
Sepanjang perjalanan, Bia masih bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya, dia sudah sejak tadi bertanya kepada Sky kemana dan apa tujuan mereka malam itu. Namun, Sky masih diam dan tidak menjelaskan apapun. Dia hanya berkata jika Bia akan tahu nanti jika sudah tiba waktunya.
Jadilah saat ini, Bia hanya bisa diam di dalam mobil sambil menatap jalanan. Dia tidak tertarik memainkan ponsel seperti yang dilakukan oleh Sky. Hingga tiba-tiba mobil yang ditumpangi mereka memasuki area sebuah hotel. Kedua bola mata Bia langsung membulat dengan pikiran yang tidak-tidak.
"Hotel? Pak, ini maksudnya apa kita ke hotel? Bapak jangan macam-macam, ya." Bia sedikit meninggikan suaranya dengan panik. Otaknya sudah mulai berkelana dengan apa yang akan mereka lakukan di hotel tersebut.
Sky terdengar mendengus kesal. Dia memasukkan ponselnya pada saku jas dan menoleh ke arah Bia dengan tatapan kesal.
"Apa yang ada di dalam otak kamu ini, hah?" Sky menyentil kening Bia hingga membuat gadis itu meringis sakit.
__ADS_1
Tanpa menjelaskan apapun, Sky langsung turun dari mobil begitu sang supir membukakan pintu untuknya. Bia hendak protes saat dia menangkap pergerakan Sky yang berjalan ke arah pintu di dekatnya. Belum sempat Bia protes, ternyata Sky sudah membukakan pintu untuknya. Jangan lupakan ekspresi wajah Sky yang tidak segarang tadi.
Bia yang melihat tanda dari Sky untuk segera turun, langsung buru-buru beranjak turun dari mobil. Belum sempat dia bertanya apa maksud semua ini, tiba-tiba Sky langsung menggenggam tangannya dan menariknya memasuki lobi hotel.
Bia yang masih bingung pun mau tidak mau mengikuti langkah kaki Sky. Sebenarnya, dia mau protes. Tapi, ada banyak sekali orang yang lalu lalang di sekitar mereka. Jadi, Bia memutuskan untuk diam dan menunggu saat mereka tinggal sendirian.
Namun sepertinya, keinginan Bia tersebut langsung pupus saat dia melihat kedua orang tua Sky sudah berdiri tak jauh dari posisinya saat itu. Tentu saja kehadiran mereka membuat Bia semakin panik. Apalagi, saat ini tangan Sky masih menggenggamnya dengan sangat erat.
"Sayang, kami mohon maaf jika terpaksa kami melakukan ini. Kami benar-benar butuh bantuan kamu," ucap mommy Sky begitu mereka sudah berada di dalam kamar hotel tersebut.
__ADS_1
"Eh, maksudnya ini apa, Tan?" Bia masih menatap wajah mommy Sky dengan kening berkerut. Dia yang memang belum mendapatkan penjelasan apapun hanya bisa menatap satu persatu orang yang ada di depannya itu.
Mau tidak mau, mommy Sky beringsut mendekat ke arah Bia. Dia meraih tangan Bia dan menggenggamnya dengan erat. Jangan lupakan sorot mata putus asa yang langsung muncul pada ekspresi wajah mommy Sky tersebut.
"Sayang, kami tidak tahu harus melakukan apa lagi. Kami sebenarnya juga terpaksa melakukan ini. Kami, terutama Sky, benar-benar butuh bantuan kamu. Ada beberapa orang rekan bisnis daddynya Sky yang benar-benar mulai mengusik kehidupan pribadi kami, terutama Sky."
"Beberapa diantara mereka ingin menjadikan Sky sebagai menantu. Entah maksud dan tujuan mereka sebenarnya apa kami tidak tahu dengan pasti. Tapi, cara-cara yang mereka pakai benar-benar sudah mulai meresahkan."
"Bahkan, sudah berkali-kali Sky dijebak dengan memasukkan obat perrangsang ke dalam minumannya saat ada acara jamuan makan malam. Tentu saja kami tidak bisa membiarkan itu berlanjut lebih lama lagi."
__ADS_1
"Mereka sangat getol sekali mencoba untuk menjadikan Sky sebagai menantu karena tidak ada berita tentang kedekatan Sky dengan perempuan manapun. Oleh karena itu, malam ini kami akan mengumumkan jika Sky sudah memiliki pasangan dan akan segera menikah. Dan, kami meminta bantuan kamu untuk menjadi pasangan Sky. Mau, ya?"
Hhmmm, dijawab apa nih?