
Akhirnya Nadin sampai di hotel jam 7 kurang, ia langsung menuju kamar hotel tempat dimana Om Dion dan dirinya bertemu. Hotelnya juga gak ecek ecek, hotel ini adalah hotel bintang lima dengan segala keindahan interior kamarnya.
Ceklek
Om Dion sedang bersama seseorang sepertinya ia kenal dengan suara laki laki yang sedang membelakanginya itu.
"Oh hai baby," sapa Om Dion pada Nadin.
"Halo Om."
Laki laki itu langsung mengajak Nadin duduk di sofa itu. Nadin hanya menganggukkan kepalanya.
Degh
"Om Alex."
Nadin cukup terkejut karena melihat Alex ada di depannya. Dosen baru itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu sudah kenal sama Alex, Nad?"
"Sudah Om, dia Dosen Nadin di kampus."
"Oh baguslah kalau begitu, hari ini dia yang akan menyewa kamu."
"Lah terus om?"
"Ada Tina, aku memanggilnya tadi," jawab Om Dion yang membuat Nadin langsung menatap Alex.
"Oh jadi hari ini Nadin sama Om Alex gitu ya, oke deh. Selamat bersenang senang ya om."
"Iya cantik."
"Alex jangan sakiti Nadin."
Entah kenapa partner partnernya ini tak mau ia tersakiti padahal ia hanya gadis rendahan. Tapi hal itu sudah membuat Nadin bahagia.
"Alex gak sakiti dia Om."
Alex menarik pelan tangan Nadin menuju kamar VIP milik Alex yang ada dikamar atas.
"Om, jangan disebarin ke anak anak kalau Nadin ini Sugar Baby ya," ucap Nadin dengan melas. Ia menyamakan langkah kaki Alex yang berjalan.
"Hmm."
"Om kenapa mau sewa Nadin? Terpesona ya sama Nadin yang cantik ini," ujar Nadin dengan percaya diri.
"Saya cuma mau rasain kamu aja," jawab Alex dengan santainya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, Om. Emang Nadin parfum di supermarket yang bisa dicobain sama semua orang," ujar Nadin yang seolah olah melas.
Alex tak menjawab karena mereka sudah sampai di depan kamar VIP milik Alex yang memang benar berada di lantai paling atas.
"Masuk."
"Om jangan perkaos Nadin ya."
"Bukannya itu pekerjaan kamu?" tanya Alex yang heran kenapa Nadin bilang seperti itu.
"Ih emang bener Nadin itu bayi gula tapi Nadin masih perawan loh. Nadin mau memberikan mahkota Nadin buat suami Nadin," jawab Nadin berjalan menuju ranjang dan melepas sepatunya yang sedari tadi menyiksa.
Senyum tipis itu terbit dari bibir Alex yang sedari tadi ingin tersenyum manis dan lebar.
"Oke oke, aku tak akan memperko*a kamu tapi aku punya syarat untuk itu," ucap Alex ikut duduk di ranjang. Sikap formal Nadin tadi sudah tak lagi berlaku lagi untuk Alex.
"Apa?"
"Ubah panggilan kamu itu padaku, aku tak setua itu untuk kamu panggil Om."
"Terus Nadin harus panggil apa?" tanya Nadin dengan bingung. Ia sudah biasa memanggil Om pada siapa pun yang lebih tua dengannya.
"Om itu lebih tua daripada aku, Om juga dosen aku di kampus. Jadi harus panggil apa?"
"Terserah kamu yang penting jangan Om."
"Boleh, tidak buruk."
Nadin bingung dengan apa yang harus dia lakukan sekarang, biasanya partnernya yang akan memulai apa yang harus ia lakukan tapi kalau Alex yang super kaku seperti ini ia harus gimana?
"Kak, aku harus gimana?" tanya Nadin dengan polosnya.
"Lakukan seperti kamu melayani pelangganmu," jawab Alex.
"Oke tapi sebelum itu, Nadin ada syarat yang sama seperti para pelanggan Nadin dulu yaitu:
Gak boleh ada se*s hanya boleh pakai tangan.
Tidak boleh berciuman.
Udah itu aja," ucap Nadin.
"Tidak bisa, kalau yang satu aku masih bisa mentolerir tapi kalau ciuman itu adalah hal yang wajib saat berhub*ngan."
__ADS_1
"Oke kalau gitu khusus Kakak yang Alhamdulillahnya ganteng banget, aku hanya bisa kasih satu itu aja. No 2 aku hapus," jawab Nadin dengan santainya.
"Deal."
Akhirnya Nadin pamit dulu ke kamar mandi, sedangkan Alex hanya menatap punggung Nadin yang mulai menghilang dibalik pintu.
Ia melepas jas dan dua kancing atas kemejanya. Melihat dada Nadin tadi yang hampir tumpah itu membuat Alex panas. Alex juga sudah melepas sepatunya dengan santainya.
Ceklek
Tak lama Nadin keluar dengan baju lingerie berwarna hitam itu. Alex yang melihat Nadin sangat seksi itu langsung menelan ludahnya kasar.
Nadin berjalan seperti model menuju ranjang, ia tahu Alex terpesona dengan tubuhnya yang indah ini.
"Gimana Kak, Nadin sek*i gak?" tanya Nadin dengan nada menggodanya.
"Hmm sangat," jawabnya dengan senyum.
Nadin yang melihat senyum Alex itu langsung terpekik karena ini adalah senyum yang pertama kali ia lihat dari Alex.
"Wahh Kakak bisa senyum juga?" tanya Nadin dengan polosnya.
"Aku juga manusia Nadin."
Nadin naik ke kasur empuk itu kemudian duduk di paha Alex dan melihat dada Alex yang sangat menantangnya.
"Nadin buka ya Kak?" tanya Nadin saat ingin membuka kancing kemeja Alex.
"Buka aja, aku sudah memesan kamu."
"Ya aku tahu," jawab Nadin.
Kemudian Nadin melepas kancing baju Alex hingga tampaklah dada bidang dengan enam kotak diperut Alex.
"Tubuh kakak bangus banget sih."
"Tubuhmu juga bagus."
Tangan Alex ternyata nakal, tangan itu tak bisa dihentikan saat sudah berada di pinggang Nadin.
Kruyukkk
****
****
****
__ADS_1
Apaan tuh yang bunyi?