
Pilihan Nadin memang tak pernah gagal, Tina sudah memakai pakaian yang dipilihkan Nadin hingga membuat Tina tampak cantik dengan balutan dress berwarna putih dengan motif bunga di sisi kanan itu.
"Cantik banget sumpah, sahabat gue udah mau jadi istri aja," ucap Nadin memeluk Tina yang sangat cantik dengan dress.
"Lu jangan gitu dong, Nad. Seakan akan gue bakal nikah sama orang jauh aja. Ingat ya ini cuma perjodohan, kita akan tetap jadi sahabat sampai anak anak kita punya anak anak," ucap Tina membalas pelukan Nadin.
"Gak kok Tin. Walau nanti lu bakal nikah lebih dulu daripada gue. Tapi gue yakin persahabatan kita gak akan pernah pudar sampai kita punya cucu dan cicit," ucap Nadin dan dianggukkan oleh Tina.
"Lu kok gak ganti baju?" tanya Tina data melihat pakaian yang dipakai sahabatnya masih sama dengan yang di pakai tadi siang.
"Gak ah males, nanti aja kalau aku udah mau tidur. Lagian aku gak bawa baju ganti," jawab Nadin dengan senyum manisnya.
Lagian ia tak terlalu penting dalam acara ini. Ia hanya sahabat Tina yang mendampingi sahabat yang sudah sejak SMA selalu mendukungnya bahkan hingga saat ini.
"Gak gak gak, lu juga harus tampil cantik. Siapa tahu nanti kamu juga dapat jodoh dari ini. Siapa tahu kan saudara laki laki yang mereka ada yang tertarik sama sahabat aku yang cantik ini," ujar Tina mengambilkan bajunya yang masih baru dari dalam lemari.
Kenapa Tina tidak mengambilkan dress yang diberikan Ibunya tadi. Karena itu pemberian calon mertua kata Ibu Tina, nanti dikiranya gak sopan. Di kasih baju malah dibagi bagiin.
"Ni, dress aku masih baru. Dulu aku beli terus kebesaran bagian dada. Tapi sekarang pasti kamu pas, melihat dada kamu juga sangat sesuai dengan dress ini."
Dress yang diberikan Tina tak terlalu terbuka dan juga sepertinya pas di tubuh Nadin yang tinggi dibanding Tina.
"Makasih ya, nanti aku kembalikan kalau udah aku cuci," ucap Nadin dan dianggukkan oleh Tina.
"Buat kamu aja, anggap aja kenang kenangan lagian aku gak suka sama motifnya sekarang. Berhubung kamu suka yang halus halus gitu itu buat kamu," ucap Tina dengan senyum manisnya.
Nadin sudah ia anggap sebagai sahabat sekaligus saudara. Tina tahu jika Nadin sudah tak memiliki siapa siapa. Bahkan dulu Ibunya ingin mengadopsi Nadin sebagai anak mereka tapi yang yang saat itu sudah berusia 15 tahun menolak dengan alasan ia ingin mandiri saja. Lagipula saat itu ia sudah bisa berpikir untuk mencari kerja disela sekolahnya.
Nadin berjalan menuju kamar mandi dan memutuskan untuk mandi dengan cepat kemudian memakai dress milik Tina.
__ADS_1
Setalah keluar dari kamar mandi, Tina langsung terbengong melihat Nadin yang sangat cantik dengan dress miliknya.
"Cantik banget lu, kalau gini bisa bisa semua orang bakal takluk sama pesona dan kecantikan lu," ucap Tina.
"Gak gitu juga, lu tetap yang paling cantik."
Tina yang dipuji oleh sahabatnya itu tersipu malu, pasalnya jika dibandingkan dengan Nadin maka ia berada di bawahnya.
"Aku mau bantu Tante Hana di bawah. Aku gak mau cuma dibilang cuma numpang, kamu disini aja ya. Nanti kalau tamunya sudah sampai aku atau Tante Hana bakal kesini kabarin kamu ya," ucap Nadin mencubit pipi merah Tina.
"Gak boleh nanti aku sendiri lagi," ujar Tina tak mau Nadin pergi.
"Gak apa apa kok, nanti aku balik lagi kalau tamu tamu Tante udah datang. Lagian pasti di luar Tante Hana kesusahan," ucap Nadin dengan santainya.
"Ikut."
"Gak boleh!!"
"Pintar."
Nadin keluar dari kamar Tina menuju dapur, dan benar saja Tante Hana sedang masak dibantu berberapa tetangga hingga membuat Nadin bisa langsung bergabung.
"Anak siapa ini cantik sekali?" tanya ibu ibu disana pada Nadin.
"Nadin, Bu. Temannya Tina dari kota sebelah," jawab Nadin dengan jujur kemudian membantu sebisanya membuat mereka yang ada disana kagum dengan pribadi Nadin.
"Cantik sekali sudah punya calon belum?" tanya ibu yang satunya menatap wajah cantik Nadin.
"Sudah Bu."
__ADS_1
Nadin tak ingin memperlambat semua ini, pasti ibu ibu itu akan menjodohkannya dengan anak anak mereka. Nadin tak mau hal itu terjadi hanya mampu bilang sudah punya calon padahal belum sama sekali. Alex? Dia hanya partner Nadin saja tak lebih.
"Padahal Ibu ingin mengenalkan kamu sama anak ibu. Tapi gak apa apa kalau udah punya calon sendiri," ucap salah satu ibu disana.
Tuh kan benar, Nadin sudah memperkirakan hal ini akan terjadi jika berada di kampung halaman Tina. Untung Nadin ora hanya cerdas jika tidak mungkin ia akan berurusan dengan lama oleh Ibu ibu itu.
Mereka semua mempersiapkan makanan ya g ada ada di sana. Hingga sebuah ketukan pintu itu membuat mereka langsung menyuruh Nadin untuk membuka pintu. Sedangkan Ibu Hana harus memanggil anaknya yang ada di kamar.
Nadin yang kepo dengan siapa calon suami Nadin itu langsung pelan langsung melihat siapa laki laki yang ada di depan. Tapi Nadin tak bisa melihatnya hingga mau tak mau ia harus membuka pintu utama.
Kriieeettt
Deg
"Nadin!"
"Kak Alex!"
Keduanya saling terkejut dengan pikirannya masing masing, apa apaan ini kenapa Nadin ada di rumah ini. Apa Nadin orang yang akan dijodohkan?
Sedangkan Nadin menatap Alex dengan rasa penasaran di hatinya. Kenapa Alex yang datang ke rumah ini. Apa dia yang dijodohkan dengan Tina?
Kedua orang itu saling terbengong membuat mereka terkejut karena Bapak Tina langsung mempersilahkan mereka semua masuk.
****
****
****
__ADS_1
Wahh, Tina yang bakal dijodohkan sama Alex? Sedih hati kalau seperti ini.