
Deg
"Kapan bangunnya, oh jadi kakak pura pura tidur ya?" tanya Nadin dengan nada kesalnya.
Padahal aslinya Nadin malu setengah mati karena sudah berbicara yang tidak tidak apalagi tadi ia menyentuh hidung mancung Alex.
"Sengaja biar lihat apa yang kamu lakukan. Dan yah ternyata kamu diam diam mengagumi ketampananku ini."
"Dasar narsis, di kelas aja sok datar, sok galak. Sok sokan dingin sama aku, tapi kalau berdua narsisnya gak ada lawan," ucap Nadin mencoba untuk keluar dari rengkuhan tangan Alex.
"Menjaga wibawa saja, lagian aku tak bisa diam jika sudah bersama kamu."
"Jangan sering sering gini ya kak. Takutnya aku baper beneran," ucap Nadin dengan nada pelan.
Jujur ia takut di permainkan oleh laki laki apalagi ini adalah Alex. Selama ini ia tak pernah merespon anak anak yang menembaknya tapi saat bersama Alex, ia tak bisa memungkiri jika ia menyukai tubuh kekar dan wajah tampan Alex. Walau usia mereka terpaut 7 tahun.
Alex diam, ia belum bisa menjawab ucapan Nadin yang membuatnya berbuat seperti ini pada Nadin. Ia nyaman jika seperti ini pada Nadin bahkan ia merasakan bahwa saat ini ia tak seperti dirinya yang biasanya.
Alex bisa berubah menjadi orang yang berbeda saat bersama Nadin.
Nadin yang tak mendapat respon dari Alex itu menghela nafasnya. Selama ini ia hanya berharap memiliki teman hidup yang bisa menerima ia apa adanya tapi sepertinya Alex bukanlah orang itu.
Nadin turun dari tubuh Alex dan merapikan pakaiannya. Ia mengambil tasnya berada di nakas ruangan itu.
"Terima kasih sudah mau di repotkan kak. Lain kali gak usah angkat aku ke ruangan kakak. Aku gak mau orang orang lihat bagaimana hubungan kita. Lebih baik kita pura pura tak kenal saat ini."
"Aku mau pulang, sekali lagi aku ucapkan terima kasih," jawab Nadin memakai sepatunya dan keluar dari ruangan itu tanpa melihat Alex yang menatapnya bingung.
Nadin keluar dari ruangan itu dengan mengendap endap, padahal ruangan ini sangat jarang dilewati orang jika tidak penting.
Sedangkan Alex yang masih berbaring di sofa itu hanya terdiam. Kenapa ia jadi cupu seperti ini jika soal hati dan perasaan. Alex akui ia tak cukup berani hanya bilang iya saja.
"Sialan."
Ia bangkit dan mengambil ponselnya, saat ia ingin mengirim pesan kepada Nadin tapi suara ketukan pintu itu membuat Alex langsung menyuruhnya masuk. Siapa tahu penting, alhasil Alex tak jadi mengirim pesan pada Nadin.
"Permisi Pak Alex. Maaf mengganggu," ucap seorang perempuan dengan wajah cantik dengan pakaian sek*i. Alex tahu jika yang ada di ruangannya itu adalah salah satu dosen teknik universitas itu.
__ADS_1
"Apa apa?" tanya Alex merapikan pakaiannya s
Yang sempat kusut.
Wanita itu sempat terpesona melihat dada Alex yang terekspos tadi. Kira kira apa yang dilakukan oleh Alex tadi begitulah pikir wanita itu.
"Maaf pak Alex. Saya Rena salah satu dosen teknik tata rias dan kecantikan. Saya kemarin tidak masuk untuk berkenalan dengan Anda. Dan siang ini saya ingin berkenalan dengan Anda," jawab Rena memperkenalkan dirinya.
Bahkan Rena juga membungkukkan badannya hingga terlihat belahan dada yang lumayan itu. Tapi sepertinya Alex tahu jika dada itu tidak asli, berbeda dengan milik Nadin yang belum tersentuh dengan alat suntik apapun.
"Hmm, saya Alex."
Rena tersenyum ia mulai bingung ingin memulai PDKT dengan Alex dengan bagaimana. Biasanya laki laki yang sudah melihat dada atau bodynya langsung menggarapnya tapi sepertinya Alex berbeda.
Hal itu membuat Rena tertantang untuk menaklukan Alex yang notabene adalah pemilik perusahaan raksasa yang bergerak di bidang properti, minyak, dan lainnya itu. Siapa sih yang belum mengenal Alex sebagai seorang pengusaha muda.
"Kalau sudah tak ada apa apa lagi silahkan Anda keluar dari ruangan saya. Apa Anda tidak punya ruangan sendiri hingga mampir ke ruangan ini, lagipula nanti ada rapat kalau mau kenalan bisa disana!!"
"Maaf Pak. Niat saya kan baik mau kenalan sama Bapak."
Alex tak bisa menolak karena Rena tiba tiba duduk di pangkuannya. Bahkan berat badan Rena membuat Alex seakan ingin melempar Rena ke selokan.
Belum sempat Alex menghempaskan tubuh Rena, tiba tiba pintu ruangannya kembali terbuka. Tanpa ada ketukan atau teriakan dari luar.
Ceklek
"Ops maaf Pak, Bu menganggu. Saya cuma mau ambil hp."
Tiba tiba Nadin datang dengan muka cemberutnya, ternyata Alex sedang bersama Bu Rena yang notabene adalah dosen terseksoy di kampus ini. Bahkan Lidia yang seorang model aja tersaingi oleh Bu Rena.
Rena mengangguk, ia ingin menampakkan kedekatannya dengan Nadin karena ia tahu Nadin tak pernah sekalipun merespon laki laki yang mendekatinya.
"Kenapa kamu tadi kesini?" tanya Rena pada Nadin.
"Urusan kuliah Bu. Saya pamit ya Bu, pak. Selamat menikmati waktu berdua," ucap Nadin dengan wajah masamnya. Jelas jelas nampak di mata Alex jika Nadin tidak menyukai dia dan Rena.
Brug
__ADS_1
Belum Nadin keluar, Alex langsung menghempaskan tubuh Rena ke lantai dengan kencang.
Bahkan membuat Nadin menoleh dan menatap tak percaya jika Alex bisa menghempaskan tubuh seksoy itu begitu saja.
"Keluar dari ruangan saya. Jangan Anda lancang duduk di pangkuan saya!!"
Ucapan dingin Alex membuat Rena menciut, malu, marah bercampur menjadi satu hingga membuat Rena langsung keluar dari ruangan itu meninggalkan Nadin yang masih terbengong disana.
"Bu Rena," panggil Nadin.
Bu Rena langsung menatap Nadin yang ada disana dengan kesal.
"Apa?"
"Ada yang jatuh Bu tadi, gak tahu apa," ucap Nadin menujuk sebuah benda di lantai.
Alex tahu benda itu tapi kenapa Rena membawanya ke kampus. Alex tahu sepertinya Rena adalah seorang wanita yang kurang bela**n.
Rena malu saat melihat benda yang tadi ia beli jatuh disana. Kok bisa jatuh padahal ia sudah menaruhnya di tas kecil yang ia pakai tadi.
Dengan malu ia mengambilnya dan keluar dari ruangan ini. Bahkan Nadin yang ada disana langsung tertawa.
"Dasar uler."
"Kenapa cemburu?" tanya Alex dengan wajah sumringahnya. Entah kenapa tapi ia senang melihat hal ini.
"Cemburu? Anda siapa?"
Setalah mengucapakan hal itu Nadin langsung keluar dari ruangan itu dan kembali meninggalkan Alex disana sendiri.
****
****
****
Apa ya tuh kok bentuknya persegi?
__ADS_1