NAFKAH SISA

NAFKAH SISA
Hari pernikahan Surya


__ADS_3

Sementara Via masih meniti hatinya dan hidup bahagia di desa. Surya pun juga sedang berbahagia bersama Nindiana. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari pernikahan mereka. Pernikahan yang sederhana namun sakral. Dengan terpaksa Fatir pun ikut hadir di acara adiknya.


Acara pun di mulai, kedua calon mempelai sudah duduk saling berdampingan. Nampak wajah Nindiana terlihat berseri-seri. Begitu juga dengan wajah Surya bahagia namun merasa gugup. Bapak dari Nindiana juga ikut hadir untuk menikahkan anak si mata wayangnya.


" Surya Pratama, saya nikahkan dan kawinkan anak saya Nindiana Harianti binti Baskoro denganmu dengan mas kawin 5 gram di bayar tunai" Ucap Bapak Nindiana.


"Saya terima nikahnya Viana Lestari..." Belum sempat Surya melanjutkan lafas ijab qabul. Para penghulu menyuruh Surya untuk berhenti sesaat karena salah menyebutkan nama mempelai wanita.


Hampir tiga kali Surya meyebut nama Via mantan istrinya. Namun yang ke-empat kali akhirnya pernikahannya dengan Nindiana di nyatakan sah juga.


Wajah Nindiana yang kini menjadi istrinya tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Wajahnya yang semula sumringah kini berganti menjadi cemberut. Berulang kali tukang foto menyuruh Nindiana untuk tersenyum namun tetap saja wajah Nindiana kelihatan manyun bak corong bebek.


Surya merasa malu dengan para tamu undangan dengan sikap Nindiana yang kekanak-kanakkan.


"Sayang, senyum. ngambeknya nanti di sambung lagi setelah acara ini usai." Ucap Surya berbisik di telinga Istri barunya.


"Selamat ya Sur, Istri kamu umurnya lebih tua dari kamu ya Sur?" Tanya tetangga julid Surya sambil menyalami kedua mempelai.


Nindiana yang mendengar ucapan itu makin meradang seolah ingin menghajar tetangga surya.


"Sabar sayang, mereka memang seperti itu." Ucap Surya menenangkan istrinya.


Sementara mempelai pengantin berdiri menyambut tamu undangan untuk bersalaman. Ibu Surya sibuk mencicipi makanan hidangan untuk tamu. Nindiana memakai jasa katering untuk acara pernikahannya.


Kini para tamu undangan sudah mulai sepi dan pulang. Tinggal keluarga dari pihak Nindana yang tersisa. Mereka sebelum pulang berfoto ria dulu sebagai kenang-kenangan.


Malam ini adalah malam pertama mereka dengan status yang sah. Namun Surya enggan untuk menyentuh istrinya Nindiana. Padahal dulu Surya sangat candu dengan Nindiana.


"Mas, bukain dong?" Ucap Nindiana menyuruh suaminya membukakan kancing baju pengantinnya.


Surya pun membukakan baju Nindiana dan langsung merebahkan tubuhnya di kasur dan tertidur. Nindiana sangat kesal dengan sikap suaminya. Malam pertama yang diimpikan semua wanita adalah menjadi malam yang paling mengesankan untuk pengantin baru. Namun tidak untuk Nindiana dan Surya.

__ADS_1


Surya sungguh tak berselera dengan Nindiana saat ini. Bodi bahenol yang dulu pernah Surya lihat sekarang berubah bak ikan kembung, perut Nindiana yang buncit membuat Surya merasa Illfeel.


Nindiana mencoba merayu suaminya namun Surya sama sekali tak tertarik. Bayangan Via mantan Istrinya selalu terbayang di mata Surya. Hingga malamnya Surya sampai terbawa mimpi dan menyebut-nyebut nama Via. Hal itu membuat Nindiana sakit hati. Tak tahan Nindiana langsung mengguyur wajah Surya dengan air satu gayung.


BAAAGH....


Nindiana menumpahkan air satu gayung ke wajah Surya. Dada Nindiana naik turun karena emosi dan cemburu.


"Apa-apaan kamu Nindiana!" Teriak Surya terkejut.


"Mas bisa tidak di depanku tak usah menyebut nama Via. Aku sakit hati mas." Ucap Nindiana emosi.


"Kapan Aku menyebutnya?" Sarkas Surya.


"Kamu tadi barusan menyebut-nyebut nama Via!" Teriak Nindiana tak mau kalah.


Baru satu hari mereka menikah sudah di awali dengan pertengkaran hebat.


"Terserah!" Ucap Surya lalu meninggalkan istrinya Nindiana.


Uang Nindiana pun menipis, namun Surya enggan untuk mencari kerja dan merasa nyaman dinafkahi oleh Nindiana.


"Mas, bagaimana kita bisa makan kalau kamu malas mencari pekerjaan." Ucap Nindiana membangunkan suaminya. Padahal sudah pukul 10 pagi namun Surya belum mau bangun juga.


Nindiana pun membeli nasi bungkus satu bungkus hanya untuk dirinya sendiri. Nindiana melahap makanan tersebut tanpa menyisakan sedikitpun untuk suaminya.


"Kamu nggak masak?" Tanya Surya menuju dapur yang terlihat sangat berantakan.


"Terserah Aku dong! Mau masak atau nggak. Kalau uang belum pernah Mas beri padaku. Jangan harap Aku akan memasak." Ucap Nindiana santai.


"Kamu! Haaah! Ternyata Via lebih baik darimu." Ucap Surya emosi.

__ADS_1


"Jangan pernah membanding-bandingkan Aku dengan Istri bodohmu itu Mas. Aku Nindiana bukan Via!" Tegas Nindiana.


Surya pun pulang ke rumah Ibunya untuk mengisi perutnya. Sampai di rumah Ibunya tak ada makanan juga yang dimasak. Surya pulang lagi dalam keadaan perut yang lapar.


Mendapati Nindiana masih bersantai membuat emosi Surya memuncak, apalagi perutnya sedang lapar.


PLAAAK....


Sebuah tamparan mendarat di pipi Nindiana. Nindiana yang tadinya duduk menjulurkan kakinya dengan sigap langsung bangkit dan berdiri di depan Surya.


"Ingat Mas! Aku takkan lupa dengan tamparan ini. Suatu saat nanti kamu akan menangis darah menyesalinyja. Karena kamu telah berani berbuat kasar kepadaku." Ucap Nindiana sambil menunjuk wajah Surya dan berlalu pergi masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.


Nindiana menangis sesegukkan dan melempar semua yang ada di dalam kamarnya. Surya hanya mematung dan tak berusaha mencoba meminta maaf ataupun merayu Nindiana. Surya malahan pergi keluar lagi entah kemana.


Karena berbadan dua, Nindiana terus menerus minta perutnya untuk di isi. Akhirnya Ia keluar dari dalam kamar dan membeli berbagai macam cemilan. Setelah menghabiskan semua makanannya. Tiba-tiba perut Nindiana terasa mulas dan terpaksa berteriak memanggil nama suaminya.


"Maaaaass! Auuuuwww, sakiiiit! Teriak Nindiana meringis. Sebisa mungkin Nindiana merangkak ke luar pintu utama rumah kontrakannya.


"Toooloong" Teriak Nindiana dengan suara yang parau mencoba memanggil tetangganya.


"Mba Nindi mau melahirkan!" Teriak tetangga Nindiana. Tak lama para tetangganya pun datang membantu dan mengantarkan Nindiana ke rumah sakit.


Tak lama Surya pun menyusul ke rumah sakit dan datang bersama dengan Ibunya. Betapa senangnya Ibu Surya saat mengetahui bayi Nindiana adalah perempuan. Wajah bayi itu sangat cantik.


"Cantiknya cucuku, makasih sayang kamu telah memberikan Ibu cucu secantik ini." Ucap Ibu Surya bahagia.


Surya bersikap biasa saja dan cuek dengan bayi Nindiana. Wajah bayi Nindiana mirip sekali dengan pria bule itu.


"Surya, ayo cepat gendong bayimu." Ucap Ibu Surya.


"Surya takut bu, bayi itu masi merah takutnya Surya bayi itu jatuh di gendongan Surya." Ucap Surya beralasan.

__ADS_1


Bukan hanya Ibunya Surya yang senang, namun Istri Fatir pun ikut menyukai bayi Nindiana. Nindiana saat ini di puji -puji dan di banggakan oleh Ibu Surya.


Nindiana seperti besar kepala, dan bayi inilah yang akan menjadikan senjata untuk melawan Surya nantinya. Mengingat Ibu mertuanya sangat bahagia dengan kehadiran cucu perempuannya.


__ADS_2