
Tak sampai dua puluh menit kemudian, Bia dan Sky sudah tiba di rumah orang tua Sky. Bia yang baru melihat rumah itu, cukup tertarik. Tak seperti yang ada di dalam bayangannya, ternyata rumah orang tua Sky bukanlah sebuah mansion.
Rumah orang tua Sky bisa dikatakan cukup mewah untuk ukuran kompleks perumahan tersebut. Namun, desainnya terlihat lebih menyatu dengan alam. Tidak ada pagar dan halamannya pun banyak sekali ditumbuhi pohon dan beraneka jenis tanaman. Sepertinya, penghuni rumah sangat suka tumbuh-tumbuhan.
Begitu keluar dari mobil, Bia langsung berdiri mematung di dekat kumpulan bunga mawar yang ada di dekat teras rumah. Dia bahkan tidak terlalu mendengar ucapan Sky yang meminta Bia untuk mengikutinya. Hingga akhirnya Sky pun berjalan menghampiri Bia.
"Sudah malam ini, mau sampai kapan berdiri di sini terus?" ucap Sky mengagetkan Bia.
Seketika Bia tersadar dan langsung menoleh ke arah Sky.
"Eh, iya Pak. Maaf tadi aku cuma kagum sama bunga-bunga mawar beraneka warna ini. Cantik," jawab Bia.
"Itu semua bunga-bunga mommy. Kamu mungkin nggak tahu jika di rumah Jakarta ada kebun bunga milik mommy di belakang rumah. Mommy memang suka dengan tanaman. Sejak dulu, selalu saja ada tanaman jenis baru yang dibawanya dari luar negeri."
Bia mengangguk-anggukkan kepala mendengar ucapan Sky. Setelahnya, kedua orang tersebut langsung berjalan memasuki rumah. Sky menunjukkan kamar yang bisa ditempati oleh Bia. Tak lupa juga dia memberikan tiga paper bag yang entah bagaimana sudah ada di atas sofa ruang tengah rumah tersebut.
__ADS_1
Setelah menerima paper bag dari Sky, Bia langsung berjalan menuju kamar yang sudah ditunjukkan tadi. Lagi-lagi Bia terkejut dengan kamar yang didominasi warna soft blue tersebut. Sangat bagus dengan perabotan girly yang tidak lebay. Bahkan, disana juga sudah ada perlengkapan make up yang sangat lengkap. Bia hanya bisa melongo mendapati semua kebutuhannya sudah ada di dalam kamar.
"Ini serius semua sudah disiapkan untukku? Kok bisa?" Bia masih sulit mempercayai apa yang ada di depannya.
Setelah memeriksa barang-barang yang ada di dalam kamar, Bia memutuskan untuk segera membersihkan diri. Tubuhnya sudah terasa sangat lengket. Dia butuh berendam untuk menyegarkan tubuhnya. Beruntung kamar mandi di dalam kamar tersebut memberikan fasilitas yang sangat mewah. Bia bisa leluasa untuk berendam di sana.
Sekitar empat puluh menit kemudian, aktivitas Bia di dalam kamar mandi sudah selesai. Bia juga sudah berganti baju dengan baju tidur yang tadi sempat diberikan oleh Sky. Bia hanya bisa mendesahkan napas kesal saat menyadari jika baju tidur yang dipakainya adalah baju tidur yang sering dipakai oleh orang-orang kaya.
"Kenapa juga koperku ditinggal di hotel coba. Jika tahu begini, aku kan bisa pakai baju tidurku sendiri," gerutu Bia saat menatap pantulan dirinya di depan cermin.
Kening Bia berkerut saat melihat pesannya masih centang satu. Tidak biasanya ponsel sahabatnya itu tidak aktif seperti ini. Bia mencoba menghubungi Jihan beberapa kali, namun panggilan teleponnya tidak terhubung.
"Kemana sih tuh anak? Nggak biasanya ponselnya nggak aktif begini," gumam Bia.
Bia meninggalkan pesan kepada Jihan untuk menghubunginya esok hari. Setelahnya, Bia berniat untuk tidur. Bia meletakkan ponselnya di atas nakas dan mematikan lampu utama serta menggantinya dengan lampu tidur.
__ADS_1
Saat Bia hendak merebahkan tubuhnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Bia cukup kaget saat mendengar ketukan tersebut.
"Siapa?" tanya Bia sedikit berteriak.
"Aku."
Bia yang sudah cukup hafal dengan suara tersebut, akhirnya kembali menyalakan lampu utama dan beranjak turun dari tempat tidur.
Ceklek.
Pintu kamar Bia terbuka dan tampak Sky sudah berdiri di depan kamar tersebut. Bia hendak bertanya maksud Sky, namun dia mengurungkan niatnya saat melihat ekspresi Sky.
"Ada apa?" tanya Bia.
"Ka-kamu nggak pa-pakai berraaaa?"
__ADS_1
Yang masih punya jatah vote, boleh dong bagi buat babang Sky dan mbak Bia. Masih newbie nih. 🤧