NAFKAH SISA

NAFKAH SISA
Mempermalukan Mas Surya


__ADS_3

Pagi ini Aku bersiap-siap akan pergi mengurus Surat Pindah Anakku di Sekolahnya di Kota ini. Ada rasa khawatirku jika Aku akan bertemu dengan Mas Surya di sana. Mengingat Hotel tempat Mas Surya bekerja Satu arah dan cukup dekat dengan Sokalah Zafran dan Zul.


" Nak Via, biarkan Yoris yang akan mengantarmu ke tempat Sekolah Anakmu sampai urusanmu selesai." Tawar Bunda Mery.


" Terima kasih sebelumnya Bunda, Saya tak ingin merepotkan Yoris dan Ibu lagi. Di ajak menginap di sini saja Saya sudah bersyukur." Ucapku menolak dengan halus.


" Tak apa-apa Via, Bunda senang melakukanya dan membantumu. Cuaca sebentar lagi akan sangat panas. Kasihan jika Kamu harus membawa Si Kecil naik turung Angkot." Ucap Bunda Mery.


Aku terpaksa tak bisa menolak tawaran baik Bunda Mery . Aku kehabisan alasan lagi untuk menolak Beliau.


Sebelum berangkat terlebih dahulu Aku ikut Sarapan bersama di rumah Bunda Mery. Setelah itu Aku mulai menaiki Mobil yang di bukakan pintunya oleh Yoris.


" Saya duduk di belakang saja." Ucapku tak enakkan.


" Jika Kamu menganggapku Sopirmu maka duduklah di belakang." Ucapnya.


Aku sangat bingung maksud perkataan Yoris.


" Nak Via, duduklah di depan bersama Yoris. Jika Kamu duduk di belakang Kamu seperti Majikannya Nak Yoris dan Yoris seperti Sopir Pribadi Nak Via." Jelas Bi Ina tersenyum.


" Maaf Bi Ina, Saya baru mengerti. Maklum Wong Ndeso. Soalnya di Kampung Via kalau duduk dengan Sopir di depan dikirain Saya yang Majikannya." Ucapku baru mengerti.


Yoris sepertinya menahan senyummnya. Sikap pendiamnya menyulitkanku untuk bisa akrab dengannya. Di dalam Mobil hanya Suara Zaki yang membuat suasana hening menjadi ramai. Zaki Anakku mengoceh terus sedari tadi karena senang melihat keramaian dari dalam Mobil. Sementara Aku dan Yoris sama- sama terdiam.


" Sekolahnya dimana?" Tanyanya singkat.


" SD 3 Prima Raya." Ucapku. Jujur, Sebelas Tahun Aku tinggal dan menetap di Mataram. Aku tidak pernah sama sekali datang ke Sekolah Anakku atau pun sekedar mengantar Mereka. Kesibukanku layaknya Pembantu di rumah itu hampir tak punya waktu untukku keluar rumah. Dan tugas mengantarkan Anak ke Sekolah adalah tugas Mas Surya. Itu pun di lakukan Mas Surya hanya Du Bulan saja. Karena setelah Anakku tahu jalur arah pulang ke rumah. Mereka mulai befjalan kaki pulang pergi ke Sekolah. Kedua Putraku sangatlah mandiri, kadang di jalanan ada beberapa Teman Mereka yang ikut juga berjalan kaki yaitu para Anak-Anak yang kurang mampu. Jarak dari rumah ke Sekolah cukup jauh, membutuhkan waktu sekitar belasan menit. Namun Kedua Anakku tidak pernah mengeluh dan malahan senang melakukannya.


" Terima kasih" Ucapku lalu turun menuju Sekolah Zafran.


Yoris pun turun dan membukakan pintu Mobil untukku.

__ADS_1


" Masuklah, biarkan Zaki bersamaku." Ucapnyamenawrkan diri.


Zaki yang enteng dengan siapa saja sangat senang di gendong Yoris dan di ajak bermain di Halaman Sekolah.


Usai urusanku kelar Aku pun keluar dari Halaman Sekolah Zafran. Mataku tak sengaja melihat Mas Surya memohon kepada Seorang Perempuan yang cantik dan Sexy.


" Sayang, tolong jangan tinggalkan Mas" Ucap Mas Surya menarik tangan Wanita itu.


Wajah Wanita itu mirip sekali dengan Foto yang pernah Aku lihat waktu itu. Saat Aku mengambil Ponsel Mas Surya secara diam-diam dan memeriksanya. Mungkinkah Wanita ini yang bernama Nindiana. Hm, bahkan Namanya pun masih Ku ingat dalam Memori kepalaku.


Aku berdiri menyaksikan Mas Surya mengejar Wanita yang terlihat cuek dan tak menghiraukan Mas Surya. Entah, mengapa kepalaku mendidih melihat tingkah Mas Surya. Walaupun Aku sudah tak lagi mengharapkannya, tetap saja hatiku sangat sakit.


Aku pun mulai melangkah dan melintas di depan Mereka. Mas Surya tak sadar jika Aku sudah berada di hadapannya. Karena terlalu fokus mengejar Kekasih hatinya. Tanpa Ku rencanakan tanganku melayang begitu saja.


PLAAK...


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Mas Surya. Wanita itu pun menghentikan langkahnya dan berbalik menyaksikanku menampar Kekasihnya.


" Dengan Wanita Murahan ini Kau bandingkan Aku. Cuih! Bahkan Burung pemakan bangkai saja akan muak memakan daging Wanita ini saking tidak berharganya." Ucapku lantang.


Semua Orang menyaksikan Aku menghina Kekasih Mas Surya. Para Ibu-ibu yang menonton aksiku ada yang membelaku dan bahkan merekam kejadian itu.


" Hey! Jaga mulutmu ya? Asal Kamu tahu saja Suamimu yang tergila-gila padaku. Dia selalu saja mengejarku padahal Aku tak suka dengannya." Ucap Nindiana mencoba membela diri. Kondisinya saat ini sangat terjepit karena Ibu-ibu yang ada di situ menyudutkannya.


" Huh! Dasar Pelakor."


" Dasar Wanita Murahan." Segala cacian dan hinaan di tujukan pada Nindiana.


" Licik juga Kamu menjadi Wanita, setelah Kau kuras habis harta Suamiku Kamu meninggalkannya dan membuangnya seperti sampah." Ucapku sengaja berpihak pada Mas Surya.


" Gara-gara Kamu, Suamiku tidak pernah menafkahi Kami dan Hidupku menjadi sengsara karena semua Uang dan harta Suamiku di berikan kepadamu." Sarkasku kembali mempermalukan Mas Surya.

__ADS_1


Ku lihat Wajah Mas Surya merah padam menahan malu dan amarah. Namun tak berani berkutik karena menahan malu.


" Sekarang, Kau terima Azabnya Mas karena pernah menelantarkan Istri dan Anakmu. Bagaimana? Tersiksa bukan di anggap sampah oleh Orang yang Kamu perjuangkan." Ejekku lalu pergi meninggalkan Mereka yang masih di kerumuni banyak Orang.


Kali ini Aku kehilangan kendali dan terbawa emosi. Aku sebenarnya tak punya niat. Melihat Mas Surya memohon pada Nindiana hatiku sangat sakit dan terluka.


Aku pun naik ke atas Mobil. Ku lihat Anakku Zaki tertidur di pangkuan Yoris. Aku pun mengambil Zaki dari pangkuan Yoris dengan pelan.


" Maaf, lama menunggu" Ucapku pada Yoris.


" Tidak apa-apa" Ucap Yoris tersenyum kaku.


Aku tak bisa membendung lagi air mata yang sedari tadi Ku tahan. Semakin bulir bening itu ku tahan semakin deras jatuh ke pipiku.


Yoris megulurkan Tissu tanpa mengucapkan apapun. Aku pun mengambil Tissu itu dari tangannya dan menghapus air mataku. Aku sangat rapuh dan begitu lemah hingga air matalah yang menjadi obat untuk bisa Aku bangkit dan kuat lagi.


" Maaf" Ucapku pada Yoris.


" Menangislah, Bundaku dulu juga pernah melakukan hal yang sama sepertimu." Ucap Yoris mulai mengajakku bicara.


" Wanita manapun akan melakukan hal yang sama bila dicampakkan seperti itu. Melihat Suami sendiri memohon pada Kekasihnya, itu adalah hal yang menyakitkan bagi Seorabg Istri." Ucap Yoris. Walau Ia bicara kepadaku Dia tetap fokus melihat ke arah depan tanpa menoleh sekalipun ke arahku.Dapat Ku lihat dendam membara tersimpan di matanya.


" Jujur, Saat itu melihatmu makan Bersama Ketiga Anakmu. Hatiku sangat hancur, Aku melihat Bundaku dulu pernah melakukan hal yang sama seperti dirimu. Demi mengenyangkan Anak Bundaku rela kelaparan. Teruslah berjuang menjadi Orang sukses. Suatu saat nanti Suamimu akan menangis darah karena telah menyia-nyiakan Keluarganya." Ucap Yoris memberiku semangat.


" Kadang maksud Kita melawan bukan berarti Kita dendam melainkan sesekali Kita harus memberi Mereka pelajaran. Agar tahu bagaimana rasa sakitnya." Ucap Yoris dengan mata berembun.


" Kamu benar, tadinya Aku menyesali telah mempermalukan Mereka di tempat umum." Ucapku.


Kami pun sampai di Rumah Bunda Mery. Aku langsung pamit pulang ke Desa. Walaupun baru kenal, Bunda Mery terasa kehilangan Aku dan Zaki.


" Hati- hati di jalan ya Nak." Ucap Bunda Mery menangis. Begitu juga dengan Bi Ina.

__ADS_1


Kali ini Aku menolak untuk diantarkan ke Halte. Aku sengaja menolak dan tak ingin lagi merepotkan Bunda Mery dan Yoris. Sebuah Amplop di masukkan Bunda Mery ke dalam Tasku. Lagi-lagi Aku tak bisa menolak pemberiannya.


__ADS_2