Nabia Sky

Nabia Sky
Nabsa 29


__ADS_3

Bia langsung menggelengkan kepala saat seorang pramugari menawarkan untuk beristirahat di dalam kamar. Bia tahu jika tadi Sky baru saja masuk ke dalam kamar tersebut. Jadi, Bia langsung menggelengkan kepala menolak tawaran tersebut.


Setelah penolakan Bia, pramugari tersebut langsung pergi meninggalkan Bia dan kembali ke tempatnya. Bia langsung menoleh ke arah jendela dan menikmati penerbangannya kali ini. Lumayan, Bia bisa menikmati penerbangan dengan fasilitas super mewah ini.


Hingga sekitar lima menit kemudian, Bia merasakan ada pergerakan tak jauh darinya. Dia menoleh ke kanan dan menemukan Sky sudah berada di sana. Kening Bia berkerut saat melihat Sky sudah berganti baju. Dan, sepertinya Sky juga baru saja selesai mandi. Hal itu terlihat dari rambutnya yang masih basah dan juga wangi tubuhnya yang segar.


"Pak Sky baru mandi?" Entah mengapa Bia justru menanyakan hal pribadi seperti itu.


Sky menoleh sekilas ke arah Bia sebelum kembali fokus pada berkas-berkas yang ada di depannya.


"Memang ada larangan aku mandi di pesawat?" Bukannya menjawab, Sky malah balik bertanya.


"Eh, bu-bukan begitu maksud saya, Pak." Bia tampak kikuk. Bia baru menyadari kebodohannya menanyakan hal seperti itu.


Setelahnya, tidak ada obrolan lagi antara Bia dan Sky. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga sekitar dua puluh menit kemudian, Bia sudah sangat gatal ingin bertanya.

__ADS_1


"Ehm, Pak. Ini nanti sebenarnya ada acara apa di Singapura? Saya tidak membawa pakaian formal tadi. Saya hanya takut salah kostum nanti, Pak." Bia benar-benar penasaran dengan apa yang akan mereka lakukan di Singapura nanti.


Lagi-lagi Sky menoleh sekilas ke arah Bia sebelum kembali fokus membaca beberapa berkas pekerjaan.


"Nanti kamu juga akan tahu jika sudah sampai di sana. Nggak usah pusingin baju atau apalah itu. Jika butuh baju, tinggal beli saja nanti di sana," jawab Sky santai.


Bia mencebikkan bibir kesal setelah mendengar jawaban Sky. Tentu saja jawaban Sky itu membuatnya menggeram kesal. Bagaimana tidak, Sky bisa dengan mudah mengatakan tinggal beli jika butuh baju. Memang dia pikir Bia punya banyak uang untuk berbelanja baju di Singapura, gerutu Bia dalam hati.


Saking kesalnya, Bia hanya bisa mencengkram ujung kursi sambil menggertakkan gigi. Dia juga tidak berani membantah omongan Sky. Biar bagaimanapun juga, Sky adalah atasannya.


Tanpa banyak bertanya, Bia langsung mengekori kemana langkah kaki Sky. Hingga keduanya sudah duduk manis di kursi belakang sebuah mobil mewah yang baru pertama kali dinaiki oleh Bia.


Bia sudah sangat gatal sekali ingin bertanya kepada Sky. Namun, niat tersebut diurungkannya ketika ponsel Sky berbunyi. Bia sempat melirik sekilas jika panggilan telepon tersebut ternyata berasal dari sahabat sekaligus mantan atasan Bia dulu, Bastian.


"Hhmmm?" gumam Sky begitu panggilan telepon terhubung.

__ADS_1


"Kalian sudah tiba di Singapura?" tanya Bastian.


"Hhhmm. Barusan."


"Bagus. Langsung bawa Bia ke tempat Kim. Jangan buat kesalahan, Sky. Ingat, orang tua kamu menaruh harapan besar kepadamu," peringat Bastian.


"Berisik."


"Biarin. Biar berisik juga tetep dicariin." Bukannya marah, Bastian justru langsung menyombongkan diri.


"Iyain aja deh, biar puas."


"Puas, dong. Sudah bobol empat kali dong pagi ini." Suara Bastian terdengar sangat bangga di seberang sana.


"Vangke!"

__ADS_1


__ADS_2