NAFKAH SISA

NAFKAH SISA
Lisa?


__ADS_3

POP SURYA


Karena kesal dengan Via Aku jadi terbakar emosi dan menendang apa saja yang ada di hadapanku. Sebenarnya Aku rindu saat dia menyebutku dengan sebutan Mas lagi. Via yang sekarang ini Aku kenal bukanlah Via yang dulu lagi.


Dengan hati-hati Aku membuka sepatuku. Nampak jari jempol kakiku membengkak akibat benturan batu. Aku melangkah dengan pelan seperti orang pincang menuju tempat parkiran untuk mengambil sepeda motorku.


Dalam perjalanan Aku tak habis fikir, mengapa Via sekarang terlihat sangat angkuh dan berani. Padahal tadinya Aku ingin membalas dendamku karena Via telah mempermalukanku waktu itu. Namun kenyataannya harapanku tak sesuai dengan apa yang aku inginkan. Tadinya Aku ingin Via mengemis-ngemis tak mau cerai dan bersimpuh di kakiku untuk meminta maaf karena telah mempermalukanku.


Setelah Ku tahu Via tak mau bercerai denganku. Aku sangat senang karena rencanaku berhasil dan Aku akan mengatur rencanaku berikutnya untuk membuat Via menderita. Namun, Via tak mau bercerai bukan alasan ingin memohon kepadaku melainkan Via ingin Aku mengganti rugi nafkah yang telah Ku lalaikan selama setahun penuh. Nominal yang di ajukan Via pun tidaklah sedikit. Entah dari mana Aku bisa untuk mendapatkannya.


Saat itu, Nindiana datang bertamu ke rumahku. Dia membawakan banyak oleh-oleh untuk Ibu dan Lisa Adikku. Aku tak tahu darimana Nindiana mendapatkan alamat rumahku.


"Sur, ada yang nyari di luar. Panggil Ibuku mengetuk pintu kamar.


"Iya Bu" Sahutku dari dalam kamar sembari memakai baju. Ketika Aku menuju ruang tamu Aku cukup terkejut dengan kehadiran Nindiana.


"Apa kabar Mas?" Tanyanya ramah dan tersenyum.


"Baik" Ucapku dingin.


Ibu membawakan minuman beserta cemilan di atas meja dan menawarkan minuman itu pada Nindiana dengan ramah. Sikap Ibu tumben sangat baik dengan tamuku, biasanya Ibu bersikap biasa saja. Rupanya Ibu tadi di bawakan hadiah oleh Nindiana makannya Ibu terlihat begitu mengagungkan tamuku.


"Mau apa kamu kesini" Ucapku ketus.


"Mas, Aku minta maaf telah meninggalkanmu. Aku sangat menyesal Mas" Ucap Nindiana.


"Kamu menyesal karena Bule tua itu mencampakkanmu bukan?" Ucapku sakit hati.


"Bukan karena itu Mas, Aku datang ke sini karena Aku ingin meminta pertanggung jawabanmu. Aku hamil Mas." Ucap Nindiana enteng.


Aku mengarahkan mataku ke perut Nindiana, perutnya memang sudah agak membesar.


"Kamu hamil apa urusannya denganku, Aku tahu itu bukanlah Anakku. Mengingat Kamu sering melakukan perbuatan najismu pada orang lain." Ucapku emosi.


" Mas, apapun yang kamu minta dariku. Aku akan berikan untukmu." Ucap Nindiana menawarkan sesuatu untukku.

__ADS_1


Aku berfikir sejenak, mungkin inilah jalanku untuk membalaskan sakit hatiku pada Nindiana. Aku akan memanfaatkannya seperti halnya dulu Nindiana memanfaatkan Aku.


"Baiklah, Aku ingin kamu memberiku uang saat ini 20 juta. Jangan kamu fikir kamu bisa membeliku dengan uangmu.


"Itu saja, baiklah" Ucap Nindiana setuju dan langsung mengeluarkan uang sebesar 20 juta di dalam tasnya. Aku tak menyangka Nindiana akan langsung memberikan uang itu padaku sekarang juga.


Aku mengambilnya tanpa ragu kemudian menghitungnya.


" Aku percaya padamu Nindiana, kita akan segera menikah." Ucapku mantab.


"Tapi Aku mau kita menikah secara sah dimata negara dan agama. Dan Mas harus tinggal bersamaku di rumah kontrakan untuk sementara. " Ucap Nindiana memberi syarat.


"Baiklah, besok Aku akan ke pengadilan untuk menggugat Via. Agar nantinya Aku bisa menikahimu secara Sah" Ucapku janji.


Ibu sangat mendukungku dengan Nindiana. Karena Ibu mengira Nindiana adalah anak orang kaya. Apalagi Nindiana sering membelikan Ibu barang dan makanan.


Setelah memasukkan gugatanku ke pengadilan Aku merasa sangat puas. Pasti Via akan terkejut dan memohon-mohon padaku. Atau mungkin Via tak akan datang ke persidangan karena kendala biaya.


Semua keperluanku saat ini di tanggung oleh Nindiana. Dari makanan hingga kebutuhan lainnya. Ternyata mantan kekasihku ini banyak uang. Entah dari mana Dia mendapatkannya, yang terpenting saat ini Aku hidup enak tanpa harus memikrkan kerja untuk mendapatkan uang. Aku mengaku pada tetangga Nindiama jika Aku adalah suaminya. Beruntung mereka tidak mempertanyakan segala buku nikah dan segala macam.


Sudah dua kali ini pertemuan kami di pengadilan, tetap saja Nindiana menuntutku dengan uang nafkah. Karena pusing Aku terpaksa membawakan uang 20 juta ke pengadilan dan memberikannya pada Via. Dengan sombongnya Via malah menolaknya dengan mentah-mentah.


"Gimana Mas, hasil persidangannya apakah Via sudah mau menandatangani surat cerai itu?" Tanya Nindiana ingin tahu.


"Mas sudah mencoba memberikan uang ini tapi tetap saja Via tak mau bercerai. Dan malah mengancamku mengadukan semua prihal perselingkuhanku denganmu." Ucapku lesu.


"Kamu tenang saja Mas, serahkan saja uang 36 juta itu besok. Nindi akan keluar malam ini menemui bule itu untuk meminta uang." Ucap Nindiana memberikan solusi.


"Baiklah" Ucapku tanpa cemburu.


Malam itu Aku mengantar Nindiana ke diskotik. Disanalah tempat janjian Wanita mur*han itu dengan kekasihnya. Sambil menunggu Nindiana, Aku terduduk santai di kursi di depan bartender. Aku memesan minuman ringan saja. Nampak tangan menepuk bahuku dan berbisik di telingaku.


" Mau di temenin nggak Mas?" Tanyanya mendayu manja di telingaku.


Ketika Aku memutar kursiku betapa terkejutnya Aku melihat Lisa adikku yang berpakaian seksi dan menggoda.

__ADS_1


"Lisa..?" Ucapku terkejut.


Darahku mendidih dan menarik tangannya dengan kasar untuk keluar dari diskotik.


"Mas, mas. Sakit Mas!" Ringisnya kesakitan.


Aku tak perduli lagi dengan kesakitan Adikku. Sampai di luar Aku menampar kedua pipinya dengan keras.


PLAAAAK..


"Auww, sakit Mas" Ucapnya memegang kedua pipinya.


"Jadi begini kelakuanmu di belakang Mas.Hah! Kamu menjual dirimu hanya demi uang. Kurang apa Mas ini menuruti kemauanmu." Teriakku dengan emosi.


Dengan paksa Aku membawa Lisa pulang ke rumah. Aku tak perduli lagi jika Nindiana nanti mencariku.


"Naik!" Bentakku menyuruh Lisa naik ke atas sepeda motor. Tanpa menolak Lisa pun terpaksa naik di belakangku. Dengan kecepatan tinggi Aku sampai di rumah dengan cepat.


"Masuk! Teriakku pada Lisa.


Mendengar Aku berteriak Ibu pun keluar dari dalam rumah.


" Ada apa malam-malam begini ribut-ribut sih!" Ucap Ibu kesal.


Kami pun masuk ke dalam dan Aku kembali menampar Lusi dengan keras. Ibu yang melihatku menampar putrinya berteriak dan menghalangiku.


" Hentikan Surya! Apa kamu sudah gila." Ucap Ibu.


Ibu mengambil ponsel dan menghubungi Mas Fatir. Tak lama Mas Fatir pun datang sendiri dengan mobilnya.


"Ada apa ini Surya?" Tanya Mas Fatir pelan.


" Tanyakan pada Adik kita satu-satunya mengapa Surya sampai menamparnya." Ucapku menunjuk Lusi.


"Ada apa Lusi?" Tanya Mas Fatir bingung.

__ADS_1


Lusi hanya terdiam dan menundukkan kepalanya tanpa mau menjelaskan yang sebenarnya terjadi.


__ADS_2