NAFKAH SISA

NAFKAH SISA
Sekolah Baru Anakku


__ADS_3

Kini hatiku sudah sangat lega, urusanku di Kota ini telah usai. Aku tak tahu, kapan lagi Aku akan menginjakkan kaki di Kota yang penuh dengan kenangan pahitku.


Alunan lagu yang di putar oleh Pak Sopir membuatku terbawa perasaan. Lagu yang di bawakan oleh Krisdayanti ' IM SORRY GOOD BAY' membuatku meneteskan air mata. Lirik lagu itu hampir sama dengan kisah hidup yang Ku alami saat ini.


Bagaimanapun juga Aku tak bisa memungkiri bahwa Mas Surya pernah hadir dalam hidupku, memberi cinta dan kasih sayangnya yang walaupun Ku rasakan hanya sesaat. Sebelas Tahun bersama bukanlah waktu yang singkat untuk bisa di lupakan. Dan Aku tak bisa menolak jika hasil Cinta Kasih Kami adalah Ketiga Putraku. Mungkin Aku bisa hidup tanpanya namun, Anak-anakku tetap akan membutuhkan sosok Ayah Mereka. Perpisahan ini memang sangat berat namun jika masih Aku mempertahankannya, itu sama saja membunuh diriku sendiri secara perlahan.


Tak terasa Bus yang Ku tumpangi berhenti. Aku pun turun dan menunggu angkutan menuju ke Desaku. Tanpa harus menunggu lama Angkutan pun tiba dengan tepat waktu. Aku sudah tak sabar lagi ingin bertemu dengan Kedua Putraku Zul dan Zafran. Padahal baru Dua hari tak bertemu rasanya Setahun bagiku.


Dengan sisa uang 20 Ribu Aku pun menggunakan Ojek untuk tiba di rumah. Aku sangat lelah berjalan kaki apalagi Aku menggendong Zaki dan menenteng Oleh-oleh yang Ku beli di Terminal Lombok.


Saat turun dari Ojek Ku lihat pintu rumah masih dalam keadaan tertutup. Kemungkinan Paman belum pulang dari Sawah dan Anak-Anak bermain bersama Bi Rina di rumahnya. Aku meletakkan Oleh-oleh di depan teras rumah. Sementara Tas Ransel tetap Ku bawa di pundakku. Aku menggendong Zaki menuju rumah Bi Rina yang tak jauh dari rumah.


Terdengar Kedua Putraku sedang bermain dengan Bi Rina.


" Zafran, Zul" Panggilku dari bawah tangga. Kebetulan Rumah Bi Rina adalah Rumah Panggung. Aku tak punya tenaga lagi untuk memijakkan kaki naik ke atas tangga.


" Ibuuuu!" Teriak Mereka senang.


Bi Rina dan Kedua Purtraku pun turun dari tangga. Bi Rina mengambil alih menggendong Zaki sementara Aku memeluk Kedua Putraku dengan rasa rindu yang teramat dalam. Kami pun menuju rumah dan tak lupa memanggil Nenek Siam.


Aku membuka oleh-oleh yang Ku beli. Ada Nanas, Rambutan, Salak dan Jeruk. Kedua Anakku sangat senang di bawakan oleh-oleh walaupun hanya sekedar Buah-buahan.


Tak lupa Aku menyempatkan diri membeli Daster untuk Bi Rina dan Nenek Siam. Beliau Berdua sangat senang dan langsung mencoba lalu memakainya. Meski Daster murahan namun mampu membuat senyum Mereka bermekaran.


"Terima Kasih ya Via, Bibi sangat menyukai warnanya." Ucap Bi Rina senang.

__ADS_1


"Maaf Bi, hanya Daster murah ini yang bisa Via beli sebagai buah tangan. Via tak bisa memberi Bibi lebih." Ucapku jujur.


"Ini sudah lebih dari cukup Via, Bibi sebenarnya tak me ngharapkan hadiah, Kamu pulang dengan selamat saja Bibi sudah bersyukur." Ucap Bi Rina tulus.


____________________


Hari ini adalah hari pertama Zafran dan Zul masuk sekolah. Sekolah baru, teman baru dan tahun ajaran baru. Zafran naik ke kelas 6 SD sementara Zul naik ke kelas 4 SD. Tak ingin menyia-nyiakan moment tersebut Aku ingin sekali mengantarkan kedua putraku ke sekolah.


"Sekolah Zafran di mana Bu?" Tanya Anakku sembari melangkahkan kakinya dengan semangat.


"Sabar Nak, sebentar lagi Kita akan sampai." Jawabku.


Memang perjalanan ke sekolah Anakku membutuhkan waktu berjalan kaki sekitar 30 menit. Cukup melelahkan memang bagi kedua putraku yang belum terbiasa. Mereka sering berjalan kaki di sekolahnya dulu di kota namun tak sejauh ini. Tak hanya kami, para anak-anak lainnya pun ramai berjalan kaki. Tak seperti di kota, di desa berjalan kaki seperti ini sangat menyenangkan. Sebab udara yang kita hirup masih segar dan alami. Hamparan padi yang menghijau membuat mata terasa di manjakan. Hanya kicauan burung yang menemani perjalanan kami tanpa bisingnya kendaraan layaknya di kota. Apalagi pagi ini anak-anak sangat ramai beriringan berjalan menuju ke sekolah. Anakku hanya belum terbiasa saja.


Sampai di sekolah Aku pun langsung mendaftarkan kedua anakku sebagai murid baru. Setelah bel masuk Aku tak lantas pulang dan masih menyaksikan putraku memperkenalkan diri di depan kelasnya masing-masing. Mengingat mereka adalah murid baru di kelas mereka. Dari balik kawat jendela Aku melihat semangat dan wajah bahagia anakku. Tak terasa bulir bening itu jatuh di pipiku.Aku terharu sekaligus bahagia menyaksikan Anakku secara langsung tanpa mendwngarkan cerita darinya.


"Iya Pak" Jawabku membalikkan badan.


" Saya Ismail kepala sekolah di sini." Ucap beliau memperkenalkan diri.


"Via Pak" Ucapku ramah.


Setelah menyaksikan anakku memperkenalkan diri Aku langsung pulang ke rumah. Di dalam perjalanan tak henti-hentinya Aku membayangkan wajah kedua putraku. Semoga mereka berdua betah di sekolah barunya.


"Bu, kalau di desa seperti ini anak-anak itu mandiri semua. Nggak usah pake di anter, karena mereka bisa jaga diri. Anak-anak tidak boleh di manjakan seperti itu." Ucap seorang Ibu yang takku kenal terlihat sewot dan berjalan disampingku.

__ADS_1


"Anak saya murid pindahan Bu, kebetulan kedua putra saya tak tahu lokasi sekolahnya makannya saya antar." Jelasku.


"Oh, begitu. Maaf ya, Saya tidak tahu. Kenalin saya Sarmila." Ucap Ibu itu mulai ramah dan memperkenalkan diri.


"Saya Via bu" Ucapku membalas jabatan tangan Ibu Sarmila.


"Kalau ada waktu mampirlah ke Kampungku, itu rumahku sebentar lagi sampai." Ucapnya ramah.


"Insyaallah ya bu, lain kali saya akan mampir." Ucapku pamit.


Kampung Bu Sarmila dan Kampungku sebenarnya berdampingan. Persawahanlah yang menjadi pembatas kampung Kami.


Sampai di rumah Aku melanjutkan pekerjaan rumah, Aku lupa mengembalikan tas ransel Bi Rina. Setelah isi ransel Ku keluarkan Aku memeriksa sebuah amplop yang di berikan Bunda Mery saat itu. Uang itu sebesar tiga juta rupiah. Aku menyimpannya di dalam lemari yang telah usang di makan waktu. Aku belum mau memakainya karena uang itu nantinya akan Ku pergunakan untuk menyewa sepetak tanah untuk menanam padi. Agar Pamanku tak perlu lagi merawat sawah orang lain.


Ku lihat stok kayu bakarku hampir menipis. Jika Aku tak pergi mencarinya sekarang kemungkina besok Aku tak bisa memasak. Ku panggil Bi Rina dari bawah tangga rumahnya.


Bi Rina O Bi Rina....! Panggilku agak nayaring


"Iya...!" Sahut Bi Rina dari belakang rumahnya.


Aku pun menghampiri Beliau ke belakang rumahnya dan Ku dapati Bi Rina sedang memberi pakan kepada Dua ekor kambingnya.


" Kalau Bi Rina tak ada kerjaan hari ini bagaimana kalau kita cari kayu bakar saja di hutan." Ajakku.


"Kebetulan sekali, tunggu ya. Bibi ganti baju dulu." Ucap Beliau bergegas naik ke atas tangga rumah panggungnya.

__ADS_1


Sementara Aku mencari kayu bakar dengan Bi Rina, ku titipkan Zaki pada Nenek Siam. Perjalananku kali ini dengan Bi Rina menaiki sebuah gunung yang sering di jajaki oleh orang-orang pencari kayu api lainnya. Bahkan sampai di atas sana tak hanya kami berdua dengan Bi Rina namun, ada beberapa ibu-ibu yang juga mencari kayu bakar sama seperti kami. Begitulan untungnya hidup di kampung. Apa-apa masih bisa di cari walau tak punya uang. Sementara hidup di kota besar jangan mencari seperti ini untuk meminjam saja sangat sulit jika gas habis untuk memasak. Sambil mencari kayu bakar di hutan juga tumbuh sayur liar yang bisa di bawa pulang.


__ADS_2