
Saat berjalan menuju ruangannya, ia melihat seseorang yang tak asing baginya. Kenapa sih semua perempuan aneh datang terus hari ini.
"Alex," teriak wanita itu saat melihat Alex disana. Ia sudah menunggu lebih dari setengah jam di sana tapi Alex tak kunjung muncul.
"Ngapain disini? Siapa yang kasih izin hah??" tanya Alex dengan tegasnya langsung melepas tangan wanita itu dengan kasar.
"Ih kok kasar sih, Lex. Papa kamu aja udah kasih izin buat aku kesini setiap hari, bahkan dia udah kasih restu sama kita," ucap Cindy pada Alex.
Selain Maulida, ada juga cewek bernama Cindy yang setiap hari datang ke kantornya. Entah itu membawa makanan atau malah hanya mengacaukan dia kerja saja. Alex benar benar terganggu dengan keberadaan Cindy.
"Mending pulang, gue ada urusan lain," ucap Alex membuka pintu ruangannya.
"Aku gak mau pulang, aku mau ikut kamu kerja. Kan bisa suatu saat nanti aku jadi istri yang baik buat kamu. Aku udah dapat restu dari Papa kamu, dan juga jangan lupa aku anak dari sahabat papa kamu," ucap Cindy yang akan ikut masuk tapi dengan cepat Alex menahannya.
"Gue gak perduli, lu mau anak sultan ataupun anak siapapun. Gue gak suka lu disini, dan perlu lu ingat. Lu bukan tipe cewek gue."
Setelah mengucapkan hal itu Alex langsung masuk tanpa mendengarkan omelan dari Cindy yang ada di luar.
"Dasar cewek aneh."
Alex membuka laptop mahal miliknya dan terlihatlah tubuh Nadin yang hanya memakai bra dan cel**a da*** saja di atas kasur itu. Foto yang Alex ambil saat Nadin masih tidur berberapa saat lalu. Bahkan ia sendiri dulu juga bingung kenapa ia mengambil foto wanita itu.
"Emang bangus banget sih bodynya," gumam Alex menatap layar itu.
Kemudian Alex membuka email yang dikirim Tian berberapa saat lalu. Ia ingin cepat menyelesaikan urusan kantornya dan kembali ke kampus bertemu dengan wanitanya. Siapa lagi kalau bukan Nadin.
****
Berbeda dengan Alex kini Tian malah sibuk berbalas pesan dengan Tina yang ada di kampusnya.
Anda
Sweetie nanti aku jemput ya.
Sweetie
Boleh, lagian hari ini aku juga gak bawa mobil.
Anda
Sweetie, boleh minta pap gak.
Sweetie
Pap apa sayang, aku masih ada di kelas ini.
Anda
Pap foto kamu lah.
"Sialan Maulida, kalau bukan sekretaris Alex. Udah gue bantai dia, seenaknya godain gue tadi pagi bahkan efeknya aja belum hilang sampai saat ini," gumam Tian.
Tak lama, sebuah kiriman foto membuat ia makin panas. Bagaimana tidak, Tina memotret dirinya dari atas hingga da** itu terlihat jelas dari kamera.
"Ini lagi kenapa Tina pake pap kayak gini sih?" tanya Tian yang semakin panas di ruangannya. Padahal ruangan Tian ini berAC.
Sweetie
__ADS_1
📷 (Anggap aja foto yak)
Udah sayang. Aku mau lanjutin pelajaran ini.
Anda
Kenapa kamu papnya kelihatan dada kamu sih, aku jadi panas nih gak ada kamu.
Sweetie
Oh astaga aku lupa. Maaf aku udah biasa foto gitu.
Anda
Kamu harus tanggung jawab nih.
Sweetie
Caranya, aku lagi di kelas loh.
Anda
Izin ke kamar mandi, dan kita Vidcall. Kamu harus bantuin aku.
Entah ide darimana itu tapi yang pasti Tina hanya mengangguk saja tanpa Tian tahu.
Anda
Sweetie ada dimana?
Sweetie
Anda
Gak tahan Sweetie.
Sweetie
Aku baru tahu kalau kamu itu gampang mesum.
Anda
Orang normal. Dan kamu sebagai pacar plus tunangan aku harus bantuin tenangin diam
Sweetie
Dasar. Memang kamu pacar aku?
Anda
Bukan hanya pacar tapi sudah tunangan. Udah sampai belum sih lama banget?
Tak tahan Tian langsung berlari menuju kamar mandi membuka celananya.
Sedangkan Tina yang sudah sampai kamar mandi kampusnya itu langsung video call Tian.
Drrttt
__ADS_1
Tian yang sudah selesai melepas celananya itu langsung mengangkat panggilan Video itu.
"Sweetie."
"Hmm."
"Dia mau kamu, bantuin ya," ucap Tian menghidupkan peredam suara di kamar mandi itu. Ia tak mau menjadi bualan Alex kalau sampai terdengar sampai luar.
Tina memerah melihat benda panjang itu sudah tegang dengan tangan Tian yang mengurutnya.
"Aku harus gimana? Biasanya kan langsung tapi ini malah virtual," ucap Tina.
"**** dan celana kamu sweetie," jawab Tian yang meletakkan ponselnya di dekat washtafel hingga terlihat seluruh tubuhnya.
Tina juga melakukan hal yang sama, ia melakukan apa yang diperintahkan Tian dengan baik.
Tian yang baru pertama kali melihat tubuh Tina itu makin meradang. Tubuh indah dibagian tertentu itu membuat ia ingin dengan segera melepaskan semua ini.
skip skip
Setelah berberapa saat mereka melakukan itu, akhirnya keduanya sampai di puncak.
**** **** ****
"Ahhh i love you sweetie."
"Arghhh sayang me too."
Keduanya saling mengucapkan cinta saat itu, Tina letih di pinggir toilet itu.
"Sayang," panggil Tina pada Tian.
"Ada apa?"
"Aku masih per**** atau enggak kalau aku tusuk kayak tadi?" tanya Tina yang seketika bodoh seraya menghapus sesuatu itu dengan tisu.
Tian yang sedang membilas sisa sisa kecebongnya itu tiba tiba tertawa ternyata Tina bisa sepolos ini juga.
"Kamu masih tetap perawan sweetie. Gak tahu kalau nanti," jawab Tian yang sudah bersih.
"Jadi gak sabar buat temuin kamu," ucap Tian seraya memakai pakaiannya kembali begitupun dengan Tina yang sudah rapi. Bahkan ia sampai memakai parfum kembali ia takut ada yang curiga.
"Udah dulu ya aku mau ke kelas dulu."
"Sampai jumpa nanti sweetie."
Tina tersenyum kemudian mematikan panggilan video itu kemudian kembali ke kelas.
"Kalau tahu punya pacar tuh enak banget, mungkin dari dulu gue mau mau aja dijodohin sama Mama dan Papa," gumam Tian kembali ke ruangannya dan ternyata disana ada Alex.
"Mampus," batinnya.
****
****
****
__ADS_1