Nadin Si Sugar Baby

Nadin Si Sugar Baby
Bohong


__ADS_3

Setalah memutuskan hal itu, Tina dan Tian masuk ke dalam rumah lagi dan mengatakan jika keduanya sepakat untuk menerima perjodohan ini.


Semua orang berbahagia tak terkecuali Nadin dan Alex sebagai sahabat mereka berdua.


Kedua keluarga memutuskan untuk langsung bertunangan hal itu membuat keduanya resmi menjadi sepasang tunangan.


"Syukurlah semua berjalan seperti yang aku inginkan," ucap Ibu Hana dengan senyum.


"Saya juga, Mbak."


"Kalau begitu mari makan dulu, gak enak rasanya udah jauh jauh kesini tapi gak makan makanan orang sini," ucap Ibu Hana mengajak mereka semua.


"Tan, Nadin pulang aja ya. Gak enak kalau harus makan bersama," ucap Nadin pada Hana tentu saja dengan pelan. Karena ia tak mau jika dianggap hanya numpang makan saja.


"Pulang apa hah? Udah malam, lagian ini juga rumah kamu. Ayo makan, kamu belum makan malam loh," ajak Ibu Hana menarik Nadin mengikuti suami dan calon besannya.


Akhirnya mereka semua menuju meja makan, dan makan malam bersama pun dimulai. Para perempuan mulai mengambilkan makanan untuk suami mereka karena itu sudah menjadi kebiasaan disana.


"Nak Nadin, tolong ambilkan makanan untuk nak Alex ya," pinta Ibu Anin pada Nadin.


Nadin menatap Alex yang hanya menampakkan senyum tipisnya. Nadin mengangguk dan mulai mengambilkan makanan untuk Alex.


Posisi mereka memang dekat, karena mereka bersebelahan.


"Mau lauk apa kak?" tanya Nadin pada Alex.


"Apa aja," jawab Alex.


Nadin mengambilkan nasi dan juga sayur serta lauk yang ada di atas meja itu.


Makan mereka berjalan dengan lancar, tapi tidak dengan Nadin dan Alex yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


"Nak Alex sudah punya calon, Nak?" tanya Bapak Tina yang sedari tadi melihat Alex diam.

__ADS_1


"Masih usaha memperjuangkan, Tuan."


"Hahaha panggil om saja, jangan terlalu formal," ucap Bapak Tina dengan tertawa melihat jika pemilik perusahaan terkenal itu memanggilnya Tuan. Jujur ia juga tersanjung saat di panggil Tuan oleh Alex.


Sedangkan Nadin yang mendengar jawaban Alex sedang memperjuangkan seorang wanita. Lagi lagi ia langsung insecure dan ia ingin langsung tenggelam saja dari rumah Tina.


Tadi ia sudah lega saat ternyata yang dijodohkan dengan Tina bukan Alex tapi ini apa? Kenyataan yang membuat ia down adalah Alex sudah punya wanita idaman lain.


"Oalahh ternyata sudah punya yang spesial ya? Padahal Bapak mau deketin kamu sama Nadin, dia anak yang baik, sekaligus sahabat Tina sejak SMA."


"Om, Nadin juga udah punya pacar sendiri," jawab Nadin berbohong. Ia terlalu takut jika semakin berharap yang tidak pasti.


"Loh siapa Nad? Bukanya lu jomblo ya?" tanya Tina pada Nadin yang mengatakan jika dia sudah memiliki pacar.


Nadin menginjak kaki Tina hingga membuat wanita itu meringis pelan.


"Diam, jangan ikut campur," bisiknya.


"Sakit."


Mendengar ucapan Tian yang memanggilnya sayang membuat mereka yang ada disana langsung menggoda Tina dan Tian. Hingga lupa dengan apa yang diucapkan Nadin tadi.


"Ada semut gigit kaki aku," jawab Tina dengan wajah meronanya. Sungguh Tina mengutuk Nadin yang menginjak kakinya yang mulus.


"Semut? Emang ada, sayang?"


"Udah nanti biar Bapak kamu yang hilangin semutnya besok."


Mereka akhirnya menyelesaikan makan malam bersama itu dengan hikmat. Alex dan Nadin yang notabene orang luar itu hanya bisa mengikuti apa yang para tetua bicarakan.


"Karena ini sudah malam, maka kami sekeluarga dan kerabat mohon undur diri. Bapak, Ibu."


Mereka mengakhiri pertemuan mereka setelah mendapat titik terang dari perjodohan ini.

__ADS_1


Setelah pamit, mereka semua keluar dari ruang itu tak terkecuali Alex yang menarik tangan Nadin agar ikut bersamanya.


Setelah sampai luar, Nadin melepaskan pegangan itu dengan paksa. Sakit rasanya saat tangan Alex mencekal tangannya dengan sangat erat.


"Sakit kak."


"Aku tunggu disini, kita pulang sekarang," titah Alex yang membuat Nadin dengan cepat menggeleng.


"Aku mau nginap disini, lagian kakak siapa nyuruh nyuruh aku pulang?" tanya Nadin dengan nada kesal.


Dengan seenak jidat, Alex menyuruhnya pulang bersama. Kan ia sudah dulu disini, dan akan menginap di rumah Tina.


"Aku sudah menyewa kamu dalam waktu yang lama. Jangan membuat aku marah dengan sifat keras kepalamu itu," ucap Alex dengan tegas tak ada raut ramah dan lembut seperti biasa hingga Nadin sedikit takut.


Ia tak pernah mendapatkan tatapan tajam dan juga ucapan dingin seperti ini dari orang lain.


"Kakak egois, aku bukan boneka kamu. Kalau kamu tidak ikhlas menolongku lepas jadi pekerjaan itu lebih baik lepaskan aku dan aku bisa memulai hidupku sendiri tanpa kamu."


"Kita tak dekat, bahkan aku tidak kenal banyak kakak. Buat apa aku menuruti perintah orang yang notabene adalah pelanggan hah?"


Habis sudah kesabaran Nadin, ia tak bisa diperlakukan semena-mena oleh orang lain apalagi itu Alex.


"Aku tidak menerima bantahan Nadin, kamu mengiyakan atau aku sebar informasi kamu yang seorang sugar baby?" tanya Alex mengancam Nadin yang keras kepala.


Nadin yang diancam itu hanya bisa mengangguk, walau ia tak suka disuruh suruh seperti ini tapi ia tak mau juga jika informasi tentang dirinya sampai bocor ke orang lain hanya karena Alex.


"Aku tunggu disini, jika 5 menit kamu tidak juga keluar dari rumah ini aku bakal teriak agar semua orang tahu kamu adalah milikku," ucap Alex yang membuat Nadin menggeleng karena ia memang tak mau sampai orang lain tahu jika ia ada something dengan Alex.


Akhirnya Nadin mau tak mau menuruti apa kata Alex. Ia mengambil barangnya dan juga pamit pada Tina serta orang tuanya jika ia tiba tiba ada urusan mendadak.


Tina yang berpikir jika Nadin ada urusan dengan para om omnya mengizinkan saja. Hingga membuat Nadin mudah untuk keluar dari rumah itu.


****

__ADS_1


****


****


__ADS_2