Nadin Si Sugar Baby

Nadin Si Sugar Baby
Sogokan


__ADS_3

Nadin keluar dari ruangan itu dan berjalan dengan kesal ke arah parkiran. Ia sudah ditunggu oleh Tina yang pagi ini entah kenapa mau membawa motif karena biasanya gadis itu sangat malas membawa motornya ada di kost.


"Kenapa muka lu kek baju belum di setrika gitu?" tanya Tina memberikan helm pada Nadin. Entah helm milik siapa yang Tina ambil tadi.


"Kesel aja gue. Gak tahu kenapa," jawabnya dengan berbohong.


Tentu saja ia kesal dengan Rena yang tadi berada di pangkuan Alex andai saja tadi ia tak masuk lagi karena hpnya ketinggalan pasti Alex dan Rena sudah iya iya di ruangan itu.


"Dasar cowok, maunya enak aja," batin Nadin memakai helm berwarna merah itu kemudian ia naik ke atas jok motor Tina.


"Kita mau kemana Tin?" tanya Nadin yang sangat tidak mood untuk bepergian.


"Jalan jalan aja, udah lama kita gak keliling Jakarta sejak hari itu," jawab Tina dengan santainya.


Nadin pun tak banyak komen karena sebenarnya ia ingin sekali tidur di kamar. Tapi. Nadin tak mau membuat sahabatnya ini sedih.


Mereka berhenti disebuah warung mie ayam yang cukup ramai itu. Nadin dan Tina turun tak lupa melepas helm itu.


"Kemarin gue baru dapat rejeki jadi hari ini kita harus merayakannya dengan jalan jalan," ucap Tina tersenyum manis pada Nadin yang hanya mengangguk.


Mereka berjalan masuk ke dalam warung mie ayam itu. Dan memesan dua porsi mie ayam langganan mereka itu.


"Lu mau gak ikut gue ke rumah? Gue disuruh pulang sama ibu dan bapak, takut gue kalau mereka tahu gue ini jadi sugar baby," tanya Tina setelah mereka duduk disana dan memesan es teh karena mie ayamnya masih di buat.


"Oh jadi lu aja gue kesini cuma mau ngajak gue ikut lu pulang?" tanya Nadin dan dianggukkan oleh Tina.


Tina tahu jika Nadin tidak akan mau begitu saja kalau tidak disogok dulu dengan makanan entah itu bakso atau makanan yang lainnya. Yang terpenting adalah makanan.


"Gue mau dijodohin, Nad. Jadi gue mau ajak lu, biar gue gak sendiri kalau gugup," ucap Tina dengan tangan yang sudah memegang tangan Nadin.

__ADS_1


"Gak gratis."


"Oke, untuk seminggu ini aku traktir kamu makan sampai puas."


"Seminggu ya," gumamnya menimbangkan tawaran Tina.


"Bisa hemat 400 ribu gue kalau ditraktir makan sama Tina seminggu ini," batin Nadin yang sepertinya lupa jika tadi dia diberi kartu ajaib oleh Alex. Bahkan Alex dengan siap saja untuk mentransfer lagi ke rekening itu. MB


"Boleh deh, bisa hemat gue sama traktiran lu."


"Oke habis ini kita langsung pulang ke rumah gue."


"Iya Tina sayang. Yang penting gue makan gratis satu minggu," ucap Nadin dengan senyum manisnya.


"Seap gampang itu mah."


Pesanan mie ayam mereka sampai, kedua gadis itu makan bersama di warung itu. Sesekali mereka berbincang soal siapa yang ingin dijodohkan dengan Tina.


"Pedes bat ya Tuhan."


"Salah sendiri kenapa nuangin banyak sambal?" tanya Tina mengambil air mineral yang ada disana.


"Gak papa."


"Pasti kesel sama sesuatu," ujar Tian memberikan air itu pada Nadin.


Setalah selesai dengan adegan kepedasan Nadin, mereka berdua langsung menjalankan motor itu menuju rumah Tina yang ada di kota sebelah.


"Gue takut sama bapak lu Tin."

__ADS_1


"Kenapa takut segala? Gak gigit juga," ujar Tina yang tak habis pikir dengan Nadin.


"Aku takut sama tato tato di tubuhnya. Apalagi tatapannya yang tajam itu. Gak berani aku natap matanya," ucap Nadin dengan bergidik ngeri. Saat pertama kali ia bertemu dengan bapak Tina, wajah sangat membuat dia takut.


"Tenang aja bapak udah jinak kok."


Akhirnya setelah berberapa menit mereka sampai di depan rumah sederhana tapi sangat rapi dan nyaman itu. Rumah siap lagi kalau bukan rumah Tina yang notabene adalah anak seorang karyawan swasta saja. Gaji juga tak seberapa tapi mereka nekat menguliahkan Tina.


Keduanya turun dari motor itu dan mulai mengetuk pintu rumah itu. Tak lama ada seorang wanita yang memakai daster keluar dari rumah itu.


"Anak ibu, syukurlah kamu gak salah jalan nak."


Ibu Tiba memeluk tubuh Tina yang sedang berdiri di depan pintu.


"Sesak Ma."


"Ah maaf sayang, ayo ayo masuk kalian pasti capek kan?" ajak Ibu pada keduanya.


"Iya Tante."


Tina dan Nadin masuk ke dalam rumah itu kemudian ia berjalan menuju ruang keluarga yang ternyata sudah ada bapak yang meminum kopi buatan istrinya.


"Kalian sudah datang rupanya."


"Iya Om."


Mereka berbincang bincang sebentar sebelum Ibu menyuruh Tina dan Nadin ke kamar dan bersiap karena nanti malam. Laki laki yang akan dijodohkan dengan Tina akan datang bersama orangtuanya.


****

__ADS_1


****


Kira kira siapa yang mau dijodohin sama Tina.


__ADS_2