
Bukan hanya capek, tapi juga lapar. Itulah yang dirasakan oleh Bia saat ini. Sejak hampir dua jam yang lalu, Bia masih belum selesai menjalani serangkaian perawatan dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Sebenarnya, kali ini bukan pertama kalinya bagi Bia menjalani perawatan di salon. Bia biasanya memang pergi ke salon untuk melakukan perawatan sederhana mulai dari potong rambut, facial, creambath, pewarnaan rambut, hingga perawatan kuku. Namun, dia belum pernah menjalani perawatan hingga menyeluruh seperti saat ini.
Bia hanya bisa terkantuk-kantuk saat beberapa orang tengah merias wajah dan rambutnya. Sesekali Bia hanya menanggapi pertanyaan mereka. Hingga tak terasa, lebih dari dua jam sudah Bia berada di sana dengan segala aktivitasnya.
Menjelang pukul tujuh malam, Bia sudah siap. Dia segera beranjak menuju bawah untuk menemui Sky yang juga sudah sampai.
Bia segera berjalan menghampiri Sky yang sudah menunggunya di sofa tunggu. Jangan kira Sky akan langsung terpesona melihat penampilan Bia yang benar-benar luar biasa cantik dan elegan malam itu. Sky bahkan hanya menoleh sekilas dan kembali fokus pada ponselnya saat melihat Bia berjalan ke arahnya.
"Sudah selesai?" tanya Sky ketika Bia sudah berdiri di sebelah kanan Sky duduk.
Bia hanya bisa mengumpat dalam hati. Jika sudah berada disini, berarti aku memang sudah selesai, batin Bia. Namun, dia tidak mungkin seberani itu mengumpat di depan Sky.
"Iya." Bia hanya bisa menjawab singkat.
"Kita berangkat sekarang." Sky memasukkan ponselnya ke dalam saku. Setelah itu, dia segera beranjak berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Jangan kira dia akan berbaik hati untuk menggandeng Bia seperti pasangan-pasangan romantis lainnya. Sama sekali tidak.
Bia masih mencebikkan bibir saat berjalan mengikuti langkah kaki Sky menuju tempat mobilnya terparkir. Beruntung Bia sudah cukup terbiasa dengan sepatu heels. Jika tidak, bisa dipastikan Bia akan kesulitan berjalan dengan dress nya kali ini.
Tidak ada adegan membukakan pintu untuk pasangan. Sky langsung berjalan menuju sisi bagian kemudi, sementara Bia berada di sebelahnya. Keduanya melakukan aktivitas masing-masing seperti biasa tanpa ada adegan romantis.
Sky langsung melajukan kendaraan setelah Bia memasangkan seat belt. Tidak ada yang bersuara setelah beberapa saat mereka berkendara. Hingga keheningan itu terpecahkan saat ada sebuah panggilan telepon pada ponsel Sky.
Sky melihat sekilas ke arah layar ponselnya yang menampilkan nama Jero, sang sahabat. Bia yang berada di samping Sky, juga bisa melihat dengan jelas siapa penelepon Sky malam itu.
__ADS_1
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Sky langsung menyambungkan panggilan telepon tersebut.
"Hhmmm?" sapa Sky begitu panggilan telepon tersambung.
"Hallo, Sky. Lo sudah berangkat?"
"Hhmmm."
"Bagus, deh. Sama Bia, kan?"
"Hhmmm."
"Cckkk. Jangan ham hem mulu deh, Sky. Mulut lo bisa ngomong, kan?" Jero tampaknya sudah tidak bisa bersabar lagi. Dia masih terdengar menggerutu di seberang sana.
"Ada apa lo hubungin gue?" Akhirnya Sky bersuara setelah mendengar ucapan Jero.
"Emang gue harus ngapain?" tanya Sky bingung. Dia tidak biasa datang menghadiri acara dengan menggandeng seorang perempuan. Biasanya, Sky memang datang sendiri atau bersama dengan Zidan.
Sementara kedua sahabat Sky, sudah sangat biasa menghadiri acara dengan menggandeng perempuan. Bahkan, hampir setiap acara pasangan mereka juga akan selalu berganti. Hhmmm, bergonta ganti pasangan sudah seperti mengganti baju baja.
Lagi-lagi Jero misuh-misuh di seberang sana. Dia benar-benar pusing menghadapi Sky yang polosnya nggak ketulungan jika berhubungan dengan perempuan.
"Astaga, Sky. Lo bener-bener, dah." Jero terdengar menggeram. "Bia disebelah lo, kan?" tanya Jero.
"Iya."
__ADS_1
"Loudspeaker. Gue mau ngomong sama kalian. Eh, bentar deh. Gue hubungin dulu Bastian biar ikut briefing lo."
Tak lama kemudian, Jero dan Bastian sudah ikut bergabung. Mereka berdua sudah siap memberikan kursus kilat kepada Sky.
"Sky, lo denger gue, kan?" Kali ini Bastian yang bersuara.
"Hhmmm."
"Dengar, disini banyak sekali media yang hadir. Sepertinya, mereka tahu jika lo akan hadir di acara ini. Mereka mungkin akan mengkonfirmasi pemberitaan yang beredar beberapa hari ini tentang lo dan Bia."
"Kebetulan lo dateng bareng Bia. Ini kesempatan lo buat nunjukin jika kalian emang bener-bener ada hubungan. Masalahnya, para pencari berita ini menyebar dimana-mana. Mereka tidak hanya ada di luar gedung, tapi juga di dalam gedung. Ya, meskipun mereka ada tempat sendiri, sih."
"Tapi, gue khawatir jika mereka terus sorot tingkah laku kalian. Dan, satu-satunya cara buat para pencari berita itu yakin jika kalian ada hubungan adalah dengan bersikap selayaknya pasangan. Lo ngerti kan maksud gue, Sky?" tanya Bastian setelah penjelasannya.
"Iya, gue tau. Tapi masalahnya, apa yang harus gue lakuin buat nunjukin jika gue dan Bia adalah pasangan?"
Pertanyaan Sky tersebut berhasil membuat Bia terkejut. Dia menoleh dan menatap Sky dengan tatapan horor. Sky yang merasa sedang diperhatikan oleh Bia pun langsung menoleh.
"Ngapain lihatin begitu?" tanya Sky.
"Eh, i-itu, Bapak nggak salah tanyain apa yang biasanya dilakukan oleh pasangan? Emang selama ini Bapak nggak pernah pacaran, ya?"
"Nggaaakkkk!"
Nah lho, siapa yang jawab itu?
__ADS_1
🌹
Tbc