
Alex menarik tangan Nadin untuk masuk ke dalam mobil. Walau Nadin sudah berusaha melepaskan pegangan tangan itu.
"Masuk."
Nadin menatap tajam Alex sebelum akhirnya Nadin masuk ke dalam mobil begitupun dengan Alex.
"Pakai sabuk pengaman kamu."
"Gak mau."
Alex yang geram dengan kebiasaan Nadin itu mulai menarik sabuk pengaman dan memakaikan sabuk pengaman itu.
"Sesak kak, jangan dipaksain."
"Aku gak mau kamu kenapa napa dijalan," ucap Alex dengan tajam. Hingga mau tahu mau Nadin hanya bisa menerima saja.
Alex sedikit menyentuh dada sintal itu hingga membuat Nadin langsung memukul lengan Alex.
"Jangan modus, dasar otak udang."
"Kamu mengatakan dosenmu otak udang hah?" tanya Alex tak terima dengan ucapan Nadin.
"Biarin lagian kakak modus, bilang aja mau pegang dada aku."
Alex menggeleng tapi juga mengangguk hingga membuat Nadin langsung tertawa.
Alex langsung melajukan mobil itu menuju suatu tempat, dengan wajah Nadin yang cemberut membuat laki laki itu tersenyum tipis.
"Aku baru tahu jika kamu sudah punya pacar. Siapa dia?" tanya Alex yang membuat Nadin bingung. Bagaimana ia mau menjawab jika tadi saja ia berbohong agar tidak di pojokan oleh orangtua Tina.
"Emm anu apa itu loh."
"Apa sih Nad. Aku butuh jawaban, aku gak suka ya disaat kamu menerima tawaranku saat itu kamu juga berhubungan dengan laki laki lain."
"Cepat katakan siapa laki laki itu, Nadin!!"
Nadin menatap berani Alex, lagian siapa Alex yang berani semena mena dengannya.
__ADS_1
"Aku gak peduli Kakak suka atau tidak. Lagian kita hanya sebagai partner tidak lebih, lagian kenapa Kakak selalu mengurusi hidupku hah? Kita baru ketemu sekitar 3 hari yang lalu. Kenapa kakak seenaknya saja mengaturku!!!"
Alex yang mendapat jawaban tak sesuai dengan apa yang ia inginkan itu mulai marah. Ia tak suka ada orang yang menentangnya dan tak patuh dengan aturan dirinya.
Alex mulai melajukan mobil itu dengan kecepatan penuh, ia marah karena Nadin sudah memiliki pacar. Sedangkan dia sedang berusaha untuk menaklukan Nadin yang notabene sekarang adalah sugar babynya.
"Kakak pelan pelan, aku gak mau mati muda!" teriakan Nadin tak di hiraukan oleh Alex hingga membuat Nadin langsung memegang tangan Alex. Bayangan dimana orangtuanya meninggal karena kecelakaan itu terbayang kembali di ingatan Nadin.
Alex membiarkan saja Nadin memegang tangannya. Ia pikir Nadin takut karena ia ngebut, Alex tak berpikir jika hal ini akan berimbas besar pada Nadin nanti.
Hingga sampailah mereka disebuah gedung ia tak lain dan tak bukan adalah Apartemen mewah dengan banyak lantai.
Nadin tak sadar mobil itu sudah berhenti, ia masih memegang erat tangan Alex. Alex yang sudah mulai meredam emosinya itu langsung menatap Nadin.
"Udah sampai kamu gak mau lepasin tangan aku?" tanya Alex memegang tangan Nadin yang dingin.
Ia melihat keringat bercucuran dari kening Nadin, dan ia baru sadar jika Nadin sudah tak sadarkan diri.
"Astaga Nadin."
Dengan cepat ia melepas sabuk pengaman itu dan membawa Nadin keluar dari mobil menuju unit apartemennya.
Tiba tiba rasa bersalah itu muncul dalam diri Alex, ia takut jika Nadin sampai kenapa napa.
Sampainya di unit apartemen Alex, Alex langsung masuk dan menuju kamar pribadinya.
Kamar yang tak pernah dimasuki oleh wanita lain. Dan Nadin adalah wanita pertama yang ia masukkan ke dalam kamar ini.
Dengan pelan Alex membaringkan tubuh Nadin di ranjang berwarna abu abu. Kemudian ia mengambil ponsel yang ada di saku bajunya dan menelepon dokter pribadinya agar cepat datang ke apartemen.
Alex menatap Nadin dengan khawatir, ia mengelus kening Nadin yang terus mengeluarkan keringat.
"Bodoh, kenapa lu ngebut aja dari tadi? Lu gak lihat akibatnya gimana?"
Alex terus saja menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa menjaga Nadin dengan baik. Bahkan ia tak bisa mengembalikan apa yang sudah terjadi hari ini.
Tak lama dokter pribadi Alex datang, Alex langsung menyuruh dokter itu ke kamarnya.
__ADS_1
"Siapa yang sakit Al?" tanya Dokter itu.
"Periksa dia, dari tadi dia gak bangun bangun. Bahkan terus mengeluarkan keringat dari keningnya," ucap Alex menujuk Nadin yang berada di atas ranjang.
"Kenapa ada wanita di dalam kamar Alex? Apa ini calon nyonya kamu?" tanya Dokter itu dengan pelan bahkan nyaris tak terdengar.
Dokter itu memeriksa Nadin yang sedang bergerak gelisah itu. Sebagai dokter tentu saja Anan tahu apa yang dialami Nadin.
Untung semuanya normal hanya satu yang membuat Anan terkejut dengan apa yang terjadi pada Nadin.
Alex yang melihat raut berbeda dari dokter pribadinya itu langsung bertanya ada apa dengan Nadin yang tak juga bangun padahal sudah lebih dari 25 menit pingsan.
"Sepertinya Nadin pingsan karena ia trauma terhadap sesuatu. Lihatlah dia bergerak gelisah sedari tadi, dari alam bawah sadarnya mungkin dia sedang mengalami hal yang tidak baik."
"Kenapa dia bisa pingsan seperti ini?" tanya Anan pada Alex.
Anan yang notabene adalah teman SMA Alex yang menjadi dokter pribadi Alex sejak 2 tahun lalu. Menggantikan ayahnya sebagai dokter pribadi keluarga Alex. Oleh sebab itu ia tak terlalu formal dengan Alex karena ia tak terbiasa.
"Tadi aku ngebut, aku pikir dia gak apa apa dan hanya takut biasa hingga dia mencekal tanganku dengan erat. Aku tak tahu jika dia trauma terhadap itu hingga membuat dia pingsan saat sampai disini," jawab Alex dengan pelan.
"Sepertinya dia trauma akan kecepatan mobil, mungkin dulu ia mendapatkan peristiwa buruk tentang kecepatan mobil. Atau mungkin kecelakaan yang pernah terjadi. Aku sudah sering mendapat pasien yang seperti ini, bahkan ada yang sampai tak bangun selama 1 bulan karena traumanya ini," ucap Anak yang membuat Alex terkejut dan takut.
Nadin trauma terhadap kecepatan mobil, tapi dia malah tak menyadari hal ini sejak awal. Ia tersulut emosi tadi hingga membuat dirinya hilang kendali.
Lagipula ia sudah sering mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, maka dari itu ia gampang sekali jika ingin ngebut.
"Ini resep yang harus kamu tebus, dan juga aku sarankan saat dia bangun kamu jangan menambah beban di pikirannya," ucap Anan pada Alex yang hanya dianggukkan oleh Alex.
Setelah dokter itu pergi, Alex langsung memerintahkan bodyguardnya untuk menebus obat yang ada di resep itu.
Sedangkan dirinya langsung duduk disamping Nadin sang menggenggam tangan Nadin yang sangat dingin itu.
Sebenarnya ada apa dengan Nadin? Trauma apa yang ia alami hingga membuatnya seperti ini?
*****
*****
__ADS_1
*****