
Setelah selesai memakan sarapan mereka tadi, keduanya langsung menuju kampus yang jaraknya tak jauh dari kost mereka itu.
"Katanya hari ini ada dosen baru, Nad," ujar Tina pada Nadin yang fokus pada ponselnya.
"Alah paling dosennya udah tua. Keriput pula, percuma gak bisa diisengin kayak yang udah udah," jawab Nadin dengan santainya.
"Denger denger masih muda tahu, Nad. Moga moga ganteng," ucap Tina membayangkan bagaimana dosen mereka nanti.
Nadin hanya menggeleng, yang ada di pikirannya bukanlah dosen tampan atau tidak. Tapi Alex, laki laki yang tadi malam ia goda. Rasanya ia ingin menyentuh tangan Alex yang kekar dan berotot itu lagi.
"Loh Nad, gelang kamu mana?" tanya Tina menatap pergelangan tangan Nadin yang kosong biasanya Nadin akan memakai gelang yang digadang gadang adalah gelang warisan Mamanya sebelum meninggal.
Sontak saja Nadin langsung melihat ke arah tangannya dan benar saja gelang warisan sang mama sudah tak ada.
"Jatuh di kamar mungkin, dah lah gak apa apa nanti juga ketemu," jawab Nadin dengan santainya. Pasalnya gelang itu sering sekali jatuh di kamar dan berakhir ia temukan lagi.
Sebelum ke kampus, keduanya lebih dahulu pergi ke bank untuk mengambil uang biaya kuliah Nadin yang tidak sedikit.
Setelah mengambil uang keduanya berjalan kembali ke arah kampus. Apakah keduanya malu jika jalan kaki? Tentu saja tidak karena mereka di desa sudah sering seperti ini. Lagipula jalan kaki kan sehat.
Akhirnya mereka sampai di kampus, suasana sudah ramai karena jam sudah menunjukkan pukul 7 lebih 25 menit. Masih lama sebenarnya tapi katanya hari ini ada dosen baru yang akan diumumkan di aula kampus jam setengah 8.
"Aku ke ruang administrasi dulu ya, gak enak bawa uang segini ke sana. Nanti aku nyusul kamu," ucap Nadin pada Tina yang menganggukkan kepalanya.
Keduanya berpisah di lorong itu, kemudian Nadin berjalan cepat menuju ruang administrasi. Tak sengaja Nadin berjalan cepat hingga menabrak laki laki yang ada di depannya.
Brugh
"Asshh."
Nadin jatuh begitupun dengan laki laki itu, Nadin yang tak mau lama itu langsung bangkit dan menolong laki laki itu.
"Maaf ya pak. Saya gak sengaja, mau ke ruang administrasi dulu," ucap Nadin tanpa melihat ke arah laki laki itu.
__ADS_1
"Kamu..."
"Sekali lagi saya minta maaf, buru buru soalnya," ucap Nadin dengan sopan berbeda sekali dengan kemarin.
Dengan cepat Nadin meninggalkan tempat itu menuju ruang administrasi kampus itu.
"Nadin bukan sih? Sepertinya iya, tapi kenapa sikapnya berbeda sekali dengan yang kemarin?" tanya laki laki.
Dari depan ada laki laki patuh baya yang sedang berjalan cepat ke arah laki laki itu.
"Maaf lama tuan Alex, mari saya antar ke aula," ajak seorang rektor disana.
"Baik pak."
Yah laki laki itu adalah Alex, Alex adalah dosen sementara sekaligus pemilik perusahaan raksasa di negara itu. Sebenarnya Alex tak mau menjadi dosen tapi ia hanya ingin membuat neneknya tahu jika dia bisa jadi dosen walau hanya sementara.
***
"Bu, mau bayar kuliah."
"Gak lihat dosen baru Nad?" tanya wanita itu.
"Paling juga tua Bu, dosennya," jawab Nadin duduk di kursi itu.
"Eh jangan salah ya Nad. Tadi ibu lihat dia masih muda, gagah lagi. Sayangnya Ibu lupa minta nomor dan tanya namanya," ucap wanita itu dengan tawa recehnya.
"Ibu kalau lihat yang bening langsung ijo matanya. Kadang kadang lupa kalau masih napak tanah," ucap Nadin dengan tawanya.
Nadin memang cepat bergaul dengan orang baru. Apalagi seluruh dosen sudah tahu siapa Nadin. Nadin sendiri yang bilang pada mereka bahkan pak rektor juga sudah tahu jika dia adalah sugar baby.
Awalnya memang terkejut tapi mereka tahu jika Nadin bukanlah dari orang berada. Tapi jika melihat Nadin mereka sudah berpikiran seperti itu. Tak masalah memang selagi Nadin tidak mencoreng nama baik kampus dan juga tak membuat onar, Nadin siswa yang berprestasi jadi mereka bisa tenang jika Nadin memilih keputusan itu.
"Hahaha tahu aja Nad. Bahkan ibu lupa kalau punya suami."
__ADS_1
"Untung pak Bandi sabar ngadepin ibu ya."
"Tapi kamu bener gak naksir sama tuh dosen baru?" tanya wanita itu.
"Wong lihat orangnya aja belum, mau suka darimana?" tanya Nadin menerim kuitansi pembayaran tadi.
"Coba deh kamu deketin siapa tahu jodoh."
"Mana mau seorang dosen sama saya yang notabene adalah sugar baby Bu?" tanya Nadin dengan sedih. Kadang ia malu dengan pekerjaannya ini, tapi mau gimana lagi cuma ini yang membuat ia kaya dengan mendadak.
"Siapa tahu rejeki."
Nadin hanya tersenyum kemudian pamit pada wanita dengan sopan ia keluar dari ruangan menuju aula.
Sebenarnya ia juga kepo dengan dosen itu, jika Bu Wania saja bilang dosen itu tampak maka memang benar tampan.
Sampainya di aula ia langsung mengambil kursi yang sudah di siapkan Tina. Wanita itu masih belum sadar jika ada sepasang mata yang mengawasinya.
"Udah selesai urusan lu?" tanya Tina.
"Udah, gimana acaranya disini? Lancar?" tanya Nadin menatap keadaan sekitar yang sangat banyak siswa.
"Udah perkenalan dan asal lu tahu dosen baru kita itu seorang pengusaha Nad. Kaya bat deh kayaknya," ucap Tina membanggakan Alex yang notabene adalah dosen baru itu.
"Kalian berdua yang ngomong sendiri, silahkan berdiri!!"
Suara itu membuat Nadin mematung, kok gak asing ditelinga yang agak minus ini.
Langsung saja Nadin menatap podium yang berdiri seorang laki laki yang ia kenal tadi malam bernama Alex.
*****
*****
__ADS_1
*****
Nadin kayaknya kaget kalau Dosen baru itu Alex. Cerita mereka baru dimulai ga gaes, antara sugar baby dan juga seorang pengusaha.