
POV SURYA
Istri dan Anakku sudah pergi meninggalkanku. Via tak main-main dengan ucapannya untuk pergi dari rumah ini. Aku tak bisa mencegah atau pun sekedar menahan tangannya agar Via jangan pergi. Gengsiku yang tinggi mengalahkan rasa ibaku terhadap Anak dan Istriku. Ku biarkan Via pergi membawa Ketiga Putraku dan Aku hanya mampu memandang mereka melangkahkahkan kaki keluar dari pekarangan rumah sampai punggung Anak dan Istriku tak terlihat lagi.
Saat Aku melangkah ingin mengejar Mereka, Ibu memegang tanganku agar Aku tidak usah menghalangi Mereka untuk pergi.
" Tidak perlu bersusah payah untuk mengejarnya. Ibu yakin Via akan menginap di rumah Fatir. Besok pagi Mereka pasti akan kembali ke sini lagi" Ucap Ibu berusaha meyakinkanku.
Jujur, Aku sangat gelisah karena hari sudah larut malam. Apakah Via sudah sampai di rumah Mas Fatir atau belum. Ketika ingin Aku menghubungi Mas Fatir melalui Ponsel tiba- tiba Nindiana kekasihku menelpon.
" Sayang? Aku membutuhkanmu sekarang. Aku ingin saat ini Kamu ada di sampingku" Ucap Nindiana manja. Kecantikan Nindiana mampu meluluhkanku dan menggeserkan Nama Via di dalam hatiku. Tanpa pikir panjang malam itu juga Aku pun menemui Nindiana di rumah kontrakannya.
Nindiana sudah menantikan kedatanganku di depan pintu rumah kontrakannya. Baju Dres di atas lutut yang ketat memperlihatkan lekuk tubuhnya yang bohay. Sungguh, sangat menggoda Imanku sebagai Laki- laki. Nindiana selain cantik Ia juga Wanita yang bisa memuaskan hasratku di atas ranjang. Tidak seperti Istriku Via. Aku bosan padanya karena Via selalu kelihatan lusuh dan tak menarik. Via tak pandai mengurus diri. Kadang rambutnya yang acak-acakan membuatku muak untuk sekedar memandang Wajahnya.
" Masuk Mas" Ajak Nindiana menggandeng tanganku langsung menuju kamar. Begitulah sikap Nindiana jika lagi kesepian. Dia selalu menelponku untuk datang. Dan Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Apa pun akan Aku lakukan untuknya, termasuk Membiayai hidup Nindiana. Aku sungguh tergila-gila padanya.
Hari itu Aku bertengkar hebat dengan Istriku Via. bagaimana tidak, Aku tersulut emosi karena Via telah mempermalukanku pada Kakakku sendiri Mas Fatir. Via tak sabaran menunggu Aku untuk gajian dan malah mengemis meminta di belikan Sepatu untuk Zafran Anak Sulungku. Terlebih Via emosi saat Lisa Adikku meminta uang untuk membeli Buku Sekolah. Aku harus bertanggung jawab dengan Adikku Satu-satunya. Siapa lagi yang akan memberi jika bukan Aku Kakaknya. Aku tak ingin wibawaku turun di depan Mas Fatir hanya karena Aku tak mampu membiayai Adikku Lisa. Terlebih Aku mempunyai Gaji Belasan Juta.
Aku bisa mengunjungi Via dan Anak- anakku besok ke rumah Mas Fatir. Untuk saat ini Aku ingin menikmati malam yang dingin ini bersama Kekasih Hatiku Nindiana.
" Sayang, Aku belum memberitahumu jika jabatanku sekarang ini sudah di turunkan oleh Bos" Ucapku pada Nindiana sambil mengancingkan baju kemejaku.
" Mas tidak bercanda kan?" Tanyanya tak percaya.
" Mas tidak bohong. Gara-gara Sumpah serapah Istri Mas. Mas jadi turun jabatan" Ucapku menyalahkan Via Istriku.
Padahal sebenarnya Aku di turunkan jabatan karena kinerjaku yang tidak baik. Aku selalu terlambat datang ke tempat kerja. Karena sebelum berangkat ke lokasi kerja terlebih dahulu Aku menemui Nindiana untuk mendapatkan Mood Booster. Pelayanan Nindiana seperti sebuah Majik bagiku. Bila Aku sudah berada di dekatnya Aku enggan untuk berpisah. Di tempat kerja Aku selalu membayangkannya hingga pekerjaanku tak Optimal karena seringnya Aku melamun dan menghayalkan Nindiana.
" Mas, untuk saat ini Kita tak usah bertemu dulu." Ucap Nindiana tiba-tiba sikapnya berubah drastis Padaku.
" Memangnya kenapa Sayang?" Tanyaku heran.
__ADS_1
" Sepertinya Istrimu tahu tentang hubungan Kita" Jelas Nindiana.
" Istriku memang sudah tau Sayang. Dan tadi Malam Dia memutuskan untuk meninggalkan Mas. Aku tak ingin jauh darimu Sayang. Aku ingin Menikahimu" Ucapku serius.
" Aku tak bisa Menikah denganmu Mas. Apalagi sekarang Mas sudah turun jabatan. Mas tahu kan, Biaya perawatanku mahal. Aku tak mau hidup susah Mas" Ucap Nindiana menolak.
" Tidak usah khawatir Sayang, walaupun jabatanku sudah di turunkan. Namun Aku masih mampu membiayai hidupmu" Ucapku meyakinkan Nindiana.
" Sekarang buktikan padaku Mas jika Kamu serius padaku. Sekarang ini Aku butuh Tas yang ada di Butik langgananku" Ucap Nindiana mengujiku.
" Tas yang Kamu sukai berapa harganya Sayang?" Tanyaku.
" Cuma Tiga Juta Mas" Jawab Nindiana enteng.
" Sayang, dengarkan Mas. Saat ini gaji Mas cuma segitu. Mengertilah, untuk saat ini Mas belum bisa menurutimu. Maafkan Mas Sayang." Ucapku merasa tak berguna.
" Aku ingin beristrahat Mas, Aku capek" Ucap Nindiana merajuk.
Akupun pergi dari rumah kontrakan Nindiana dengan kepala pusing. Aku harus mencari cara agar jabatanku kembali seperti semula. Nindiana harus menjadi milikku.
_______________________
" Surya, Ibu sangat kelelahan mengurus rumah ini. Kalau bisa Kau carikan Ibu Pembantu" Ucap Ibu memijat punggungnya.
" Bu, dari mana Surya dapatkan uang membayar Pembantu. Sementara gaji Surya saat ini hanya Tiga Juta" Ucapku Stres.
" Kalau Kamu tak sanggup Ibu yang akan bilang sama Masmu Fatir agar membawakan Ibu Pembantu ke rumah ini" Ucap Ibu bersih keras.
" Terserah Ibu" Ucapku meninggalkan ruang tamu.
Aku lupa jika pagi ini Aku akan ke rumah Mas Fatir untuk mengunjungi Via dan Anak- anak.
__ADS_1
Setelah pamit pada Ibu Aku melajukan Motor Sepedaku ke rumah Mas Fatir. Sampai di sana terlihat Mas Fatir sedang santai duduk di teras rumahnya sambil menikmati Secangkir Teh.
" Kamu Sur, mari masuk" Ajak Mas Fatir mempersilahkanku duduk.
" Sendiri? Mana Zafran dan Zul" Ucap Mas Fatir mencari keberadaan Kedua Putraku.
" Memangnya Via tidak kesini tadi malam?" Tanyaku heran pada Mas Fatir.
" Kamu tuh aneh ya, Sur. Masa Istri Kamu datang malam- malam ke rumahku tanpa Kamu yang antarkan." Ucap Mas Fatir mulai curiga.
" Oh, berarti Via yang bohong. Dia izin keluar bersama Anak-anak datang ke sini tadi malam" Ucapku beralasan.
Mas Fatir menyipitkan mata dan mencoba melihat kebohongan dari mataku.
" Katakan Surya, apa Kamu bertengkar dengan Via?" Tanya Mas Fatir mulai mengintimidasiku.
" Ya Mas, tadi malam Kami bertengkar gara-gara Sepatu Zafran yang di belikan oleh Mas" Ucapku mulai bercerita.
" Sepatu? Maksud Kamu? Ceritalah dengan lengkap Surya" Ucap Mas Fatir mulai membentakku. Jujur nyaliku menciut jika Mas Fatir mulai marah.
" Begini Mas, jujur Surya merasa terhina saat Via meminta pada Mas untuk membelikan sepatu untuk Zafran. Surya merasa sebagai Suami tak mampu membelikan Sepatu untuk Zafran Anak Surya sendiri." Jelasku.
" Aku semakin tak mengerti Surya. Via tidak pernah memintaku untuk membelikan Sepatu untuk Zafran. Apalagi Aku membelikannya untuk Zapran. Ungkap Mas Fatir jujur.
" Lantas siapa yang membelikan sepatu semahal itu buat Zafran Mas, sementara hanya Mas Fatir yang mampu membeli Sepatu untuk Zafran dengan harga yang mahal." Ucapku juga ikut heran.
" Kamu tanya langsung sama Via dong!" Ucap Mas Fatir.
" Masalahnya Via tak mau jujur Mas. Dan Via menghindar dari pertanyaan Surya lalu kabur dari rumah membawa Ketiga Anak Surya." Jelasku.
" Apa?" Ucap Mas Fatir tak percaya.
__ADS_1
Bersambung.....