
Sepulang dari rumah Ibu Ku dapati Yuri memeriksa belanjaannya. Beberapa Paper Bag tergeletak di atas Ranjang Kami. Aku memperhatikan Yuri mencoba Pakaian yang baru di belinya.
" Mas sudah pulang, ini bagus nggak Mas di badan Yuri" Tanyanya langsung memperlihatkan Baju yang di pakainya Sambil memutar-mutarkan badan. Yuri terlihat begitu senang.
" Bagus" Jawabku singkat dan langsung merebahkan Tubuhku di atas kasur.
" Kok, Mas nggak muji Yuri sih!" Ucapnya mendengus kesal.
" Mas cape Sayang, Mas mau istirahat" Ucapku benar- benar lelah dan mengantuk.
" Mas sekarang berubah, lebih memperhatikan Adik Ipar Mas Si Via dari pada Yuri Istri Mas." Ucap Yuri cemburu.
" Jangan curiga begitu Sayang, Mas hanya kasihan pada Via dan Ketiga Anaknya yang masih kecil. Gara- gara Surya Anak Orang jadi menderita." Jelasku.
" Kenapa harus Mas yang bersusah payah mencarinya. Kenapa Surya tidak berusaha mencari Istri dan Anaknya. Menyusahkan Orang lain saja. Si Via lagi main kabur aja, jadi Istri kok nggak tau diri!" Ucap Yuri menggerutu.
Rasa kantuk yang sedari tadi ingin terlelap tiba- tiba hilang begitu saja setelah mendengar ocehan Yuri. Jujur bukan Aku berpihak atau ingin membela Via di depan Istriku. Ucapan Yuri seolah tak menunjukkan rasa Iba dan khawatirnya sedikit pun. Padahal Yuri dan Via sama-sama Seorang Wanita.
" Sayang, jaga lisanmu. Apa yang di rasakan Via saat ini belum tentu Kamu sanggup menjalaninya." Ucapku lembut.
" Mas selalu saja membela Adik Ipar Mas. Jangan-jangan Mas menyukainya." Ucap Via menuduhku.
" Jangan sampai cemburumu menghilangkan akal sehatmu Sayang. Kamu menuduhku tanpa bukti dan Kamu sangat mengenalku dengan baik. Sekarang Mas tanya padamu. Andai Kamu di hianati dan tak di nafkahi tak layak padahal Suamimu mampu. Apakah Kamu sanggup dan masih bersabar dengan itu?" Tanyaku pada Yuri.
" Jelas Yuri tak terima, Yuri bukan Orang yang bodoh mau bersabar dengan kedzoliman seperti itu" Jawabnya angkuh.
" Kamu tahu, Sebelas tahun Via merasakan itu. Dan sekarang apa sikap Via masih Kau salahkan. Dan apa Kamu masih menuduh Mas jika Mas menaruh hati padanya. Mas hanya berempati dan tak lebih dari itu, Via keluarga Kita Yuri, apa Kamu tak Iba melihat Anaknya yang kecil-kecil di bawa tengah malam dengan kondisi yang dingin. Itu semua dilakukan Via karena Dia tak punya pilihan lain. Via tak punya siapa-siapa di sini selain Kita Yuri. Cobalah mengerti dengan apa yang di rasakan Via." Jelasku membuka mata hati Yuri.
" Maafkan Yuri Mas, Yuri tak tahu jika Via mengalami penderitaan seberat itu" Ucap Yuri memelukku.
__ADS_1
" Besok pagi Mas akan ke Kampung Yuri. Apa Kamu mau ikut?" Tanyaku.
" Yuri ikut Mas" Ucap Yuri menidurkan kepalanya di bahuku.
Syukurlah Yuri mau mengerti. Setidaknya rasa cemburu Yuri terhempaskan dari hatinya. Aku tahu Wanita kodratnya memang pencumburu. Tapi jika rasa cemburu itu berlebihan jatuhnya akan menjadi fitnah dan bisa menjadi penyakit hati yang akan menghilangkan rasa cinta untuk pasangan.
______________________
Hari ini Yuri lebih awal terbangun dan sangat semangat untuk pergi ke Kampung Via. Usai menjalankan Ibadah Subuh Aku turun ke lantai bawah mendapati Yuri yang sudah memasak untukku. Aku senang Yuri kembali melakukan tugasnya sebagai Istri yaitu melayani Suaminya. Aku menghampirinya dan memeluknya dengan mesra. seulas senyum yang menawan membingkai dari Wajah Yuri yang sedang memasak Soup Ayam kesukaanku.
" Kalau begini terus, bisa-bisa Kita nggak Sarapan Mas" Ucapnya melepas tanganku yang melingkar di pinggangnya. Aku tersenyum lucu dan duduk manis menunggu masakan Yuri di hidangkan di atas meja.
Sarapan kali ini sangat nikmat sekali karena Yuri membuatkannya dengan penuh cinta kasih. Begitulah Seorang Istri jika Suami pandai membahagiakannya maka kehangatan dalam Rumah Tangga dapat di reguk dalam kenyamanan cinta dan kasih.
" Makasih Sayang, Masakanmu luar biasa" Ucapku mengecup keningnya.
" Sayang, kenapa harus pakai Baju yang tipis transparan begitu. Mas tak suka" Ucapku.
" Nanti di tutupin sama jilbab Mas, gerah" Ucapnya enteng.
" Sayang, tolong ganti dengan baju yang lain. Panasnya Api Neraka lebih keji lho, di bandingkan dengan rasa gerah di dunia." Ucapku.
Yuri pun menurut dan segera menggantikan Pakaiannya dengan Baju yang indah di lihat.
" Nah, ini baru Istri Mas. Cantik sekali" Ucapku memuji.
Yuri tersipu malu dan terlihat sangat senang. Sebenarnya menyenangkan Istri tak harus dengan Materi tapi cukup dengan pujian tulus dari hati akan mengena sampai ke lubuk hati Istri. Banyak di luar sana yang bergelimangan harta namun tak menjamin Rumah Tangga Mereka bahagia. Karena hal sepele itulah yang di telah lupakan. Menjadi Ratu di hidup Raja itu lebih membahagiakan di banding menjadi Bos di hidup Suami. Karena menjadi Bos di hidup Suami, Istri akan dimanjakan dengan Materi tanpa kasih sayang dan rasa cinta.
Kami pun berangkat menuju rumah Ibu. Sampai di sana Ibu, Surya dan Lusi Adikku sudah bersiap-siap akan ikut pergi ke Kampung Via. Beruntung Mobilku muat untuk Lima Orang hingga tak harus di dalamnya Kami saling berdesakan.
__ADS_1
Aku pun mulai melajukan Mobil dengan kecepatan sedang. Dan berhenti di POM Bensin untuk mengisi Bahan Bakar. Tak lupa membeli Buah tangan untuk Via dan Keluarga di Kampung.
Perjalanan baru saja di mulai namun semua Penumpangku pada tidur. Andai Surya bisa menyetir mungkin Aku sudah bergantian untuk menjadi Sopir.
Piiiiiiiiiiip
Aku membunyikan Klakson dengan lama. Seorang Pria lusuh melintasi jalan tanpa melihat arah kiri dan kanan. Sepertinya Pria itu kurang waras. Karena dari penampilannya seperti Orang Gila.
" Hati- hati dong Mas" Ucap Yuri mengingatkanku.
Aku berhenti dan membuka Kaca Mobil melihat Pria itu.
" Apa Anda baik-baik saja" Ucapku menanyakan keadaan Pria Lusuh itu.
Pria itu hanya mengangkat tangan dan tersenyum. Yang artinya Pria itu baik-baik saja. Aku salah mengiranya sebagai Orang gila padahal Pria itu meresponku.
" Aduh Fatir, pake perhatian segala sama Orang Gila. Dia mati pun kagak ada Orang yang perduli" Ucap Ibu menghina.
" Bu, Wajib bagi Kita sebagai Umat muslim untuk berbuat baik kepada sesama termasuk Orang Gila. Mereka itu terkena musibah gangguan Jiwa Bu. Pikiran dan akalnya telah hilang. Mereka sangat beruntung karena tidak di bebankan baginya sebuah Dosa." Jelasku pada Ibu.
Ibu kini tampak diam tanpa berkomentar. Sementara Surya terlihat melamun entah, apa yang di fikirkannya.
" Mas, di kampungnya Ka Via ada Signal nggak?" Tanya Adikku Lusi.
" Di Kampung terpencil mana ada Signal. Yang ada hanya Kerbau dan Sapi" Sahut Ibu mulai lagi.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Ibu yang suka merendahkan sesuatu.
Dan Akhirnya Kami sampai juga di Pelabuhan kayangan. Kami sengaja memakai Kendaraan sendiri dan tak menggunakan kendaraan Udara. Agar Kami gampang membawa keperluan tanpa harus menenteng tas dan naik turun kendaraan nantinnya.
__ADS_1