
Saat mereka sudah ada di ruang tamu, Alex dan Nadin masih saling bertatapan. Nadin terlihat kecewa dengan apa yang akan terjadi setelah ini.
Tak lama Tina keluar dengan Ibu Hana, Nadin tersenyum tipis melihat sahabatnya. Yang mungkin akan menjadi jodoh Alex, apa ia harus senang atau tidak.
Ia tak punya hubungan apapun dengan Alex bahkan untuk merasa tak suka saja ia tak berhak.
Sedangkan Alex yang melihat ada wanita lain itu membuat ia berpikir, siapa yang akan dijodohkan Nadin atau Tina?
"Maaf ya Bu Hana, Pak Tegar anak kami masih berada di jalan. Oh ya kenalkan ini nak Alex, sahabat Tian yang ikut sebagai saksi," ucap Ayah Tian pada orangtuanya Tina.
Deg
Nadin yang mendengar itu sedikit mengelak nafasnya kemudian tersenyum. Kenapa ia jadi senang saat tahu bukan Alex yang akan dijodohkan dengan Tina.
"Iya Pak. Oh ya, ini juga sahabat Tina namanya Nadin," jawab Ibu Hana pada mereka mengenalkan Nadin.
"Oh nak Nadin. Apa kita pernah bertemu rasanya sudah tak asing wajah Anda," ucap Ibu Anin pada Nadin.
Orangtua Tian itu seperti familiar dengan wajah Nadin. Tapi ia lupa dimana ia bertemu dengan Nadin.
"Maaf Tante, mungkin ini pertama kalinya," jawab Nadin pada Ibu Anin.
Tina yang duduk di samping Nadin itu langsung mencubit paha Nadin pelan. Membuat Nadin menatap Tina yang cantik di sampingnya.
__ADS_1
"Pak Alex kok ada disini?" tanya Tina dengan berbisik.
"Sahabatnya calon suami kamu," jawab Nadin pada Tina.
"Gue belum mau nikah muda," gumam Tina yang membuat Nadin menggeleng.
"Gue yakin setelah lu lihat calon suami kamu, lu bakal langsung terima perjodohan ini," ucap Nadin meyakinkan Tina.
"Kok lu bisa yakin banget?" tanya Tina yang hanya di balas senyuman oleh Nadin.
Tentu ia tahu siapa Tian, Tian adalah sahabat Alex yang ia bantu kemarin itu. Dan kepribadian Tian pasti sangat pas jika disandingkan dengan Tina.
"Lihat aja nanti, lu bakal langsung terima perjodohan ini."
Tina yang mendengar itu hanya memutar bola matanya, sahabatnya ini jika sudah yakin maka tak akan main main.
Hingga tak sengaja tatapan Nadin mengarah pada Alex yang juga sedang menatapnya. Alex tersenyum menatap Nadin, hal itu membuat Nadin salah tingkah.
"Kenapa pipi lu merah, Nad?" tanya Tina yang langsung digelengkan oleh Nadin.
Tak lama suara mobil itu terdengar dan Nadin tahu yang datang itu adalah Tian. Tian mengetuk pintu dan dibuka oleh Ibu Hana, dan mereka masuk.
Tina yang melihat Tian itu langsung paham apa maksud Nadin. Mereka pernah bertemu dan Tina sempat mengagumi Tian saat itu. Dan kini Tian akan menjadi calon suaminya. Pantas saja Nadin sangat yakin dengan ucapannya ternyata merek sudah kenal.
__ADS_1
Acara perjodohan keduanya berjalan tanpa ada halangan sedikit apapun. Sebelum memutuskan untuk menjawab perjodohan ini, Tian dan Tina memilih untuk berbicara dulu empat mata di luar.
Sedangkan Alex yang tak ingin meninggalkan Nadin itu langsung mendekat dan duduk di samping Nadin.
Orangtua Tian yang melihat Alex mendekat kearah Nadin itu hanya membiarkan saja. Siapa tahu anak dari sahabatnya itu bisa suka dengan Nadin.
"Kenapa pesan dan panggilanku tidak kamu jawab?" tanya Alex menatap Nadin yang sedang menundukkan kepalanya.
Ia malu jika ada orang yang melihat mereka berdua yang sepertinya dekat seperti ini.
"Aku tak bawa ponsel tadi, dan mungkin ponselku habis baterai," jawab Nadin dengan jujur.
"Kamu tidak bohong kan? Kamu cemburu dengan Bu Rena tadi kan?" tanya Alex yang membuat Nadin menggeleng.
Kemudian ia pindah duduk ke samping Ibu Hana, ia tak mau membuat Alex semakin bertanya yang tidak tidak dengannya. Bukan apa-apa masalahnya ini adalah acara orang.
*****
*****
*****
Syukurlah bukan Tina dan Alex yang dijodohkan, Hua nyenyak sudah tidurku malam ini.
__ADS_1
Tapi bagaimana dengan Tina dan Tian, apakah Tian akan menerima perjodohan ini?
Bagaimana reaksi Tian saat tahu jika Tina adalah seorang sugar baby seperti Nadin?