
"Kakak."
"Hmm."
"Dadaku kebas," ucapnya seraya menyelipkan tangannya di rambut tebal Alex.
Sejak mengungkapkan bahwa mereka saling menyukai itu, keduanya kini makin romantis saja. Hingga membuat Alex meminta imbalan karena sudah menolongnya.
"Aku belum kenyang baby, kamu pikir menjaga kamu tak memerlukan tenaga?" tanya Alex melanjutkan aktivitasnya.
"Aku tidak menyuruh kakak untuk jaga aku. Lagian yang buat aku gini siapa?" tanya Nadin dengan wajah garangnya.
Ia mencoba untuk menutupi kepala Alex dengan selimut tapi laki laki itu terus melepaskan selimut itu karena gerah. Tapi Nadin malu jika dadanya yang sedang dimainkan oleh Alex itu terlihat oleh matanya sendiri. Apalagi jika seperti ini Alex makin tampan, bukan makin tapi sangat sangat tampan.
Apakah boleh Nadin menulis cerita yang judulnya, Menyusui Dosen Tampanku. Sepertinya itu akan bagus untuk judul novel.
Alex tak menjawab, laki laki itu malah semakin kuat menghisap d*da sintal itu. Hingga berberapa saat kemudian Alex melepaskan d*da Nadin kemudian mengelusnya seakan ia tak rela untuk melepaskannya.
"Kamu tidak lelah kak? Maaf aku merepotkan kakak," ucap Nadin mengelus rambut Alex yang masih betah berada di atas dadanya itu.
"Aku tak merasa direpotkan kalau imbalannya seperti ini. Bahkan kalau bisa kamu selalu merepotkan aku, agar aku selalu mendapat susu segar dari pabriknya," jawab Alex menatap mata Nadin.
"Apa kakak tidak jiji* denganku? Aku sudah banyak tersentuh laki laki. Dada ini sudah sering dipegang laki laki," ucap Nadin yang sebenarnya malu mengakui hal ini.
"Tapi mereka tak bisa merasakan nikmatnya minum susu dari pabriknya langsung. Mereka hanya bisa memegangnya tanpa bisa merasakan," jawab Alex yang sama sekali tidak jiji* dengan Nadin.
Bahkan jika bisa Alex ingin menghapus semua yang pernah laki laki sebelum dirinya menyentuh Nadin tapi ia sadar ia tak bisa menghilangkannya.
Kadang Alex berpikir kenapa ia tak bertemu Nadin terlebih dahulu sebelum Nadin melakukan pekerjaan yang sangat menji**kkan itu.
"Selalu saja pikirannya mesum. Apa semua laki laki itu sama, mereka sama sama berpikiran mesum seperti ini?" tanya Nadin yang kembali mengancingkan bajunya yang entah kenapa sudah berubah dari yang semula dress jadi baju piyama berwarna biru kebesaran.
"Itu tandanya kami para laki laki normal, memang kamu mau kalau aku ini gak normal?" tanya Alex yang langsung di jawab gelengan oleh Nadin. Mana mau ia mempunyai laki laki yang tidak normal, apalagi Nadin belum merasakan keperkasaan Alex pada dirinya.
__ADS_1
Nadin pernah mendengar dari teman temannya jika berhubungan seperti itu sangat enak dan membuat ketagihan. Sedangkan Nadin selalu menanamkan tekatnya untuk tidak berhubungan badan sebelum menjadi istri.
Nadin pernah mendapat pesan dari seseorang jika kehormatan perempuan itu berada pada hati dan juga kesucian yang terjaga. Karena walau pekerjaannya sangat buruk jika ia bisa mempertahankan kesucian hati dan kesuciannya itu adalah salah satu perempuan terhormat.
Maka dari itu ia tak pernah iri dengan kekayaan perempuan di luar sana. Walau pekerjaannya sangat buruk tapi ia bisa menjaga keper***nannya hanya untuk suami dan orang yang paling ia cintai.
"Ini masih terlalu malam untuk memulai hari kita, lebih baik kita tidur dulu. Aku besok juga harus ke kantor sebelum ke kampus, aku akan mengantarmu dulu ke kampus hmm."
"Aku sudah tak bisa tidur kalau terbangun jam segini," jawab Nadin menarik selimutnya karena AC di kamar itu nyala.
"Ini masih jam setengah 3 pagi, aku juga lelah karena bangun di jam segini," ucap Alex menarik Nadin untuk memeluknya. Alex menjadikan lengannya menjadi bantalan Nadin sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk mengelus punggung Nadin.
Berberapa saat mereka terdiam, dengan pikiran masing masing. Nadin juga tampak menikmati detak jantung Alex yang berdebar sama seperti miliknya. Ternyata Nadin tidak salah prediksi. Ia pikir tadi ia memiliki riwayat jantung yang bermasalah ternyata hal ini normal.
"Kak," panggil Nadin.
"Hmm."
"Emang kakak bener suka sam Nadin?"
"Aku suka kamu apa adanya Nadin, aku tak peduli masa lalu kamu. Dan sekarang izinkan aku untuk membuka hati kamu untuk aku, begitupun sebaliknya hmm. Bukalah hati kamu untukku," tambah Alex.
Diam, mereka kembali diam. Nadin hanya kasihan saja pada Alex. Orang yang sangat tulus dan baik harus suka pada dirinya yang kotor.
"Tidur Nadin. Jangan tanya yang tidak tidak."
Nadin yang memang tak bisa tidur itu hanya menggeleng. Alex pun mengecup kening Nadin sekilas kemudian mengelus rambut Nadin.
"Mau tidur sendiri atau aku tidurin?" tanya Alex yang tentu saja membuat Nadin ini kalang kabut. Jika di tiduri maka besar kemungkinan ia akan sama seperti jal*** di luar sana. Ia tak mau hal itu terjadi.
"Tidur sendiri, jangan tidurin Nadin dulu. Nadin gak mau," jawab Nadin memejamkan matanya dengan erat. Walau belum bisa tidur paling tidak ia bisa terbebas dari kata ditidurin.
Alex yang melihat Nadin pura pura memejamkan matanya itu hanya tersenyum dan menggeleng. Ada ada saja Nadin ini pikirnya, ia tak mungkinlah meniduri Nadin sebelum Nadin benar benar menjadi miliknya.
__ADS_1
Lagipula belum ada cinta diantara mereka, entah akan ada atau tidak ada. Biarlah itu berjalan sesuai alur yang Tya tulis dalam novel ini.
"Tidur Nadin, jangan cuma merem."
"Iya kak."
Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi tapi mereka belum juga tidur. Nadin masih sering membuka dan menutup matanya sebentar kemudian menatap Alex yang sedang menatapnya.
"Sepertinya kita sama sama tidak bisa tidur," jawab Nadin pada Alex.
Alex tak menjawab, ia merasa suhu tubuhnya sedikit memanas karena Nadin. Dan Nadin juga merasakan ada yang aneh dari tubuh bagian bawah Alex.
"Kak," cicit Nadin saat sesuatu itu menusuk pahanya pelan. Sangat tak enak tapi ia menikmatinya, sungguh munafik.
"Ssttt diam dan tidur, kamu tak mau apa yang selama ini kamu lindungi hilang kan?" tanya Alex dan dijawab gelengan oleh Nadin.
"Tapi aku bisa bantu Kakak kan," jawab Nadin yang membuat Alex gemas.
"Aku tak ingin kamu lelah seperti kemarin dan tidur di kelas. Lebih baik aku meredamnya sendiri. Kamu tidur ya," ujar Alex yang membuat Nadin terharu.
"Hari ini Nadin gak akan tidur di kelas lagi, tapi izinkan Nadin untuk membantu Kakak."
"Terserah kamu aja kalau begitu."
Nadin memang keras kepala bahkan sangat keras kepala. Jadi melarangnya itu sama sama tidak berguna.
Dan memua**an ala Nadinpun dimulai, Nadin yang kemarin hanya memakai tangan hari ini ia berusaha memakai mulu*nya.
*****
*****
*****
__ADS_1
Dah dah dah nanti kalau Tya terusin yang ada gak lulus review nanti. See you gaess.