
Setelah sarapan pagi, Nadin naik ke kamar atas karena baju yang di pesan Alex sudah sampai.
Sedangkan Alex lebih memilih menunggu di bawah, karena besar kemungkinan jika ia ikut Nadin ke atas adiknya akan bangun lagi.
Tak lama menunggu akhirnya Nadin keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah di pesan tadi.
"Sudah siap?" tanya Alex yang sedari tadi menunggu Nadin.
"Udah," jawab Nadin.
Kemudian mereka berjalan keluar dari apartemen menuju parkiran. Dengan Nadin nebeng Alex, kan Nadin bisa hemat uang 50 ribu.
Sampainya di mobil, lagi lagi Nadin tak mau memakai sabuk pengamannya. Dan lagi lagi Alex harus memakaikan sabuk pengaman itu pada Nadin.
Mungkin hal itu akan menjadi kebiasaan mereka berdua. Lagian Nadin manja banget jadi anak, maunya di pakaikan Alex terus.
"Bisa dilonggarin gak kak? Sesak nih?" tanya Nadin dan dianggukkan oleh Alex.
Setelah sabuk pengaman terpasang dengan baik, Alex melajukan mobilnya menuju kampus. Ia tak mungkin lagi menurunkan Nadin di pinggir jalan lagi.
"Kak," panggil Nadin.
"Hmm."
"Kenapa Kakak tiba tiba bisa berada di hotel saat itu? Apa kakak sudah mengetahui jika Nadin ada disana? Dan kenapa kakak yang jadi partner aku?" tanya Nadin yang masih bingung kenapa Alex dulu ada di hotel tempat ia dan Om Dion janjian. Hal itu yang belum bisa ia cerna sampai sekarang.
"Hanya penasaran aja sama kamu dan kini aku mulai terpikat sama pesona sugar babyku ini," jawab Alex menggenggam tangan Nadin yang ada di paha itu.
__ADS_1
"Gak mungkin kalau cuma penasaran. Pasti kakak udah mata matain aku kan?" tanya Nadin menatap selidik ke arah Alex.
"Bukan mata mata, Nadin. Aku hanya mencari identitas kamu saja, dan yah aku menemukan pekerjaan kamu yang sebenarnya sebelum aku tahu kamu adalah mahasiswaku di kampus."
"Jadi kakak tahu semua tentang aku?" tanya Nadin pada Alex.
Alex menggeleng, ia tak cukup tahu tentang Nadin. Alex hanya tahu jika Nadin adalah gadis yatim-piatu yang menghidupi dirinya dengan pekerjaan itu.
"Terus."
"Ya pokoknya gitu, aku gak terlalu banyak tahu tentang kamu. Bagiku kamu wanita yang istimewa, entah itu hanya obsesiku atau memang murni dari hati," jawab Alex yang membuat Nadin mengangguk.
Mobil itu terus melaju menuju kampus, sedari tadi tangan mereka juga tak pernah terlepas. Nadin yang merasa tangannya berkeringat itu mencoba melepaskan ya tapi tak bisa karena Alex menggenggamnya erat.
Dan akhirnya mereka sampai di kampus, Alex tak lagi menurunkan Nadin di halte dekat kampus tapi Alex mengehentikan mobilnya itu di depan gerbang kampus. Hal itu membuat Nadin yang tak mau anak anak tahu Alex ada hubungan dengan dirinya.
"Lah emang itu tujuanku."
"Nanti aku di bully sama anak anak, terus gimana kalau nilaiku jelek di mata pelajaran dosen lain yang suka Kakak. Ih kakak sih, terus gimana nih, banyak orang di luar," ucap Nadin menatap luar.
Memang banyak anak anak yang berada di luar gerbang, biasalah mereka ingin cuci mata melihat anak anak famous yang jarang mereka temui hari ini.
"Udah gak ada yang tahu ini aku kok. Kalau kamu dibully telepon aku aja, aku juga sudah menyiapkan bodyguard khusus buat kamu," jawab Alex dengan senyum manis.
Nadin yang jarang melihat senyum Alex itu tersepona eh terpesona. Tapi ia langsung sadar kemudian mengangguk. Semoga saja tidak ada yang sadar itu adalah Alex.
"Uang saku kamu sudah aku kirim ke ATM yang kemarin beserta bonus yang biasa. Gunakan untuk keperluan kamu ya," ucap Alex yang membuat Nadin terkejut.
__ADS_1
Pasalnya ia saja lupa dengan kartu pemberian Alex yang sudah ada di dalam dompetnya. Maklum saja ia jarang buka dompet yang bagian kartu.
"Berapa?" tanya Nadin kepo. Sekelas Alex memberikan uang bonus dan jajan untuknya, seperti nafkah suami untuk istrinya saja.
"150 juta," jawab Alex dengan tenangnya. Bagi Alex uang segitu tidak ada apa apanya untuk dirinya yang notabene adalah seorang sultan.
"Wah, bisa kaya mendadak dong aku kalau tiap hari gini," ucap Nadin dengan senyum manisnya ia membayangkan jika ia satu bulan bersama Alex mungkin ia akan mendapat bermilyar milyar.
Jika masalah yang Nadin tak akan malu malu untuk berbicara. Tapi tenang Nadin bukan cewek matre yang memorotkan laki laki hanya untuk mencari uang. Ia akan menerima uang jika ia bekerja sesuai dengan apa yang ia kerjakan. Dan bersama Alex juga pekerjaannya.
"Jika kamu menjadi istriku, maka kekayaan aku akan menjadi milik kamu, Nad," ucap Alex dengan senyum. Entahlah Nadin bisa percaya atau tidak dengan omongan itu.
"Mau dong jadi istrinya," ucap Nadin pada Alex.
"Belajar dulu yang bener, nanti kalau aku sudah memantapkan hati. Aku akan mengatakan apa yang aku rasakan," jawab Alex mengelus rambut Nadin.
"Hmm. Makasih sekali lagi, aku keluar dulu ya kak. Mumpung sepi nih," ucap Nadin dan dianggukkan oleh Alex.
Setelah mengatakan hal itu, Nadin langsung keluar dari mobil itu dan berjalan menuju kampus. Nadin terlihat menyapa seorang satpam yang ada di dekat gerbang sana.
"Aku harus meyakinkan hatiku dulu."
*****
*****
*****
__ADS_1