan khawatir, mau tidak mau Bia hanya mampu menganggukkan kepala.
"Bagus. Aku suka jika kamu bisa langsung nurut seperti ini. Ehem, begini Bia. Seperti yang dijelaskan Sky sebelum ini, kalian sama-sama punya motif untuk melanjutkan hubungan ini…," belum sempat Bastian melanjutkan ucapannya, Sky sudah langsung menginterupsi ucapan laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Hubungan apa maksud lo? Jangan suka aneh-aneh! Gue nggak ada hubungan apa-apa sama dia." Sky langsung bersuara dengan suara sedikit lebih keras.
Bastian langsung merengut kesal ketika mendengar ucapan Sky.
"Diem dulu, lo! Gue lakuin ini semua juga demi lo."
Mendapati semprotan dari pakarnya urusan asmara, Sky hanya bisa diam sambil misuh-misuh sendiri. Tentu saja hal itu membuat Jero tergelitik.
"Hahaha. Mending lo diem aja deh, Sky. Biarkan playboy ini menjelaskan rencananya," ucap Jero sambil menepuk-nepuk bahu Sky sambil tergelak.
Bia yang mendengar perdebatan ketiga orang tersebut masih bingung. Namun, dia tidak berani menginterupsi. Bia masih menatap ketiga orang tersebut bergantian.
Bastian kembali menoleh ke arah Bia. Dia kembali melanjutkan apa yang hendak disampaikannya.
"Bia, kamu sudah pasti tahu rencana apa yang harus kalian lakukan beberapa waktu ke depan, kan?" tanya Bastian yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Bia.
"Nah, karena kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan, nanti malam kalian bisa memulainya. Akan ada acara yang mengharuskan Sky untuk datang malam ini. Jika kalian datang bersama, sudah pasti secara tidak langsung kedatangan kalian akan mengkonfirmasi adanya hubungan asmara."
"Kalian tidak perlu repot-repot gembar-gembor disana-sini untuk menjelaskan hubungan apa yang sedang kalian jalani. Cukup datang dan bersikap mesra. Kalian bisa memberikan tontonan yang memanjakan para pencari berita. Dan ingat, tidak perlu memberikan tanggapan apapun jika para pencari berita itu mengikuti kalian," ucap Bastian panjang lebar.
Bia mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Setidaknya, dia punya gambaran apa yang harus dilakukannya nanti. Hal berbeda justru diperlihatkan oleh Sky. Entah mengapa wajahnya benar-benar kecut dilihat.
Jero yang menyadari perubahan ekspresi wajah Sky, langsung menepuk bahunya. "Ada apa, Bro? Lo punya rencana lain?"
Sky menggelengkan kepala. "Gue nggak mau mesra-mesraan di tempat seperti itu. Dikira gue tontonan apa," gerutu Sky.
Sky memang tipe orang yang tidak mau jadi pusat perhatian. Kalaupun itu terjadi, pasti ada kaitannya dengan pekerjaan. Sky juga sangat jarang sekali menjawab pertanyaan dari para pencari berita secara langsung. Jika hal itu terjadi, pasti dilakukan di acara konferensi pers resmi.
"Mau nggak mau kalian harus terlihat sebagai pasangan kekasih, Sky. Gila aja kalian jalan sendiri-sendiri jika punya hubungan. Orang-orang juga mana percaya," jero menimpali sambil memukul lengan Sky lirih.
__ADS_1
"Geli gue." Sky menggelengkan kepala.
Bia yang mendengar ucapan Sky, sontak merasa tersinggung. Entah mengapa dia benar-benar kesal dengan jawaban atasannya itu. Namun, kekesalan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba saja Bia tersentak saat menyadari sesuatu.
Pak Sky merasa jijik saat berdekatan dengan perempuan. Apakah itu berarti dia penyuka 'tunas' juga? Batin Bia.
Kedua bola mata dan mulut Bia langsung terbuka dengan lebar. Dia menoleh ke arah Sky dan menatapnya dengan tatapan horor. Tindakan Bia itu menjadi pusat perhatian dari ketiga orang laki-laki di depannya.
"Ada apa, Bi? Apa ada sesuatu?" tanya Bastian yang cukup heran dengan tindakan Bia yang tiba-tiba tersebut.
Bia menatap wajah-wajah ketiga laki-laki yang ada di depannya tersebut dengan tatapan takut, ngeri, dan penasaran yang tampak jadi satu.
"Ada apa?" Jero yang juga penasaran menjadi tidak sabar.
"Ka-kalian penggemar 'tunas', ya?" Cicit Bia dengan suara lirih. Dia bahkan tidak berani bersuara dengan keras.
Kening ketiga laki-laki tersebut langsung berkerut. Mereka cukup bingung dengan maksud ucapan Bia.
"Tunas? Tunas apa?" Kali ini Bastian yang bertanya.
"I-itu. Ka-kalian sukanya sama yang batang-batang se-seperti punya kalian juga?" tanya Bia sambil menunjuk ragu-ragu ke arah bagian bawah tubuh ketiganya.
Sontak saja otak Sky, Bastian, dan Jero langsung konek. Kedua bola mata mereka langsung melotot setelah mendengar tuduhan Bia.
"& cock! Lo kira gue homo? Lo tau seberapa banyak perempuan yang sudah gue kelonin, hah?!"
🌹
Tbc
__ADS_1