
Sky masih memikirkan ucapan Bastian saat di telepon. Namun, dia belum bisa memastikan maksud ucapan sahabatnya itu karena Bastian harus segera menghadiri rapat di kantornya.
Hingga menjelang makan siang, Bia dan Sky masih berkutat dengan banyaknya pekerjaan yang seolah tidak ada habisnya. Bahkan, untuk makan siang pun mereka terpaksa memesan makan siang untuk diantarkan ke ruang kerja mereka.
"Pak, ini laporan yang harus segera diperiksa sebelum dikirimkan kembali nanti," ucap Bia sambil meletakkan sebuah dokumen di depan Sky.
"Sudah kamu teliti redaksinya? Aku nggak mau ada typo lagi."
"Sudah, Pak."
Tanpa melirik ke arah Bia, Sky langsung memeriksa dokumen tersebut. Sementara Bia, langsung kembali ke meja kerjanya yang hanya berjarak sekitar lima langkah dari meja Sky. Ya, hal itu karena Bia memang bekerja di ruangan yang sama dengan Sky.
Jam sudah menunjukkan pukul lima lebih lima belas menit sore itu setelah Sky dan Bia sepakat menunda sejenak kepulangan mereka untuk menyelesaikan pekerjaan. Sky dan Bia sedang bersiap-siap untuk pulang. Hari ini, tidak ada agenda lembur sampai malam karena memang pekerjaan mereka sudah selesai hari itu. Bia hanya membawa beberapa pekerjaan yang akan diperiksanya di kontrakan dan tidak terlalu mendesak.
Bia sudah ijin keluar lebih dulu sementara Sky masih harus ke kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya. Dan, ketika Sky baru saja keluar dari kamar mandi, ponselnya sudah meraung-raung dengan keras.
Sky langsung menghampiri ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya. Kening Sky berkerut saat mendapati nama ibu negara di layar ponsel tersebut.
"Hallo Mom," sapa Sky begitu panggilan telepon tersebut sudah terhubung.
__ADS_1
"Kamu pulang jam berapa, Sky?"
"Ini sudah mau pulang. Ada apa, Mom?" tanya Sky sambil mengambil jasnya yang ada di sandaran kursi.
"Pulang ke rumah malam ini. Ada yang ingin mommy bicarakan."
"Hhmmm."
"Jangan ham hem saja, Sky. Awas jika mangkir dengan banyak alasan. Mommy kirim Deo jemput kamu langsung." Mommy Sky sudah langsung mengancam putranya. Dia cukup hafal dengan tingkah Sky yang benar-benar susah diatur.
"Iya, iya. Nggak percayaan banget sama anak sendiri," gerutu Sky.
Sky hanya memutar kedua bola matanya dengan jengah. Setelah berjanji untuk datang ke rumah, Sky langsung menutup panggilan telepon tersebut.
Sementara di sebuah minimarket yang buka dua puluh empat jam, Bia sedang berbelanja kebutuhan dapur. Dia kehabisan stok makanan untuk memasak. Sebenarnya, Bia lebih suka belanja di pasar yang lebih fresh dan murah. Hanya saja, karena kesibukan pekerjaan membuat Bia tidak bisa melakukannya jika tidak sedang libur.
Bia memilih perbumbuan mulai dari cabe, bawang putih, bawang merah, hingga bumbu instan. Tak lupa juga dengan beberapa sayur dan daging yang bisa diolahnya saat pulang kerja.
Ketika sedang asyik memilih buah-buahan segar, tiba-tiba Bia merasakan ada yang menepuk bahunya. Bia langsung menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah samping.
__ADS_1
Kening Bia berkerut saat mendapati dua orang laki-laki bertubuh tegap dengan otot lengan dan dada tampak menonjol dan terlihat dengan jelas karena keduanya memakai kaos yang cukup ketat.
"Eh, ada apa ya, Pak? Ada yang perlu saya bantu?" tanya Bia yang masih cukup terkejut.
"Anda Mbak Nabia?" tanya salah seorang diantara kedua laki-laki tersebut.
Bia cukup terkejut saat mereka mengetahui namanya.
"Eh, iya benar. Bapak-bapak ini mengenal saya?"
"Iya, Mbak. Mohon maaf mengganggu acara belanjanya. Bisa kami minta waktunya sebentar?" tanya laki-laki yang satunya.
Bia masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Memang ada apa ya, Pak? Apa saya punya hutang dengan Anda?"
🌹
Tbc
__ADS_1