NAFKAH SISA

NAFKAH SISA
Kematian Lisa


__ADS_3

Malamnya Aku tak bisa tidur dan gelisah karena memikirkan keinginan ketiga anakku. Berulang kali Aku ingin memjamkan mata tetap saja tak bisa. Akhirnya Aku memutuskan untuk mengaji agar fikiranku terasa tenang.


Usai mengaji, Paman duduk di sampingku.


"Kenapa kamu belum tidur nak?" Ucap Paman khawatir.


"Entahlah, Paman. Mata Via belum bisa terpejam." Jawabku.


"Nak, kamu terlihat sangat gelisah. Jika kamu punya masalah ceritakan sekarang pada Paman." Ucap paman.


"Paman, ketiga cucu paman menginginkan Yudis sebagai Ayah mereka. Namun Via belum siap untuk menikah lagi. Terlebih Yudis tak satu keyakinan dengan kita." Ucapku mencurahkan kegelisahanku.


"Wajar nak, jika para cucu paman menginginkan seorang sosok Ayah. Apalagi Yudis selama ini sangat sayang dengan mereka. Dan kasih sayangnya itu tulus. Anak-anak seperti mereka merasakan hal itu sampai ke lubuk hatinya. Andai saja Yudis sekeyakinan dengan kita, Paman setuju." Jelas Paman.


Jujur, Aku sama sekali tidak punya perasaan kepada lelaki manapun. Termasuk dengan Yudis.


Saat sedang asyiknya mengobrol dengan Paman. tiba-tiba telpon masuk ke ponselku dengan nomor yang tak di kenal. Aku agak ragu untuk mengangkatnya karena sudah larut malam.


Sebelum mengangkat telpon terlebih dahulu Aku meminta persetujuan Paman. Paman pun mengangguk dan setuju jika Aku mengangkat telpon yang sedari tadi berdering.


"Hallo Assalamualaikum" Ucap seorang lelaki dari sebrang sana.


"Waalaikumussalam" Jawabku sedikit gugup.


"Apa benar anda keluarga dari saudari Lisa?" Tanya penelpon.


"Iya benar Pak." Jawabku mulai khawatir.


""Mohon maaf jika saya mengganggu istirahat anda. Saudari anda Lisa saat ini sedang kritis karena kecelakaan. Dan nomor telpon anda saya temukan di kantong celana Lisa. Karena Lisa tak mempunyai identitas. Dan nama tersebut saya lihat dari nama kalung yang di kenakan di leher saudari Lisa." Jelas bapak tersebut.

__ADS_1


Kakiku rasanya gemetaran mendengar kabar buruk ini. Semoga saja Lisa bisa terselamatkan. Setelah menanyakan alamat rumah sakit tempat Lisa di rawat Aku langsung bergegas kesana.


"Paman, Via harus berangkat sekarang. Tolong titip anak-anak." Ucapku pamit pada paman.


Aku terpaksa membangunkan tetangga tengah malam begini yang mempunyai mobil untuk di carter. Walaupun membayar lebih tak masalah bagiku. Yang terpenting Aku segera tiba di rumah sakit. Beruntung saat itu Lisa mengambil nomor ponselku.


Rupanya Lisa tak berani pulang ke Mataram, kemungkinan karena takut. Dan sekarang Lisa berada di rumah sakit kabupaten.


Setelah menempuh jarak hampir 3 jam lamanya. Akhirnya Aku tiba di kota kabupaten dan langsung menuju rumah sakit.


Betapa terenyuh hatiku saat melihat Lisa sudah di penuhi dengan alat medis di tubuhnya. Aku mencoba menghubungi mas Surya. Namun nomor ponsel yang tersimpan kala itu sudah tak aktif lagi.


Dan satu-satunya jalan adalah Aku harus meminta tolong pada Yudis.


Beruntung panggilanku langsung di angkat oleh Yudis.


"Apa? Baiklah Via. Kamu tenang saja, Aku tahu alamatnya karena Aku pernah mampir ke rumah Surya kala itu." Ucap Yudis.


Aku agak sedikit lega karena Yudis telah membantuku.


Aku pun masuk ke dalam ruang ICU untuk melihat keadaan Lisa. Bayangan Bibi kembali teringat saat Aku menginjakkan kaki ke ruang antara hidup dan mati ini.


Wajah Lisa hampir tak di kenali akibat luka dan lebam membengkak seluruh wahahnya.


Semoga saja keluarga mas Surya segera datang pagi ini menaiki pesawat agar segera tiba.


Sudah pukul 12 siang, namun keluargamas Surya belum juga ada kabar. Aku kembali menelpon Yudis namun ponsel Yudis sedang berada di luar jangkauan. Kasihan sekali Lisa, andai Aku tak ada di sini mungkin tak ada satu orang pun yang akan datang menjenguknya.


Ponselku berdering dan secepatnya Aku mengangkatnya.

__ADS_1


"Halo Via, bagaima kabarmu dan Liaa sekarang." Tanya Yudis khawatir.


"Lisa sedang kritis Yudi, bagaimana dengan keluarga mas Surya. Apakah mereka akan datang? Tanyaku.


"Mereka dalam perjalanan Via, mereka berangkat menggunakan jalur laut. Di karenakan kondisi Ibu Surya tak baik. Dan mohon maaf Via Aku tak bisa ikut karena Aku tak bisa meninggalkan bunda." Ucap Yudis.


"Bunda Mery kenapa Yudis?" Tanyaku khawatir.


"Bunda kesehatannya terganggu Via, namun tak perlu khawatir. Beliau baik-baik saja." Ucap Yudis.


Setelah pukul 5 sore, rombongan keluarga mas Surya tiba di rumah sakit. Ibu mertuaku terlihat sangat kurus dan nelangsa. Ibu mertua menagis pilu saat melihat keadaan Lisa yang sedang kritis.


"Terima kasih banya Riana atas bantuanmu. Jika tak ada kamu, kami tak tahu lagi apa yang kan terjadi selanjutnya dengan Lisa." Ucap mas Fatir sedih.


Belum lama keluarga mantan suamiku datang. Lisa langsung menghembuskan nafas terakhirnya.


"Lisaaaaa!" Pekik Ibu mertua.


Seolah tak ingin Lisa pergi begitu cepat, Ibu mertua seolah kesurupan dan menarik tubuh Lisa yang masih di penuhi dengan alat medis.


"Tolong keluarlah sebentar." Ucap perawat.


Setelah alat medis di tubuh Lisa satu persatu diangkat barulah kami di izinkan untuk masuk lagi.


Ibu mertua jatuh pingsan karena tak kuasa menahan kesedihan. Sementara mas Surya menangis meraung melihat keadaan tubuh adiknya yang sudah terbujur kaku.


Jenazah Lisa pun di bawa dengan ambulan ke provinsi mataram. Karena rasa empatiku, Aku pun ikut ke mataram bersamaan dengan mobil jenazah.


Tragis memang kematian Lisa. Dalam keadaan kecelakaan dan sedang hamil dua bulan. Polisi masih menyelidiki kasus kecelakaan tentang Lisa. Menurut Bapak yang menelponku saat itu Lisa di tabrak lari oleh pengguna kendaraan truk pengangkut jagung. Dan sampai saat ini polisi belum tahu pasti sopir pelakunya.

__ADS_1


__ADS_2