NAFKAH SISA

NAFKAH SISA
Surat Relas Talak Mas Surya


__ADS_3

kini Aku sudah mempunyai sepetak sawah yang Ku beli dari uang yang di berikan oleh Bunda Mery. Walaupun menunggu hasilnya Tiga bulan sekali setidaknya sawah itu milik sendiri. Dan semenjak Paman menggarap sawah milik kami, Paman tak lagi bekerja dengan juragan tanah di kampung. Walaupun hidup seadanya namun Aku sangat bahagia bersama ketiga putraku.


Enam bulan sudah waktu berlalu dan kini kedua putraku merasakan liburan semester pertama mereka di desa. Aku mengajak ketiga anakku berlibur ke pantai terdekat. Meskipun hanya wisata desa namun ketiga anakku menikmati liburan mereka. bermandikan air laut yang baru pertama kalinya mereka rasakan membuat ketiga putraku terlihat sangat bahagia.


Waktu sudah menunjukkan sore hari, kami pun bersiap-siap untuk pulang.


"Zafran sangat senang Bu bisa mandi di pantai." Ucap Zafran mencium pipiku.


"Zul juga Bu, kapan-kapan kita kesini lagi ya Bu." Timpal Zul.


"Iya nak, doakan Ibu punya rejeki. Kita bisa main kesini lagi." Ucapku bahagia.


Bermodalkan uang 50 ribu saja Aku bisa membuat mereka senang. Aku membawa memang bekal dari rumah dan kami naik bemo desa sekitar satu jam lamanya dengan ongkos 15 ribu. Tak ada karcis masuk untuk masuk ke kawasan pantai tersebut. Di gratiskan bagi siapa saja yang mau berkunjung. Beruntung ketiga anakku tak memperdulikan mainan atau makanan yang di jual oleh para pedagang di pantai tersebut. Mereka asyik bermain pasir dan menikmati air laut untuk mandi.


Kadang di saat kita punya banyak uang tapi waktulah yang membuat kita tak bisa mengajak anak-anak pergi berlibur karena sibuk bekerja. Dan kadang di saat waktu senggang banyak uanglah yang menjadi kendala untuk kita bisa keluar mengajak anak kita pergi berlibur.


Setelah puas bermain, kami pun pulang dengan hati yang ceria. Sampai di rumah Bi Rina langsung menghampiriku dan memberikanku sebuah amplop berwarna coklat. Bi Rina tak tahu itu amplop apa karena Beliau buta huruf.


" Via, ini surat tadi di antarkan oleh pak pos." Ucap Bi Rina.

__ADS_1


" Amplop apa ini Bi? Tanyaku sembari membaca logo amplop coklat itu.


Dan ternyata surat itu adalah surat cerai talak dari Mas Surya. Hatiku yang teramat senang kini berubah menjadi sedih. Bulir bening itu kembali menetes di pipiku. Aku mengira dengan berjalannya waktu Mas Surya akan berubah dan datang melihat ketiga putranya ke desa. Aku sengaja tak meminta untuk di ceraikan karena Aku ingin keluarga yang utuh demi ketiga putraku. Dan kini Mas Surya sudah memutuskan semuanya dan ingin resmi bercerai dariku. Sebelum Ku remas kertas surat cerai itu terlebih dahulu Aku melihat tanggal kehadiran sidang pertamaku. Tunggulah Mas Aku tetap akan datang ke persidangan. Gumamku dalam hati sembari meremas kertas cerai itu.


Malamnya Aku pun memberitahu Paman tentang surat cerai itu. Sekalian Aku izin untuk menghadirinya.


" Nggak usah di hadiri Nak, supaya prosesnya cepat selesai dan statusmu juga nggak menggantung kayak gini. Jika tiga kali surat panggilan itu kamu abaikan maka kamu sudah resmi menerima surat talak. Lagi pula kamu ke sana buang-buang waktu dan biaya." Ucapan Paman ada benar juga. Kali ini Aku akan pergi bukan untuk sekedar menghadiri sidang. Namun Aku datang untuk menuntut Mas Surya atas kelalaian tanggung jawabnya selama ini pada ketiga anakku.


Setelah berfikir panjang Aku memantapkan hatiku untuk pergi bersama Zaki. Kedua Putraku nantinya akan Ku titipkan pada Bi Rina dan paman. Untuk tempat tinggal selama berurusan Aku akan ke rumah Bunda Mery. Meskipun Aku merasa sungkan namun hal ini terpaksa Aku lakukan.


Aku memecahkan celengan tanahku lalu menghitungnya. Padahal celengan itu niatnya adalah untuk sunatan Zaki. Aku terpaksa memecahkannya demi sebuah misi mempertahankan hak anak-anakku. Uang sejumlah 350 ribu sudah cukup untukku sampai di mataram. Aku akan meminta pada Bunda Mery untuk menjadi pembantu di rumahnya. Agar Aku tak hanya nebeng hidup di sana nantinya.


"Tolong jaga kedua anak Via Bi. Nanti Via akan memberi kabar jika sudah sampai. Via akan telpon bibi atau paman ke ponsel tetangga kita Ninik." Ucapku.


Aku pun berangkat ke mataram lagi dengan Zaki. Aku mengira Aku tak akan menginjakkan kaki di sana lagi. Nyatanya hari ini Aku pergi. Seperti biasa Aku memilih jalur laut karena kendala biaya. Setelah hampir 6 jam perjalanan akhirnya Aku sampai di kota mataram. Aku melanjutkan perjalanananku menaiki ojek ke rumah Bunda Mery. Beruntung sampai di sana Mobil Bunda Mery memasuki gerbang rumahnya.


Baru melangkahkan kaki turun dari mobil Aku memanggil Bunda Mery.


" Bunda Mery" Panggilku dari luar pagar.

__ADS_1


Bunda Mery mengerutkan keningnya dan berfikir sejenak.


"Via? Via!" Teriak Mba Mery menyambutku dengan ramah lalu memelukku begitu hangat. Beliau langsung mengambil Zaki di gendonganku dan mempersilahkanku masuk ke dalam rumah.


"Nak Via, nggak nyangka kita bisa bertemu lagi." Ucap Bunda Mery bahagia.


"Bunda, terimakasih banyak amplop yang bunda Mery kasih. Isi amplop itu sudah Via jadikan sepetak tanah yang di tanami padi. Dan ini, sedikit beras dari hasil sawah Via. Hanya ini oleh-oleh dari kampung yang bisa Via bawa untuk Bunda." Ucapku tulus.


Nampak mata Bunda Mery berkaca-kaca dan langsung memelukku.


"Nak, Kamu datang kesini saja Bunda sudah senang. Jujur Bunda jatuh cinta dengan si kecil Zaki. Bunda selalu rindu dengannya. Terlebih Bunda dari awal bertemu denganmu Bunda sudah menganggapmu sebagai anak Bunda." Ucap Bunda Mery tulus.


"Sekali lagi maafkan kedatangan Via kali ini merepotkan bunda. Via datang kesini ingin tinggal di sini hingga urusan Via selesai.Via ingin menjadi pembantu di rumah ini Bunda. Pekerjaan apa saja Via akan lakukan. Asal Via di ijinkan untuk tinggal di sini." Ucapku memohon.


"Nak Via, mau setahun pun kamu tinggal di sini rumah ini selalu terbuka untukmu. Tak perlu kamu menjadi pembantu di rumah ini Nak, karena pembantu Bunda sudah ada. Cukup kamu menjadi anak Bunda itu sudah membuat Bunda sangat senang." Ucap Bunda Mery tulus.


Aku tak tahu lagi harus bicara apalagi selain berterima kasih pada Bunda Mery. Aku memeluk beliau dan menangis sesegukkan di dalam pelukannya. Kebaikan Bunda Mery akan selalu ku ingat sampai Aku mati. Beliau seolah hadir menggantikan sesosok Bibiku yang telah tiada. Aku begitu terharu sekaligus bahagia.


Setelah menceritakan kedatangan dan urusanku. Bunda Mery akan menemaniku menyelsaikan sidang perceraianku sampai tuntas dengan Mas Surya. Dan Bunda Mery mendukungku atas rencanaku pada calon mantan suamiku itu.

__ADS_1


__ADS_2