
Nadin melepaskan tangan Alex dengan pelan. Hal itu cukup membuat Alex takut jika Nadin menolaknya.
"Kenapa kamu lepas?" tanya Alex pada Nadin.
"Nadin ragu kak. Kita baru aja bertemu, apa secepatnya ini kakak bilang cinta. Aku takut ini bukan cinta tapi hanya obsesi saja," jawab Nadin dengan pelan.
Rasa takut dikhianati oleh pasangan membuat Nadin sebisa mungkin tak iya iya saja menerima Alex.
"Ini bukan obsesiku saja, Nadin. Aku benar cinta sama kamu," jawab Alex dengan serius. Bahkan nada bicaranya berbeda dengan biasanya.
Nadin menatap Alex yang juga sedang menatapnya dengan tatapan serius bahkan ia tak melihat kebohongan di mata Alex.
"Jujur aku baru sadar jika aku cemburu melihat kedekatan kamu dengan Kevin. Aku gak mau kamu dekat dengan laki laki itu."
"Aku hanya teman dengan Kevin."
"Aku juga laki laki Nadin. Aku tahu Kevin juga mencintai kamu, aku tak ingin kamu sama dia," ucap Alex dengan lembut.
Jantung Nadin berdetak kencang bahkan jika Alex mendekat lagi ke arah Nadin. Mungkin Alex bisa merasakan dan mendengar detak jantung itu.
Tiba tiba saja wajahnya jadi merah, ia malu karena mendapat ungkapan cinta dari seorang laki laki yang memang ia cintai sejak pertama bertemu. Nadin sudah menyukai dan menaruh rasa pada Alex sejak bertemu dengan Alex dan Tian di jalan saat itu.
Tatapan tajam Alex membuat Nadin terus saja terbayang dan juga tangan Alex yang menyentuh dadanya saat itu.
__ADS_1
"Berikan satu alasan kenapa kak Alex menembakku seperti ini?" tanya Nadin yang ingin memastikan hatinya sendiri dan juga hati Alex.
"Aku tak butuh alasan untuk mencintai wanita yang aku suka. Dan.."
Alex menggenggam tangan Nadin kemudian meletakkannya di atas dadanya yang berdetak.
"Kamu merasakan bagaimana kencangnya detak jantung aku kan?" tanya Alex dan dianggukkan oleh Nadin.
"Aku tahu mungkin ini terlalu cepat buat kamu dan buat kita. Tapi aku tak bisa terus menahan rasa cemburu yang terus muncul dalam diriku," tambah Alex dengan serius.
Nadin yang mendengar itu langsung tersenyum, ia sudah memutuskan keputusan yang tepat untuk ini.
"Aku terima kak. Tapi..."
"Terima kasih baby."
"Aku belum selesai menjawab kak," ucap Nadin dengan senyum manisnya.
"Oke teruskan," ucap Alex tak bisa lagi menyembunyikan senyum tampan yang mampu membuat Nadin terpana berkali kali.
"Tapi apa kakak gak malu jika memiliki hubungan dengan seorang yang pekerjaannya kotor sepertiku?" tanya Nadin yang membuat Alex langsung menatap sang kekasih.
"Aku tak malu, karena ini hidupku. Orang mau berbicara apa aku tak peduli selagi aku tahu apa yang harus aku lakukan. Dan aku tahu kamu walau masih berberapa hari," jawab Alex dengan senyumnya.
__ADS_1
Baginya pekerjaan Nadin bukanlah menjadi alasan untuk tidak mencintai Nadin. Lagipula setahu Alex, Nadin bukan orang yang kotor.
Alex mendengar dari salah satu orang yang mengatakan jika Nadin sudah membuat dirinya sadar untuk tetap setia dengan istrinya.
"Orangtua kakak?" tanya Nadin yang takut jika orangtua Alex tak merestui hubungan mereka.
"Hmmm sebenarnya Mama dan Papa ingin aku segera menikah. Mereka menyerahkan semuanya padaku. Bahkan aku bebas memilih wanita yang ingin aku nikahi. Kamu pasti sudah tahu jika aku hanya ingin meniakh sekali seumur hidup kan?" tanya Alex dan dianggukkan oleh Nadin.
"Dan pilihanku jatuh pada dirimu, Nadin. Aku sadar perasaanku ini bukan hanya sebatas mengagumi tapi juga mencintai," tambah Alex yang kini malah membuat Nadin menangis.
Nadin menangis karena ia bahagia dengan apa yang diucapkan oleh Alex. Ia tak menyangka jika laki laki spek Alex bisa mencintainya.
"Terima kasih sudah memilihku."
Keduanya saling memeluk, menyalurkan kebahagiaan mereka berdua.
******
*******
Selamat kepada kedua manusia ini. Tya ikut seneng kalau kalian bisa bersama. Selamat ya.
Setelah ini alur aku percepat ya agar cepat end.
__ADS_1