NAFKAH SISA

NAFKAH SISA
Kedatangan Keluarga Suamiku


__ADS_3

Setelah jenazah Bibi di mandikan dan di kafani. Kini tubuh yang tak bernyawa itu di bopong dan di masukkan ke dalam Korong Batang. Kemudian Jenazah Bibi selanjutnya diangkat dan di bawa ke Masjid terdekat untuk di Sholatkan. Usai di Sholatkan, Jenazah Bibi pun di bawa ke Pemakaman untuk segera di Kubur.


Dengan langkah tertatih Aku mengiringi jenazah Bibi dari belakang bersama pelayat lainnya. Sambil mendoakan Bibi sebisa mungkin Aku berusaha tetap tegar dan mencoba menerima kenyataan. Beruntung Ketiga Anakku enteng di titipkan dengan siapa saja. Karena jarak Kubur dari rumah cukup jauh. Jadi, Nenek Siam tak bisa ikut melayat ke kubur dan memilih diam di rumah sembari menjaga Ketiga Putraku.


Usai Pemakaman Bibi selesai Aku pun pulang ke rumah. Ku lihat Mobil Hitam terparkir di depan Rumah Bibi. Aku masih ragu untuk memastikan jika Mobil itu adalah Mobilnya Mas Fatir. Semakin dekat Nomor Platnya semakin jelas Ku lihat. Ternyata dugaanku benar, bahwa Mas Fatir datang nenemuiku sampai ke Kampung. Entah, dari mana Mas Fatir tahu jika Aku berada di sini.


" Onte, ada Keluargamu datang kaleng Mataram Duan e. Sopo Mobil Tau ana." [ Onte, Keluargamu datang dari Mataram dengan menggunakan Mobil] Ucap Bi Rina Tetanggaku. Bi Rina datang menghampiriku dengan tergopoh-gopoh.


" Iye Bi" Ucapku.


Sampai di depan Pintu Rumah terlihat Semua Keluarga dari Suamiku sedang duduk di Ruang Tamu dengan beralaskan tikar. Mataku tertuju pada bokong Ibu dan Mba Yuri. Handuk mandi Zaki dan Zapran menjadi alas duduk Mereka. Ingin rasanya Aku marah namun Aku berusaha mengusai emosiku.


" Assalamualaikum" Ucapku dari depan pintu.


" Waalaikumussalam" Ucap Mereka serempak.


Ketiga Anakku asyik duduk di pangkuan Mas Fatir. Sementara Ibu dan Lisa sibuk mengipas-ngipas Wajahnya dengan Sobekan Kardus Air gelas karena kepanasan. Sifat angkuh Mereka terbawa sampai ke Kampungku.


Masih dengan rasa hormat Aku menyapa dan menyalami tangan Mereka secara bergantian. Namun ketika sampai di hadapan Mas Surya Aku melewatinya begitu saja dengan cuek.


" Maafkan Kami Via karena telat datang. Kami turut berduka cita atas kematian Bibi." Ucap Mas Fatir prihatin. Sepertinya hanya Mas Fatir saja yang merasakan kesedihanku saat ini.


" Tidak apa-apa Mas" Ucapku.


Tetanggaku Bi Rina pun membawa beberapa Gelas Teh Panas dengan Baki atau Tapsi dan di bagikan kepada Tamuku saat ini. Dengan cemilan seadanya yaitu Jajan Dange [ Jajan yang di buat dari Kelapa parut, Gula dan Tepung Beras. ] Jajan ini sangat terkenal di Kampungku karena rasanya yang Gurih dan Enak.


" Silamo, di minum Teh dan Tepungnya." Ucap Bibi Rina yang kurang mahir berbahasa Indonesia.

__ADS_1


" Silahkan, di minum dan di makan kuenya" Timpalku lagi. Sebenarnya Mas Surya bukan penduduk asli dari Mataram. Ibu Mertuaku berasal dari Jakarta dan Almarhum Ayah Mertuaku berasal dari Jawa Tengah. Dan menetap di Mataram karena waktu itu Ayah Mertuaku bertugas di Kota Provinsi tersebut. Walaupun Ibu sudah lama menetap di Mataram tapi Ibu Mertuaku tak bisa berbahasa Sasak. Mungkin karena Ibuku malas untuk belajar dan tak ingin tahu.


" Keras jele Mentua ke Ipar sangalapmu Duan" [ Mertua dan Iparmu sungguh Angkuh sekali] Ucap Bibi Rina.


Beruntuntung Keluargaku tak mengerti apa yang Bibi Rina katakan.


" Masa no roa tokal pang bao tipar manta basampar ke anduk" [ Masa duduk saja tidak mau beralaskan Tikar dan memakai Handuk untuk alas duduknya] Gerutu Bi Rina lagi.


" Maklum tau Kota Anak e, nongka biasa mara Kita" [ Maklukmilah Mereka Orang Kota belum terbiasa seperti Kita] Ucap Nenek Siam mulai ikut menanggapi.


Sementara Keluargaku dari Mataram duduk di luar Aku masuk ke dalam Kamar untuk mengganti Pakaianku.


Usai mengganti Pakaian Aku langsung menuju dapur untuk melihat bumbu dapur. Aku menyempatkan diri pergi ke Pasar untuk membeli keperluan untuk di masak.


" Ria, Kamu mau kemana? Biar Saya antarkan" Ucap Mas Fatir menawarkan diri.


" Kalau begitu Mas ikut menemanimu ke Pasar. Kebetulan Mas pingin lihat suasana di Kampung ini" Ucap Mas Fatir memaksa.


Aku dan Mas Fatir pun berjalan kaki menuju Pasar,. Dari rumah ke rumah yang Kita lewati Mereka semua menyapa Kami dengan ramah. Begitulah Warga Kampungku jika ada Tamu dari luar Kampung Mereka tetap bersikap ramah walaupun tak mengenal Tamu itu. Hingga Mas Fatir giginya serasa kering akibat tersenyum menanggapi Keramahan Warga.


" Via, lukka balong Selakimu anak. Yam Anak Dea Datu." [ Nak Via, Tampan sekali Suamimu seperti Anak Bangsawan] Ucap satu Warga Kampung menyapa Kami.


Walaupun Mas Fatir tak mengerti dengan Bahasa Daerahku. Mas Fatir tetap tersenyum menanggapinya.


Begitu juga denganku tanpa harus mengklarifikasi bahwa Mas Fatir bukanlah Suamiku melainkan Kakak Iparku.


Kami terus berjalan hingga sampai tiba di pasar. Suasana Pasar mulai agak sepi karena Waktu sudah menunjukkan Pukul 11 Siang. Mas Fatir terlihat sangat kelelahan karena Aku ajak berkeliling di dalam Pasar mencari segala keperluan yang akan Ku beli.

__ADS_1


" Papu, ma beli Aru Ku Papu serasa de Selaki balong nan e. Balong Mu puris Aru papu nakena telengkang korok Tode nan mudi ke Duri Aru." [ Cucuku Ayo beli daun Aru Nenek, suruh cicipi Pria Tampan itu. Tolong Daun Arunya nanti di ambil dengan teliti agar tak bercampur dengan Durinya. Nenek takut jika durinya keselak di leher Pria Tampan itu]. Ucap Nenek dengan suaranya yang serak-serak basah.


Sedikit penjelasan, Aru itu adalah Daun Khas yang digunakan oleh Orang Sumbawa sebagai pelengkap di dalam Sepat Makanan khas Sumbawa. Bentuknya seperti daun kelor namun penuh dengan duri yang tajam dan panjang di setiap batangnya. jadi Kita harus teliti untuk mengambil daunnya agar tak tertusuk oleh durinya.


Mas Fatir sebenarnya ingin tertawa, namun karena adab Mas Fatir sebisa mungkin menahan senyumannya. Nenek itu memang terlihat sangat lucu karena Eksperesinya. Seketika rasa sedihku teralihkan untuk sementara.


Aku pun membeli Daun Aru Nenek itu Tiga Ikat seharga Lima Ribu Rupiah. Aru ini nantinya untuk bumbu Sepat Masakan Favoritku.[ Sepat adalah Makanan Khas Sumbawa].


Setelah Kami tiba di rumah, tiba-tiba Mba Yuri menghampiriku dan langsung menamparku dengan keras. Paman Marwan yang melihat itu bangkit dari duduknya.


" Nak Yuri, apa masalah Nak Yuri hingga menampar Anak Saya." Ucap Paman keberatan.


" Sayang! Apa-apaan Kamu!" Bentak Mas Fatir.


" Biarkan saja Tamparan Yuri mengenai Pipinya Via. Wajar jika Yuri marah padanya." Ucap Ibu Mertuaku mengompori.


Beruntung Ketiga Anakku sudah tidur siang dan para Pelayat sudah pulang dari rumah. Hingga Aku tak di lihat oleh Mereka tentang perlakuan Yuri yang membuatku merasa malu.


" Alasan saja Kamu kabur agar mencari simpati Suamiku. Dan kini Kamu bahagia kan, Suamiku sudah ada di dekatmu." Ucap Yuri menuduhku dengan kata yang pedas hingga mampu menusuk relung hatiku. Aku hanya terdiam dan tak mencoba untuk menjelaskan apa-apa atau pun mencoba membela diri. Hanya air mataku yang mengalir menandakan Aku begitu terluka.


" Seharusnya Kamu tak langsung berbuat kasar seperti ini Yuri. Kenapa Kamu tak bertanya dulu pada Mas. Berapa kali Mas bilang padamu!" Ucap Mas Fatir kesal terhadap tingkah Yuri.


" Pulanglah Mas, bukan Aku mengusir Kalian semua. Aku lebih tenang hidup di Kampungku bersama Ketiga Anakku. Walaupun Kami makan pasir sekalipun untuk makan. Hati Kami tetap terasa tenang dan merasa nyaman." Ucapku terisak.


" Tolong, Via masih berduka dan kehilangan Bibinya. Viasaja Baru bertemu dan pulang Kampung dan mendapati Bibinya sakit keras karena penyiksaan Kalian yang tak memberi kabar selama Sebelas Tahun lamanya. Dimana Hati Nurani Kalian!" Ucap Paman membelaku.


" Sekarang pergilah dari rumahku. Aku sebagai Pamannya mampu menafkahi Via dan Ketiga Cucuku. Walaupun seadanya asalkan tak sengsara hati dan perasaan." Ucap Paman dengan Mata berkaca-kaca.

__ADS_1


__ADS_2