Nadin Si Sugar Baby

Nadin Si Sugar Baby
Menerima Perjodohan


__ADS_3

Di sisi lain, Tina yang duduk di kursi depan rumah itu tampak memainkan jari jarinya.


Ia bingung harus mulai darimana, apa mungkin Tian mau menerima dirinya. Apalagi pekerjaannya yang sangat murah untuk dirinya.


"Jadi apa alasan kamu mengingkan perjodohan ini?" tanya Tina pada Tian yang sedang menghisap rokok itu.


"Jujur aku tidak tertarik dengan perjodohan ini, tapi saat melihat siapa yang akan dijodohkan denganku aku berubah pikiran. Aku menerimanya."


Tina yang mendengar itu terkejut apa yang membuat Tian menerimanya.


"Kenapa?"


"Aku tertarik denganmu sejak di restoran Jepang saat itu. Kamu yang diam diam juga melihatku, rasanya itu sangat menggemaskan. Aku sadar jika aku mulai menyukai seorang wanita," ucap Tian dengan senyum manisnya.


"Secepat itu kamu menyukaiku?" tanya Tina dan dianggukkan oleh Tian.


"Kata Alex, menyukai orang tak harus menunggu waktu. Kita bisa langsung merasakannya, tapi anehnya Alex malah tak menyadari apa yang diucapkannya," jawab Tian meletakkan puntung rokok di asbak dan mengambil bunga dari saku jasnya.


"Aku sempat membeli bunga ini buat kamu, aku harap kamu suka," ucap Tian memberikan sekuntum mawar merah itu.


Tina yang melihat itu senang, tapi ia juga ragu untuk menerimanya.


"Sebelum aku menerima bunga itu aku harus mengatakan sesuatu yang mungkin membuat kamu berubah pikiran tentang aku, dan mungkin kamu juga akan membatalkan perjodohan ini," ucap Tina dengan mantap.


Ia akan jujur dengan apa yang selama ini ia rahasiakan dari orangtuanya dan orang di kota ini.


"Hmm apa?" tanya Tian dengan santai.


"Aku bukan wanita yang baik, aku kotor dengan pekerjaanku yang sangat buruk."


Tina menghela nafasnya pelan kemudian ia melanjutkan perkataannya.


"Aku seorang sugar baby," lanjutnya dengan menunduk jujur ia malu mengakui jika ia adalah seorang wanita kotor.


"Aku tahu kamu terkejut, aku juga gak apa apa kalau kamu mau membatalkan perjodohan ini. Aku ikhlas lagipula ini hanya perjodohan saja, aku berharap kamu mendapatkan wanita yang baik dan suci ya."


"Hmm? Aku tahu jika kamu sugar baby."

__ADS_1


Terkejut? Yah Tina terkejut dengan apa yang ia dengar saat ini. Darimana Tian tahu jika ia seorang sugar baby?


"Darimana?"


"Apa yang tak aku tahu tentang kamu, calon istriku. Aku juga tahu kamu sering melayani om om di hotel xxx kan? Aku juga tahu jika kamu masih suci."


"Darimana?"


"Nadin, calon Bu Bos yang bilang."


"Bu Bos? Maksudnya?"


"Alex adalah bosku di kantor, dan saat ini ia juga sedang menjalin hubungan dengan Nadin."


Lagi lagi ia terkejut mendengar hal ini, kenapa Nadin tak mengatakan padanya jika Nadin sedang dekat dengan Dosennya.


"Jadi bagiamana? Kamu menerima perjodohan ini?" tanya Tian dengan santainya.


"Kamu tak malu jika memiliki calon istri seperti aku?"


"Kenapa kamu sangat yakin jika aku masih suci?"


"Instingku tak pernah salah."


Tina yang mendengar itu tersenyum, Tian sangatlah percaya diri dengan apa yang ia ucapkan.


"Hmmm, aku memang belum tersentuh oleh siapapun tapi tanganku ini sudah banyak menyentuh milik laki laki. Apa kamu tak malu?" tanya Tina.


"Nanti aku hapus, kamu hanya boleh menyentuh milikku saja. Dan aku mohon berhenti dari pekerjaan itu ya."


"Hais bagaimana aku ingin keluar jika sumber uangku darisana?"


"Aku bisa memberikan kamu uang mingguan sama seperti Alex," jawab Tian yang membuat Tian yang notabene mata duitan langsung menganggukkan.


"Tapi ada syaratnya," tambah Tian yang membuat Tina bingung.


"Apa?"

__ADS_1


"Jadilah istriku dan kamu harus melayani aku sebagaimana istri semestinya," jawab Tian yang membuat Tina bingung.


"Aku masih kuliah, dan belum siap jika harus menjadi seorang istri," jawab Tina yang masih memikirkan masa depannya.


"Kalau begitu kamu harus terima perjodohan itu dan aku yang akan menyewa kamu selama kita belum menikah. Dengan kata lain kita masih tunangan tapi kamu harus tinggal bersamaku."


Tina menimbangkan ucapan Tian, ia tak mau meninggalkan sahabatnya di kost sendiri. Walau mereka beda kamar.


"Aku tak ingin meninggalkan Nadin di kost sendiri."


Nampaknya susah jika ingin berduaan setiap saat dengan Tina. Ia harus memikirkan cara agar lebih dekat dengan calon istrinya ini.


"Oke aku akan menyewamu seperti orang lain menyewamu bagaimana? Tapi kamu tidak boleh menerima laki laki lain."


"Kok kayak ja**ng," gumam Tina yang di dengar Tian.


"Bukan jala** tapi aku hanya ingin kamu tidak disentuh laki laki lain saat kamu sudah menjadi milikku."


Akhirnya dengan segala pertimbangan, Tina memberikan jawabannya.


"Oke, aku mau menerima perjodohan ini dan juga menerima tawaran kamu."


Tina mengambil bunga yang ada di tangan Tian, kemudian menciumnya. Tian yang mendapatkan jawaban itu langsung tersenyum dengan cerah kemudian memeluk tubuh Tina.


"Terima kasih."


"Sama sama, aku juga terima kasih sudah mau memilih wanita kotor ini."


"Kamu tidak kotor hmm."


*****


*****


*****


Huhh akhirnya Tina dan Tian menerima perjodohan ini.

__ADS_1


__ADS_2