
Usai sarapan dan mandi terlebih dahulu, Aku langsung pamit pulang pada Herman Teman baruku. Selain Bensin Motor Sepedaku di isi penuh, Herman juga memberiku uang jalan sebesar 300 Ribu Rupiah. Herman ternyata Royal dan baik. Tak lupa Aku meminta Nomor Ponselnya agar Aku bisa berkomunikasi dengannya kapan saja.
"Makasih banyak Man, walaupun Aku baru kenal denganmu. Kamu begitu tulus membantuku." Ucapku terharu.
"Kita kan Saudara Kawan, jangan sungkan-sungkan. Mainlah kesini jika Kamu lagi sumpek di rumah." Ucapnya menepuk pelan bahuku.
Aku pun berangkat dengan hati yang gembira. Kini semangatku kembali lagi, suatu saat nanti Aku akan membalas sikap Nindiana terhadapku. Sepertinya Herman adalah Teman yang baik, Aku bisa minta tolong padanya mencarikanku pekerjaan. Pasti Herman punya kenalan para Bos Besar. Soalnya semalam Herman sepertinya Orang yang berpengaruh dan punya banyak jaringan. Buktinya para Orang Kaya mengenalinya di Diskotik.
Sekitar Satu Jam perjalanan Aku pun sampai di Sukun. Benar kata Herman, Orang yang menungguiku langsung menghampiriku.
"Surya?" Ucapnya mendekatiku.
"Mana paket dari Herman" Ucapnya tanpa basa-basi.
Mata Pria itu melihat kiri dan ke kanan seolah ada Seseorang yang sedang mengawasinya. Ketika Aku membuka Jok Motorku untuk mengambil Paket dari Herman, tiba-tiba Pria itu berlari dengan kencang.
Dua Pria berambut Gondrong dan berambut Cepak menghampiriku lalu memegang kedua tanganku dan di tarik ke belakang kemudian tanganku langsung di Borgol.
"Jangan melawan!" Bentak Pria berambut Gondrong. Sepertinya Mereka adalah Seorang Intel. Jangankan mengeluarkan suara, berkutik pun Aku tak berani karena Aku merasa ketakutan.
Polisi yang lainnya mengejar Pria tadi yang sempat melarikan diri. Sementara Aku di geledah dari ujung kaki sampai ujung rambut oleh Dua Intel itu. Paket yang hendak Ku berikan kepada Pria yang sudah melarikan diri itu di ambil oleh Polisi.
Aku pun di giring menuju Mobil Patroli Polisi. Dengan polosnya Aku memberanikan diri untuk bertanya mengapa Aku harus di tangkap. Polisi bilang Aku adalah Pengedar Obat Terlarang. Aku syok dan kaget, pantasan Herman memberiku uag jalan yang cukup banyak. Aku mengira Ia memberiku uang itu dengan tulus. Namun ternyata Aku hanya di manfaatkan oleh Herman untuk dijadikan Kurir barang haramnya. Aku sudah menjelaskan pada Polisi bahwa Aku tidak bersalah. Namun Polisi menyuruhku untuk diam dan akan menjelaskannya setelah tiba di Kantor Polisi.
Mobil Patroli pun tiba di Kantor Polisi. Lagi-lagi Aku di giring untuk masuk ke dalam kantor. Ada beberapa pertanyaan yang diajukan kepadaku oleh Petugas di sana. Aku di tanya dari A sampai Z, dan Aku menjawab dengan sejujur-jujurnya tanpa ada yang Ku sembunyikan. Ternyata Herman adalah Bandar dari barang tersebut dan masuk ke dalam incaran Polisi. Betapa Bodohnya Aku tak curiga sama sekali saat Herman membungkus sesuatu malam itu lalu membuangnya ke atas atap rumahnya. Padahal itu sudah menjanggal dan aneh. Namun Aku dengan polosnya tak bertanya sama sekali ataupun sekedar mencari tau. Nasi sudah menjadi bubur menyesali pun sudah tak berarti.
__ADS_1
Polisi pun menghubungi pihak Keluargaku. Aku memberikan Nomor Ponselku sendiri pada Polisi. Tak lama Ku dengar suara Ibu mengangkat Ponselku yang sedang Ku tinggalkan di rumah.
" Apa benar ini Keluarga dari Saudara Surya Pratama?" Tanya Polisi.
" Benar, ini Siapa ya?" Tanya Ibuku.
"Ibu ini siapanya dari Bapak Surya?" Tanya Polisi lagi.
"Saya Ibunya Surya, ada apa ya?" Tanya Ibu mulai kesal.
" Mohon maaf Ibu, Kami dari pihak Kepolisian mau mengabarkan pada Ibu, bahwa Anak Ibu yang bernama Surya Pratama Kami tangkap karena terjerat kasus Obat Terlarang." Jelas Polisi.
"Apa?" Teriak Ibu lalu menutup Telpon secara sepihak.
Aku dibawa ke ruang Lab guna untuk pemeriksaan. Dari pengambilan sampel darah dan juga Air Seni. Setelah menunggu hasilnya, ternyata Aku negatif dan terbebas dari mengkomsumsi Obat Terlarang. Namun, untuk sementara waktu Aku tetap menjadi tahanan. Karena Aku terbukti membawa Obat Terlarang secara terang-terangan mengantarkan Barang Haram itu kepada Pemakai atau Pembeli. Polisi masih mengira bahwa Aku adalah kaki tangannya Herman. Sementara Aku sendiri baru saja mengenal Herman semenjak tadi malam saat Aku kehabisan bahan bakar. Untuk sementara waktu Polisi masih menyelidiki akan hal itu.
" Mas, Ibu dimana?" Tanyaku.
" Ibu jatuh pinsan setelah tahu Kamu berada di sini." Jawab Mas Fatir kesal.
" Mas, Surya tak bersalah, Surya di jebak Mas." Ucapku sedih.
"Dengan kejadian ini semoga Kamu sadar akan kesalahanmu, beginilah Azab jika Kamu Dzolim terhadap Anak Istrimu." Ucap Mas Surya malah menyudutkanku.
Aku terdiam dan pasrah dengan keadaanku saat ini. Aku sangat tersiksa sekaligus merasa sial bertemu dengan Via. Andai saja Dia tak mempermalukanku saat itu, mungkin semua yang Aku alami takkan pernah terjadi bahkan Aku sampai di dalam penjara seperti ini.
__ADS_1
Mas Fatir pun mengurus semuanya agar Aku bisa keluar dari sini. Jika Aku memang benar-benar bersalah maka Mas Fatir akan membiarkanku mendekam di dalam penjara selamanya. Sampai saat ini Polisi masih tetap mencari keberadaan Herman yang juga melarikan diri. Jika Herman belum di temukan oleh Polisi. Maka otomatis Aku tetap menjadi sebagai tersangka untuk sementara waktu.
Mas Fatir berusaha keras agar Aku terbebas dari sini. Karena Mas Fatir yakin bahwa Aku bukanlah pengedar barang haram.
Aku begitu tersiksa, ujian ini beruntun Ku hadapi. Dari Jabatanku turun hingga Aku di permalukan di tengah umum. Kemudian Aku di pecat dan sekarang ini Aku berada di dalam penjara tanpa Aku bersalah. Semua ini gara-gara Via Istri yang tak tahu diri. Aku berjanji setelah Aku keluar dari sini Aku akan menggugat Surat Cerai kepadanya.
"Hey Anak muda! Kemarilah." Ucap Seorang Pria yang lebih Tua dariku.
" Ada apa Bang?" Tanyaku.
"Pijitin punggungku cepat!" Bentaknya menyuruhku dengan kasar.
"Enak saja" Ucapku meninggalkannya dengan kasar.
BUGH BUGH BUGH
Wajahku di tonjok tanpa permisi oleh Pria itu.
" Ampun Bang, ampun Bang" Ucapku memohon agar pukulan itu tak melayang lagi di Wajahku. Ada Tiga Orang Pria yang Satu Sel denganku hanya terdiam melihatku di pukul oleh Pria itu. Mereka hanya menyaksikan tanpa mau membela atau sekedar melerai.
"Aku mengira Kamu mempunyai nyali untuk melawanku, namun ternyata Kamu sama saja seperti kerupuk yang terkena angin langsung lembek." Ucap Pria itu menghinaku.
" Jadi Anak baru itu jangan Belagu" Timpal Pria yang berkumis yang duduk di lantai dengan santai.
"Ayo cepat pijat punggungku!" Bentaknya.
__ADS_1
Aku pun patuh pada perintah Pria itu, darah yang mengalir dari hidungku takku hiraukan lagi. Sesekali Aku mengusapnya dengan lengan bajuku. Air mataku tumpah ruah jatuh di pipiku. Dulu Aku menangis saat Nindiana melakukan penghianatan padaku. Namun kini Aku menangis karena Aku merasa sangat terhina. Di suruh-suruh, di bentak bahkan di pukul jika Aku tak menuruti Mereka di dalam penjara ini. Aku sungguh tersiksa dengan keadaan ini dan Aku ingin secepatnya terbebas dari sini.
Tiba-tiba saja Aku jadi teringat dengan Ketiga Putraku. Bulir bening di mataku kembali menetes. Apakah Via pernah merasakan hal yang sama seperti diriku ini. Mungkin Via saat ini sedang tertawa di dalam penderitaanku.