
Hari demi haripun berlalu, hubungan Alex dan Nadin juga sudah berjalan 4 bulan. Semua mereka lalui tanpa ada halangan berarti bagi mereka. Walau ada saja batu sandungan dalam hubungan keduanya.
Hari ini adalah hari Minggu, Alex juga mengajak Nadin menginap di apartemennya. Setelah seminggu lebih Alex yang selalu menginap di kost Nadin.
"Sayang aku mau makan martabak deh," ucap Nadin yang memeluk perut kotak kotak Alex yang sedang bersandar di headboard itu.
"Kamu ngidam?" tanya Alex spontan.
Plak
"Sembarangan kalau ngomong, aku bukannya ngidam tapi lagi pengen aja. Wong hari ini aja aku udah datang bulan," ucap Nadin menepuk perut itu sedikit keras. Tapi bagi Alex itu bukan pukulan yang keras.
"Loh aku kok gak tahu kalau kamu lagi datang bulan? Biasanya kan kamu ngeluh sakit perut dulu sama aku," ucap Alex dengan lembut.
Sifat dan kepribadian Alex kini juga sangat berubah drastis jika bersama Nadin. Tapi balik lagi jika di luar apalagi di kantor dan kampus.
Jika ada yang bertanya apakah mereka pernah nyicil bikin telinganya dedek bayi udah apa belum jawabannya adalah belum. Atau bisa dibilang Alex menunggu sampai mereka halal dulu. Itu petuah dari sang ibunda kepada Alex. Jadi sekuat tenaga Alex akan menahan untuk tidak memasuki rumah ularnya dulu.
"Gak tahu, habis ini kita beli martabak ya sayang," rayu Nadin mengecup singkat perut itu.
"Nanti ularnya bangun lagi kamu yang bakal kewalahan," ucap Alex mengelus pucuk kepala Nadin.
"Selagi kamu puas. Aku gak apa apa kalau pegel tangannya," jawab Nadin dengan senyum manisnya.
__ADS_1
Alex ayang mendengar jawaban Nadin itu gemas dan mencubit hidung mancung Nadin. Nadin memang memiliki hidung mancung hingga hidung itu yang menjadi sasaran empuk untuk cubitan Alex.
"Makasih."
"Hmm tapi nanti makan martabak pokoknya. Aku mau yang rasa pandan dengan toping lengkap ya."
"Iya nanti kita beli sekalian kita pergi ke suatu tempat dulu," jawab Alex yang membuat Nadin bersorak gembira.
"Aaa makasih sayang."
"Eh tapi kamu gak ke kantor?"
"Libur, ini kan hari Minggu. Hari aku buat kamu," jawab Alex mengangkat tubuh Nadin ke atas pahanya dan mencium bibir wanita itu dengan lembut. Nadinpun membalas ciuman itu tak kalah lembut.
****
"Gaun? Tumben kamu kasih aku gaun sebagus ini?" tanya Nadin pada Alex dengan nada senang. Walau ia sudah memiliki banyak gaun tapi jika dari sang kekasih maka akan beda lagi sensasinya.
"Memangnya kita mau kemana?" tanya Nadin pada Alex mencoba mencocokkan gaun itu ke tubuhnya yang ideal.
"Ke rumah utama sayang. Aku ingin memperkenalkan kamu pada Mama dan Papa," jawab Alex memeluk tubuh Nadin dari belakang.
Mendengar jawaban Alex membuat Nadin langsung diam. Apa ia sudah siap bertemu dengan orangtua Alex?
__ADS_1
"Aku belum siap."
"Mereka terus menanyakan kamu sayang."
"Apa kamu bilang tenang aku pada mereka sampai mereka menanyakan aku?" tanya Nadin dan dianggukkan oleh Alex.
"Tanpa aku beritahu mereka pasti sudah mencari tahu lebih dulu soal kamu dan hubungan kita sayang."
"Jadi maunya ke rumah utama?"
Alex yang melihat keraguan dari Nadin itu langsung menggenggam tangan Nadin dari belakang.
"Mereka baik kok sayang. Kamu gak perlu takut kan masih ada aku yang selalu sama kamu. Mau ya ketemu Mama dan Papaku?" tanya Alex pada Nadin.
Nadin yang mendapat pertanyaan itu langsung mengangguk. Tak ada salahnya ia bertemu orangtua kekasihnya.
"Ayo pakai gaunnya dan kita pergi cari martabak biar anak anak kita gak ileran," canda Alex mengelus perut Nadin.
"Ishh aku belum hamil."
"Hahaha nanti kamu juga bakal hamil sayang dan melahirkan anak anak kita yang lucu lucu."
"Iya iya. Makin sayang deh sama kamu," ucap Nadin mengecup singkat bibir Alex kemudian berlari menuju kamar mandi.
__ADS_1
Sedangkan Alex yang melihat itu hanya tersenyum menahan gemas untuk tidak menggigit pipi merah wanita itu.
*****