
Sky langsung menoleh ke arah sumber suara. Belum sempat dia membuka mulut, tiba-tiba Bia langsung menubruknya sambil mengambil benda yang saat itu sedang dipegang oleh Sky, dan menyembunyikannya di belakang punggung.
Saking buru-burunya Bia untuk menyembunyikan benda yang sudah dilihat oleh Sky tersebut, dia sampai tidak memprediksi gerakannya. Alhasil, Bia dan Sky langsung terhuyung ke atas tempat tidur dengan posisi Bia sedang menindih Sky.
Kedua bola mata Sky dan Bia langsung membulat saat menyadari posisinya. Apalagi, saat itu Bia memakai baju tidur dengan bagian leher berbentuk V yang cukup rendah. Dengan posisi seperti itu, tentu saja Sky bisa langsung melihat jalur yang membelah dua gunung kembar Bia.
Glek glek glek.
Sky langsung menelan salivanya beberapa kali. Entah mengapa kedua netranya enggan berpindah dari dada putih nan mulus Bia yang tidak sengaja terekspos tersebut. Namun Bia yang sadar posisi, langsung buru-buru beranjak dari atas tubuh Sky. Wajahnya langsung memerah dengan tangan otomatis mencengkram bagian depan baju tidurnya.
"Ma-maaf, Pak. Tidak sengaja." Bia menjawab sambil menundukkan kepala. Di dalam hati, dia merutuki tingkah konyolnya.
Sky langsung beranjak duduk sambil masih menatap ke arah Bia yang sudah beranjak mundur beberapa langkah dari tempat tidur.
"Apa yang baru saja kamu lakukan?" tanya Sky dengan ekspresi datar.
"Ehm, maaf Pak. Tadi saya cuma refleks karena kaget. Lagian, kenapa juga anda masuk kamar saya dan membuka-buka barang milik saya. Itu kan privasi, Pak." Bia langsung mendelik ke arah Sky.
"Cckkk. Aku nggak sengaja. Tadi aku mau cari kamu, tapi ternyata kamu nggak ada di kamar. Lagian, salah sendiri taruh barang pribadi seenaknya. Jangan salahkan orang lain jika sempat melihatnya," jawab Sky sambil beranjak berjalan menuju pintu kamar. Jangan lupakan ekspresi wajahnya yang sudah kembali ke setelan pabrik layar televisi alias datar.
__ADS_1
Bia tidak mau memperpanjang urusan dengan Sky. Dia hanya malas jika berdebat terus dan tidak ada ujungnya nanti dengan Sky. Alhasil, Bia hanya membiarkan Sky keluar dari kamar tanpa adanya protes.
"Hhhh. Apa-apaan itu tadi? Yang benar saja dia pegangin sidi gue. Ccckkkk, apa sih isi kepala tuh orang." Bia langsung menggerutu kesal sambil membereskan barang-barang miliknya yang sempat terjatuh saat dia menubruk Sky tadi.
Setelahnya, Bia segera membersihkan diri dan bersiap-siap untuk tidur. Jika sesuai rencana, besok dia akan kembali ke Jakarta. Dan, semoga tidak ada perubahan jadwal lagi.
Seperti dugaan Bia, kepulangannya ke Jakarta harus tertunda. Pagi itu setelah sarapan, orang tua Sky harus berangkat ke Jepang. Sementara Sky dan Bia, mau tidak mau harus bertolak ke Kuala Lumpur untuk memeriksa progres proyek baru.
Sebenarnya, Bia bisa saja pulang terlebih dahulu karena Bia tidak ada hubungannya dengan pekerjaan Sky kali ini. Namun, mommy Sky secara pribadi meminta Bia untuk menemani putranya tersebut. Alhasil, disinilah Bia sekarang berada. Di sebuah mobil yang menjemput mereka dari bandara.
"Nanti kita langsung pulang atau harus menginap disini, Pak?" tanya Bia memecah keheningan di dalam mobil.
"Iya, benar. Saya juga khawatir dengan jadwal yang itu, Pak."
Sky mengangguk-anggukkan kepala.
"Nanti langsung ke Surabaya saja. Besok agendanya pagi, kan? Jadi siang kita bisa balik ke Jakarta."
Mendengar jawaban sky, tentu saja membuat Bia langsung kaget. Dia sama sekali tidak membawa baju ganti dan belum membawa berkas-berkas pendukung. Bagaimana bisa mereka langsung berangkat ke Surabaya? batin Bia.
__ADS_1
"Pak, tapi saya tidak membawa berkas apapun. Bagaimana bisa kita langsung ke Surabaya?" protes Bia.
"Gampang. Nanti suruh saja Zidan kirim semuanya."
Bia hanya bisa pasrah saat mendengar keputusan Sky. Jika sudah seperti itu, tBia pasti akan kesulitan menolak.
Ternyata, jadwal mereka tidak lama berada di Kuala Lumpur. Sore hari, Bia dan Sky sudah bertolak ke Surabaya. Bia hanya bisa pasrah saat lagi-lagi dia harus menuruti jadwal aktivitas Sky yang bolak balik ke luar negeri.
Begitu sampai di Surabaya, Bia dan Sky menyempatkan makan malam terlebih dahulu sebelum menuju hotel. Tak lupa juga Bia memesan pakaian formal untuk mereka karena keduanya sama sekali tidak membawa baju formal.
Sky membawa Bia ke sebuah hotel yang sudah biasa digunakannya ketika berada di Surabaya. Dan, tentu saja Sky memesan kamar yang biasa dipakainya. Kali ini, Sky tidak memesankan kamar untuk Bia.
"Kok cuma satu kamar, Pak? Saya harus tidur di mana?" protes Bia sambil mengekori Sky keluar dari lift dan berjalan menuju kamar yang sudah dipesan Sky.
"Di kamarku." Sky menjawab dengan santai.
"Hah? Kita satu kamar, pak? Jangan ngadi-ngadi deh, pak. Aku masih perawan!" Bia langsung menghentikan langkah kaki sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Sky menoleh ke arah Bia sambil mendengus kesal.
__ADS_1
"Cckkk. Ada dua kamar di sana. Kamu kira aku tertarik denganmu? Jangan mimpi."