
Mas Fatir melihat penampilan Lisa yang menor dan seksi. Mata Mas Fatir mulai bereaksi dan memerah.
"Apa-apaan kamu Lisa berpakaian seperti ini!" Tanya Mas Fatir marah.
"Mas, Lisa Surya dapati sedang berada di dalam diskotik dan tanpa sadar Ia mencoba menggoda Surya. Lisa mengira Surya adalah pelanggannya." jelasku mengusap kepala dengan kasar.
"Apa? Apa benar itu Lisa? Jawab!" Bentak Mas Fatir emosi.
"Li- Li-Lisa hanya iseng aja Mas" Jawab Lisa gagap.
PLAAAK....
Tamparan lagi mendarat di pipi Lisa.
"Kamu masih sekolah Lisa, lantas mengapa Ibu membiarkan Lisa keluar malam-malam seperti ini." Ucap Mas Fatir menatap Ibu.
"Lisa tadi malam di jemput oleh temannya, katanya mau kerjain tugas sekolah. Ibu tidak tahu nak, jika Lisa sedang membohongi Ibu." Ucap Ibu merasa bersalah.
"Dan kamu Surya, mengapa kamu bisa berada di sana?" Mas Fatir balik tanya kepadaku.
"Surya...mmm, iseng aja mas buat nenangin diri." Ucapku asal.
PLAAAK....
"Kalian ini sama saja! Sama-sama bikin ulah. Dan mulai sekarang, Mas tidak akan pernah membiayai sekolahmu lagi Lisa. Mas kecewa sama Kamu." Ucap Mas Fatir marah besar.
"Mas, maafkan Lisa mas. Lisa tidak akan mengulanginya lagi dan Lisa akan menanggung hukuman yang mas Fatir berikan." Ucap Lisa menyesali perbuatannya sambil bersimpuh di kaki mas Fatir.
"Mas, kasihan Lisa. Sebentar lagi dia akan menamatkan bangku sekolah. Surya mohon mas, untuk kali ini saja." Ucapku juga memohon pada Mas Fatir.
"Jangan seperti itu nak, fikirkan sekolah adikmu yang tinggal 6 bulan lagi." Ucap Ibu.
__ADS_1
Sejenak mas fatir terdiam dan berfikir.
"Baiklah, untuk hukumannya selain pergi ke sekolah kamu tidak boleh keluar rumah lagi. Mengerti! Dan jika kamu membantah dengan hukuman mas, kamu akan tanggung sendiri akibatnya Lisa." Ancam Mas Fatir dengan tegas.
Aku pun merasa lega karena Mas Fatir masih memberi kesempatan untuk Lisa. Beruntung Nindiana datang ke rumah setelah mas Fatir sudah pulang. Jika sampai Aku ketahuan oleh mas Fatir kumpul kebo dengannya pasti Aku akan di hajar habis-habisan oleh kakakku itu.
"Mas, gimana sih! Nindianana kan suruh mas menunggu. Eh, tau-taunya sudah di rumah Ibu." Ucap Nindiana kesal.
Aku tak mau bertengkar di rumah Ibu dan Aku mengajak Nindiana untuk segera pulang ke rumah kontrakkan. Di atas motor sepeda Nindiana merajuk dan memilih untuk diam. Sesampainya di rumah kontrakan Aku pun langsung merebahkan tubuhku yang terasa lelah. Sementara Nindiana mengganti bajunya yang penuh dengan bau rokok dan alkohol.
"Gimana sayang, kamu dapat uang itu." Tanyaku tak sabaran.
Bukannya Nindiana menjawab Ia malah balik tanya kepadaku.
"Mas kenapa pergi dari sana!" Ucapnya ketus.
"Sayang, tadi mas ada urusan yang sangat penting." Ucapku tak mau menjelaskannya secara detail.
"Dengan meninggalkanku begitu saja tanpa pamit. Iya? Mas tau tidak yang apa yang terjadi dengan Nindiana di dalam diskotik. Nindiana hampir mati Mas!" Ucap Nindiana kesal. Entahlah, Aku tak merasa khawatir dengan Nindiana lagi. Tak seperti dulu Aku sangat mengkhawatirkannya.
"Uang yang di kasih bule tua itu..." Ucapan Nindiana terpotong.
Aku yang tadinya berbaring dengan semangat Aku bangkit dan duduk.
"Ceritakan dengan jelas sayang, mas tidak mengerti." Ucapku tak sabaran.
"Uang itu hampir di ambil oleh perampok mas." Ucap Nindiana.
"Lalu, apakah uang itu masih ada padamu." Ucapku khawatir.
"Mas mengkhwatirkan uang itu tanpa menghawatirkan diriku." Ucap Nindiana mendengus kesal dan bangkit dari duduknya.
__ADS_1
" Sayang, bukan begitu maksud mas, jika uang itu tak ada kita bakalan tak bisa menikah." Ucapku merayu Nindiana. Beruntung Nindiana yang Ku kenal sekarang mudah untuk di luluhkan.
Nindiana pun menunjukkan uang yang di berikan oleh kekasih bulenya itu. Jumlah uang 36 juta itu sudah ada di tangan.16 juta dari Nindiana ditambah 20 juta di tanganku. Untuk nafkah yang tiap bulannya Aku hanya menandatangani surat perjanjian tanpa harus melakukan kewajibanku.
Pagi pun tiba, dengan persediaan uang yang di minta Via. Aku sudah mempersiapkannya dan membawanya ke kantor Agama.
Aku datang ke pengadilan bersama dengan Nindiana. Kulihat Via sudah datang di awal waktu. Penampilan Via hari ini sungguh membuatku pangling. Dengan gamis berwarna pink baby dan jilbab yang senada Via terlihat sangat anggun. Wajahnya kini tak terlihat kusam seperti Via yang dulu bersamaku. Aku sampai tak sadar jika Nindiana memperhatikanku sedari tadi dan mengagetkanku dengan cubitan keras di pinggangku.
Kami pun masuk ke ruang persidangan. Aku pun mengeluarkan uang yang telah di minta oleh Via dengan jumlah 36 juta rupiah. Tanpa rasa sedih dengan ringan Via menandatangani surat perceraian kami. Wajah Via yang Ku lihat saat ini seolah bebas lepas dan bahagia. Mungkinkah Via sangat bahagia telah resmi berpisah denganku.
Saat palu itu di ketuk oleh hakim bahwa kami resmi berpisah. Ada rasa penyesalan yang terdalam dalam hudupku. Via yang selama ini berstatus istri bagiku kini hanyalah sebatas Ibu dari anak- anakku.
Aku melihat ke arahnya yang terkesan datar dan tak berekspresi. Aku menghampiri Via dan mengucap kata terakhirku padanya.
"Via, maafkan Aku. Karena selama ini Aku menjadi suami yang tak baik bagimu ataupun bagi ketiga putraku." Ucapku tulus.
"Seharusnya ungkapan itu kau ucapkan saat Aku masih berstatus sebagai istrimu." Ucap Via santai.
"Jika Aku ingin berkunjung ke kampungmu nanti bertemu dengan anak-anak. Apakah kamu mengizinkanku Via." Ucapku berharap.
"Tak ada batasan antara ayah dan anak. Jika kamu mau mengunjungi mereka silahkan. Aku takkan pernah melarang." Ucap Via mengizinkan.
"Via, apakah rasa itu sudah tak ada lagi untukku?" Tanyaku ingin tahu.
"Rasa yang mana yang kamu maksudkan?" Ucap Via balik bertanya.
" Rasa cintamu untukku." Ucapku dengan keberanian.
"Jangankan secuil setitik pun rasa itu telah hilang di hatiku. Apakah kamu tahu? Dengan uang ini Aku akan berpesta pora merayakan perpisahanku denganmu." Ucap Via tersenyum mengejek.
Aku hampir saja ingin menampar Via dengan ucapannya. Namun sebisa mungkin Aku menahan gejolak emosiku. Andai Ia tak cantik dan menarik hari ini mungkin, Aku tak akan mengemis untuk sekedar menegurnya.
__ADS_1
Aku pun meninggalkannya dan menghampiri Nindiana yang sudah menungguku untuk pulang. Nindiana terlihat sangat bahagia karena Aku telah resmi berpisah dengan Via.
Berulang kali Aku menoleh ke belakang melihat ekspresi Via saat Nindiana merangkul pinggangku dengan mesra. Namun wajah Via terlihat biasa saja. Dan yang membuat Aku sakit hati adalah Via di jemput oleh seorang pria yang jauh lebih mapan dariku. Dengan mobil mewah Via pergi menjauh dari mataku dan juga hatiku. Aku seolah tak rela jika Via jatuh ke tangan orang lain. Mungkinkah hati ini masih cinta atau hanya sekedar rasa cemburu sesaat saja.