Nadin Si Sugar Baby

Nadin Si Sugar Baby
Siapa Jodoh Tina


__ADS_3

Berbeda dengan Nadin yang saat ini sedang berada di rumah Tina. Kini Alex yang sudah selesai dengan urusan di kampus.


Alex berencana ingin menemui Nadin di kostnya. Karena sepertinya Nadin marah soal tadi. Ia tak tahu kenapa ia sekhawatir ini dengan Nadin.


Drrtttt.


Saat Alex ingin menjalankan mobilnya, ponsel Alex berbunyi. Alex menatap tak percaya siapa yang menelepon dirinya disaat saat begini.


"Halo."


"......"


"Masih di kampus," jawab Alex dengan santainya.


"....."


"Kenapa?"


"....."


"Aku tak tahu. Lihat saja nanti."


"....."


"Stop jangan memaksaku untuk datang."


"....."


"Oke. Nanti aku kalau urusanku sudah selesai aku akan kesana."


"..."


"Hmm."


Setelah panggilan itu terputus, Alex langsung menjalankan mobilnya menuju kost dimana kemarin mereka mengantarkan Nadin.

__ADS_1


Dalam pikirannya kenapa orangtuanya menyuruh ia pulang secepat hari ini. Padahal Mama dan Papanya kemarin masih di luar negeri dan sekarang menyuruhnya pulang. Apa ini karena perjodohannya dengan gadis yang tak ia kenal itu atau apa?


Sampainya di kost, satpam disana langsung bertanya pada Alex.


"Mohon maaf Anda cari siapa ya?" tanya satpam itu.


"Nadin."


"Oh Mbak Nadin tadi izin sama saya kalau dia sama temannya gak pulang ke kost hari ini. Mereka berpesan untuk menjaga kamar mereka," jawab satpam itu yang membuat Alex bingung.


"Oh belum pulang."


"Ada apa ya Tuan. Kalau ada pesan bisa titip ke saya nanti saya akan sampaikan pada Mbak Nadin," ucap satpam itu dengan ramah.


"Tidak ada, terima kasih."


"Sama sama Tuan."


Alex memutuskan untuk pulang ke rumah jika Nadin tak ada. Padahal ia ingin menjelaskan jika tadi itu hanya salah paham saja.


****


"Tina sayang, ini baju dari calon mertua kamu. Kamu pilih dan pakai ya, jam 7 nanti mereka akan datang," ucap ibu Tina pada sang putri.


"Bu. Aku belum mau menikah, aku masih muda. Lagipula aku ingin menikmati masa mudaku dengan teman temanku. Aku tak mau terikat oleh sebuah pernikahan," ucap Tina bangun dari duduknya kemudian menatap ibunya yang ada di depannya.


Nadin? Gadis itu sedari tadi hanya diam di kasur Tina. Ia tak tahu harus komen bagaimana karena ia tak pernah ada diposisi Tina.


"Ini sudah menjadi keputusan dua keluarga, sayang. Ibu mohon sama kamu agar kamu menerima perjodohan ini. Ibu mau kamu hidup dengan bahagia. Lagipula calon suami kamu itu orang baik kok. Gak seperti mantan mantan kamu pas SMA dulu. Ibu gak mau kamu sakit hati untuk kedua kalinya makanya Ibu dan Ayah kamu menjodohkan kalian."


"Apa ibu yakin jika laki laki itu terbaik untuk Tina? Tina gak mau punya suami kasar, Tina gak suka cowok kasar," ucap Tina dengan sendu. Bahkan jika Nadin bilang hujan sudah mau turun, karena Nadin melihat mendung hitam di mata Tina.


"Emm kalau soal sifat nanti kamu lihat sendiri. Tapi setahu ibu, dia anak yang baik. Bahkan sekarang ia sudah sukses dengan pekerjaanya."


"Berapa umurnya Bu? Tina gak mau nikah sama aki aki."

__ADS_1


"Emm jaraknya gak jauh kok sama kamu. Dia sudah mapan juga. Ibu gak matre tapi realistis. Ibu gak mau hidup kamu sudah, karena Ibu tahu kamu sama seperti ibu."


"Tapi Tina maunya nikah sekali seumur hidup Bu. Bukan cuma cari kekayaan aja," ucap Tina yang langsung dianggukkan oleh Ibu.


"Percayalah sama ibu, anak itu baik. Dan jika nanti kamu tak menyukainya kamu boleh menolak asal sopan."


Tina yang mendengar itu langsung mengangguk ia tenang karena Ibunya berkata ia boleh menolak jika tak sesuai dengan kriterianya.


"Tapi saran ibu sih kamu harus terima."


"Kenapa?"


"Nanti kamu juga bakal tahu," jawab Ibu dengan senyum tipisnya. Ibu yakin jika putrinya itu tak akan menolak siapa laki laki yang ingin di jodohkan dengan Tina.


"Nak Nadin. Tolong jaga Tina ya, jangan biarkan Tina kabur. Karena ibu tahu bagaimana sifat ibu ini."


"Siap Bu."


Kini hanya tinggal Nadin dan Tina saja yang ada disana. Jujur Nadin sendiri juga kepo siapa laki laki yang ingin dijodohkan dengan Tina sahabatnya ini.


"Udah jam 6 loh, Tin. Kamu gak mau jmganti baju?" tanya Nadin memilih baju untuk sahabatnya.


"Kamu kok kayaknya sekongkol sama Ibu ya. Buat aku menemui mereka? Kalau yang dijodohkan dengan aku itu duda yang sudah m beranak pinak gimana?" tanya Tina yang tak bisa membayangkan jika jodohnya sudah memiliki anak. Pasti akan sangat repot.


"Aku gak sekongkol sama Ibu kamu. Tapi lihat jam sudah jam berapa dan kamu masih enak enak disini. Mandi sana, biar aku yang pilih baju buat kamu."


Akhirnya Tina masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Nadin yang sedang memilih baju untuk Tina.


Bahkan saking sibuknya ia memilih baju itu ia sampai tak sadar jika ponselnya sedari tadi berbunyi. Bukan hanya sekali tapi berkali kali.


*****


*****


*****

__ADS_1


__ADS_2