
Alex menggandeng tangan Nadin masuk ke dalam kamarnya yang sangat luas itu. Nadin yang baru pertama kali melihat ruangan seluas itu sedikit terkejut. Tapi wajar sih karena rumah ini juga sangat besar.
"Sayang ayo masuk kenapa malah berdiri disini?" tanya Alex melihat kekasihnya yang tak juga masuk itu.
"Kamar kamu besar banget," ucap Nadin menatap sekeliling kamar itu.
"Kan nanti juga bakal jadi kamar kamu," ucap Alex menarik tangan Nadin agar masuk ke dalam kamar.
Alex memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di kasur sedangkan Nadin menatap ruangan yang ada di kamar itu. Mungkin ia masih terkejut dengan semua ini, apalagi selama ini Alex tidak pernah menceritakan tentang seberapa kaya dia.
"Sayang," teriak Alex yang membuat Nadin menggeleng pelan.
"Kenapa?" tanya Nadin duduk di kasur itu.
"Gak apa apa aku mau tidur aja sama kamu. Capek kemarin bergadang nungguin kamu ngedrakor," jawab Alex yang memang sangat ngantuk jika sudah sampai kamar. Entahlah bagaikan sebuah bius ia ingin sekali cepat tidur.
Nadin yang mendengar itu langsung melepas sepatunya dan sepatu Alex. Karena bisa bisa nanti kotor kasur itu.
"Kamar kamu bagus, beda banget sama kamar kost aku."
"Tapi aku lebih nyaman di kost kamu sayang. Gak ada yang berani ganggu, lagipula aku jarang pulang kesini. Aku lebih suka di apartemen."
__ADS_1
Bugh
Alex menarik tangan Nadin agar berbaring di sebelahnya.
"Kenapa lebih suka di apart? Kenapa gak disini aja?" tanya Nadin dengan senyum manisnya menatap Alex yang sedang menatapnya penuh cinta itu.
"Sepi disini. Mama sama papa juga sering gak ada. Jadi aku lebih memilih pindah ke apartemen dan sekarang aku juga sangat menyukai kamar kost kamu yang sangat wangi dan menggoda."
Nadin yang mendengar itu hanya tertawa bisa juga laki laki macam Alex terus terusan bicara manis seperti ini.
"Pak dosen udah mulai bucin ya?" tanya Nadin menoel hidung mancung milik Alex.
"Terima kasih sudah mau menerima wanita kotor ini."
"Kamu bukan wanita kotor, kamu adalah wanita berharga dan aku akan membuktikannya saat kita sudah menikah nanti."
Nadin tersenyum seraya mengelus rambut Alex yang sudah waktunya untuk dipotong.
Sedangkan Alex tampaknya lebih gelisah dengan tangan yang sudah melepaskan res***ing gaun itu hingga lengannya turun sampai dada.
"Mau nen."
__ADS_1
Nadin menghela nafasnya, Alex memang seperti ini sejak dia menjadi kekasihnya. Bahkan tak tanggung tanggung Alex meminta Nadin untuk memua*kan dirinya dengan tangan ataupun mulut.
"Terserah kamu aja asal jangan yang lain."
"Heem."
Alex mulai meremat buah itu kemudian menarik tali yang mengikat kain berbusa itu.
"Makin gede aja yank. Gak sia sia aku usaha 4 bulan ini," ucap Alex tanpa filter.
"Frontal banget jadi cowok. Gak mikir apa pacarnya yang malu?" tanya Nadin dengan nada gemas. Bahkan ia menarik kembali dada yang sudah ada di mulut Alex.
"Sayang," rengek Alex bagai anak kecil yang mainannya diambil.
Tawa Nadin menyebar ke ruangan itu, dengan gerakan cepat Alex mengambil baju itu dan menghisapnya dengan kuat.
"Ashhh sakit sayang, kamu kok KDP sih," ucap Nadin menepuk pundak Alex.
Alex tak menghiraukannya, Alex meneruskan aktivitasnya yang membuat Nadin menggigit bibirnya pelan agar tidak mengeluarkan sea yang membuat Alex makin menjadi.
****"
__ADS_1