
Bia tidak bisa berkutik sama sekali. Dia merasa dijebak kali ini. Namun, jika mengingat gaji yang akan didapatnya, rasa kesalnya itu kembali menguap. Apalagi, saat pak Rusdi menyebutkan bonus bulanan yang akan didapatnya rutin setiap bulan sebesar setengah gaji dari kantor lamanya. Bia benar-benar seperti makan buah simalakama.
Setelah menyelesaikan surat kontraknya, Bia segera diantar menuju ruangan Sky. Awalnya, Bia mengira jika dia akan mendapatkan ruangan yang berbeda dengan Sky, mengingat dia juga harus menyelesaikan pekerjaan yang memang dibebankan kepada asisten pribadi seorang Kailash Sky.
Namun, perkiraan Bia tersebut salah. Alih-alih berbeda ruangan kerja dengan Sky, Bia justru diantar ke ruangan Sky. Ada sebuah meja yang berada di dalam ruangan tersebut dan hanya dipisahkan dengan sebuah lemari berisi beberapa buku bacaan.
Jika tidak diperhatikan dengan jelas dari arah pintu, tidak akan terlihat ada sebuah meja di balik lemari buku tersebut. Namun, jika dilihat dari meja kerja Sky, meja kerja Bia akan menghadap langsung ke arah atasannya tersebut. Jadi, bisa dikatakan Bia akan bekerja dengan menghadap ke arah meja Sky.
"Mbak Bia, ini meja kerja mbak Bia. Semua pekerjaan yang harus di handle oleh mbak Bia juga sudah disiapkan di sini. Mbak Bia bisa mempelajarinya dulu. Jika ada yang kurang mengerti, mbak Bia bisa tanyakan kepada saya nanti."
"Eh, iya. Terima kasih mas Zidan. Ini memang posisi yang benar-benar baru bagi saya, Mas. Jadi, mohon bantuannya nanti jika masih ada yang belum saya pahami," jawab Bia sambil sedikit membungkukkan badan.
"Santai saja, mbak Bia. Kita sudah jadi satu tim. Jadi, sebisa mungkin harus jadi tim yang solid." Zidan memberikan semangat.
"Terima kasih, mas Zidan. Tapi itu, sebaiknya jangan panggil saya 'mbak' deh, Mas. Sepertinya, saya lebih muda dari mas Zidan."
Zidan tampak tersenyum sambil menggelengkan kepala setelah mendengar ucapan Bia.
"Memang benar. Saya berusia tiga puluh satu tahun. Enam tahun lebih tua dari kamu."
"Nah, benar kan. Jadi, jangan panggil 'mbak' deh, Mas. Saya nggak nyaman," ucap Bia. Dia benar-benar merasa tidak nyaman dengan panggilan itu.
Beruntung Zidan menyetujui permintaan Bia. Dia tidak lagi memanggil Bia dengan panggilan 'mbak'. Zidan dan Bia sepakat untuk tidak berbicara dengan menggunakan bahasa formal.
Setelah menjelaskan apa yang harus dikerjakan oleh Bia, Zidan segera pamit untuk menyelesaikan pekerjaannya. Zidan adalah sekretaris Sky di kantor. Sedangkan untuk urusan di luar kantor, Sky lebih sering mengandalkan Jordan. Namun, tidak menutup kemungkinan Jordan juga akan masuk kantor jika dibutuhkan.
Sepeninggal Zidan, Bia segera mulai mempelajari apa yang menjadi tugasnya. Semalam, dia sudah menghafal apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Tak lupa juga Bia sudah menghafal makanan-makanan dan hal-hal yang membuat Sky alergi.
Bia masih berkutat dengan beberapa pekerjaan barunya saat mendengar pintu ruang kerja tersebut terbuka. Bia segera beranjak berdiri dan berjalan menghampiri orang yang baru saja masuk.
"Selamat pagi, Pak." Bia menyapa dengan senyuman sambil menundukkan kepala sekilas.
__ADS_1
"Cckkk. Nggak lihat sekarang jam berapa? Sudah hampir jam sebelas juga masih dibilang pagi." Bukannya menjawab sapaan Bia, justru jawaban seperti itu yang didapatkan.
Bia langsung tercekat kaget saat Sky, sang atasan tampak terdengar ketus menjawab sapaannya tadi. Bia melirik ke arah Zidan yang ternyata mengikuti Sky dari belakangnya. Dari gerakan bibir Zidan, Bia bisa melihat jika Zidan memberi kode untuk segera meminta maaf. Mau tidak mau, Bia segera melakukannya.
"Maaf, Pak. Saya tidak memperhatikan jam. Dari tadi saya masih fokus mempelajari pekerjaan baru saya ini." Bia menundukkan kepala saat Sky melewatinya dan berjalan menuju meja kerja.
Zidan juga mengikuti langkah kaki Sky. Saat berada di depan Bia, Zidan masih sempat-sempatnya memberikan semangat untuk Bia melalui gerakan bibirnya.
Sky langsung fokus memeriksa pekerjaan yang dilaporkan oleh Zidan. Sementara Bia, segera pergi ke pantry untuk membuatkan jus jeruk seperti keinginan Sky. Beruntung ruangan Sky benar-benar lengkap dengan pantry dan kamar pribadi di bagian selatan ruangan tersebut.
Awalnya, Bia tidak mengetahui ada ruangan lain di dalam ruang kerja tersebut. Pantry, kamar mandi, serta ruangan pribadi Sky berada di balik dinding dengan pintu utama yang menyatu dengan dinding berlapis kayu.
Bia segera membawa jus jeruk yang sudah dibuatnya itu ke meja kerja Sky. Dia sedikit kaget karena tidak mendapati Zidan berada di sana. Sepertinya, sekretaris Sky tersebut sudah menyelesaikan tugasnya.
"Jus jeruknya, Pak." Bua meletakkan jus jeruk Sky di meja bagian kanan Sky.
"Hhhmmm."
"Tunggu!"
Bia menoleh ke arah Sky dengan memasang senyuman seperti ucapan pak Rusdi tadi yang memang mengharuskan Bia mengulas senyuman setiap saat.
"Iya, Pak. Ada yang anda perlukan lagi?" tanya Bia sambil kembali menghadap ke arah Sky.
Sky meletakkan beberapa dokumen yang sempat dibacanya dan menoleh ke arah Bia.
"Kamu tahu alasan kamu ditarik bekerja disini?" tanya Sky langsung.
"Ti-tidak, Pak." Bia menggelengkan kepala.
Mendengar jawaban Bia, Sky langsung berdecak kesal.
__ADS_1
"Kamu berbohong saat mengatakan kota tidak pernah bertemu sebelumnya," ucap Sky sambil menatap manik Bia dalam-dalam.
Bia yang memang baru tahu dari Danar tentang Sky di mall waktu itu, langsung menggelengkan kepala.
"Ti-tidak, Pak. Saya benar-benar tidak ingat."
"Aku sudah tahu siapa yang menyebarkan berita tentang kita kepada media. Dan, orang itu adalah mantan pacar kamu saat masih sekolah dulu. Dia mengatakan jika kamu sendiri yang mengatakan jika aku adalah kekasih kamu saat ini," ucap Sky sambil masih menatap tajam ke arah Bia.
Sontak saja ucapan Sky tersebut membuat Bia terkejut bukan main. Dia benar-benar khawatir jika Sky akan menuntut Bia.
"Ti-tidak begitu, Pak. Ma-maksud saya, itu, anu…," Bia mendadak blank. Entah mengapa dia menjadi tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Tidak begitu bagaimana? Kamu mengelak jika tidak mengenal laki-laki bernama Danar itu?" Sky masih menggunakan suara tegasnya. Jangan lupakan ekspresi wajahnya yang benar-benar dingin hingga membuat siapapun yang melihatnya langsung merinding.
Bia hanya menggelengkan kepala takut-takut. Dan, setelah itu dia mulai menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Dia juga meminta maaf telah mengaku-ngaku sebagai kekasih Sky. Bia yang saat itu tidak melihat wajah Sky dengan benar, hanya langsung tunjuk saja tanpa tahu siapa yang ditunjukkan saat ada Danar.
Tak lupa juga Bia menceritakan apa yang sudah dilakukan 'geng gong' dan sering membully nya. Bia yang menceritakan semuanya dengan penuh ekspresi, membuat Sky langsung memiliki ide.
"Baiklah. Aku tidak akan mempermasalahkan lagi apa yang sudah terjadi. Tapi, aku ingin sebuah kesepakatan," ucap Sky dengan ekspresi serius.
Kening Bia berkerut saat mendengar ucapan Sky tersebut.
"Eh, ke-kesepakatan? Kesepakatan apa, Pak?"
"Kesepakatan untuk menjadi kekasihku."
"Eh, bagaimana, Pak?"
🌹
Tbc
__ADS_1