NAFKAH SISA

NAFKAH SISA
Perhiasan Nindana Hilang


__ADS_3

Di atas mobil Yudis tak ada percakapan apapun diantata kami. Hanya suara deru mesin yang terdengar mengihiasi telinga kami. Sampailah di dermaga Aku yang sedari tadi terdiam akhirnya memutuskan juga untuk menyapa Yudis.


"Dis, sudah berapa lama kamu mengenal Via?" Tanyaku memulai obrolan.


"Saat Via pergi dari rumah suaminya dan membawa ketiga anaknya dalam dinginnya malam." Ucap Yudis berhasil menyinggungku.


"Jadi kamu mengenali Via saat itu?" Tanyaku penasaran.


"Iya, andai Aku tak ada disana mungkin anak dan istrimu sudah tewas di bunuh oleh orang yang berbuat jahat." Ucap Yudis kembali menyinggungku.


Aku hanya tertunduk dan malu untuk bertanya lagi. Aku pun naik ke tingkat atas badan kapal untuk menikmati semilirnya angin laut. Ku nyalakan rokok dan menyendiri duduk di ujung badan kapal. Hisapan demi hisapan membuatku merasa nikmat dan sejenak bisa menghilangkan beban yang ada di fikiranku. Sementara Aku duduk menyendiri Yudis pun juga duduk di dalam kesendiriannya. Mungkinkah Yudis menyimpan perasaannya terhadap mantan istriku. Jika benar, mengapa Ia tak mencoba mengutarakan isi hatinya ataupun melamar Via. Atau mungkin Yudis sudah pernah melakukannya namun Via menolaknya. Ah, mengapa Aku harus memikirkan perasaan Yudis sementara perasaanku saja saat ini sedang kacau. Anak kandungku sudah mencampakkanku layaknya Aku bukan ayah mereka. Ketiga putraku lebih memilih orang asing dibandingkan Aku ayah kandungnya.


Pulang ke rumah menghadapi Nindiana membuatku sangat lelah. Andai waktu bisa Ku putar Aku tak ingin mengenali Nindiana dan menjalin hubungan dengannya.


"Apa mas Surya tetap ingin diatas kapal?" Ucap Yudis menyadarkanku dari lamunan. Aku tak sadar kapal sudah bersandar di dermaga saking larutnya Aku dalam lamunan.


Aku pun turun dan naik ke atas mobil Yudis sambil menghisap rokokku yang belum habis.


"Maaf, mas Surya. Aku tak menyukai asap rokok." Ucap Yudis mengibaskan asap yang mengepul mengenai wajahnya.


"Maaf" Ucapku sembari mematikan puntung rokok.


Sekitar 2 jam lebih perjalanan Kami pun sampai di kota mataram. Bahkan Yudis mengantarkanku sampai di depan rumah.


Aku memaksa Yudis untuk mampir walau hanya sekedar untuk meminum teh sebagai tanda ucapan terima kasihku.


Aku pun keluar dari mobil, terlihat Ibu sedang menggendong Syakila di teras rumah.


"Surya, kamu dari mana saja?" Tanya Ibu.


Tanpa menjawab Aku pun mempersilahkan Yudis masuk ke dalam rumah.


"Lisa..! Mas ada tamu. Tolong bikinkan minuman." Panggilku pada Lisa.


Tak lama Lisa pun keluar dengn membawa nampan yang berisikan 2 gelas Teh dingin.


Lisa terpesona melihat ketampanan Yudis, itu bisa Ku baca dari raut wajahnya.


"Silahkan Mas diminum." Ucap Lisa lembut.

__ADS_1


"Terima kasih" Ucap Yudis tersenyum.


Lisa yang biasanya berdiam diri di dalam kamar ketika ada tamu kini lebih memilih ikut duduk bergabung mengobrol bersama Aku dan Yudis.


OE OE OE...


Syakila menangis, sepertinya dia ingin menyusu.


Ibu pun membawa Syakila masuk menuju kamar Nindiana.


"Nak, Syakila haus. Susuin dulu gih." Ucap Ibu.


Tak ada lagi suara Syakila menangis, dan tak lama Nindiana keluar dari kamar membawa Syakila.


"Yudis?" Ucap Nindiana terkejut begitu pula dengan Yudis.


"Kalian saling kenal?" Tanyaku ingin tahu. Jika itu benar berarti Yudis adalah mantan kekasih Nindiana dulunya.


"Tidak, Aku tidak mengenali Istrimu mas Surya" Ucap Yudis mantab.


Seketika wajah Nindiana memerah karena malu. Aku tahu pasti Yudislah yang dulunya kekasih dari Nindiana. Mungkin Yudis sangat sakit hati karena dulunya Nindiana telah mencampakkannya.


"Aku pamit dulu mas Surya, soalnya banyak pekerjaan yang harus Ku selesaikan." UcapYudis terburu-buru pamit pulang.


"Maaf Bu, lain kali saja. Saya harus segera tiba di rumah." Ucap Yudis beralasan.


Setelah Yudis pulang Aku langsung masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhku di atas kasur. Takku hiraukan Nindiana yang berwajah masam terhadapku.


"Mas, kamu dari mana saja. Dan temanmu itu di mana kamu mengenalnya? Tanya Nindiana.


"Aku dari kampung Via mengunjungi anak-anak." Ucapku jujur.


"Apa? Mas, kenapa kamu tak ijin denganku terlebih dahulu. Aku ini Istrimu mas." Ucap Nindiana kesal.


"Haruskah Aku ijin denganmu dulu hanya untuk mengunjungi anakku. Dan ada apa dengan dirimu ketika bertemu dengan tamuku tadi." Ucapku kembali bertanya dan mencoba memancing Nindiana.


"Aku mengira teman mas itu adalah teman Nindiana dulu." Jawabnya berbohong.


"Mas, Aku minta uang. Bulan ini kamu tak menyerahkan nafkahmu kepadaku." Ucap Nindiana.

__ADS_1


"Uangnya sudah habis Ku gunakan untuk biaya bepergian ke kampung Via." Ucapku santai.


"Mas! Aku ini istrimu. Jika begini Aku akan membawa Syakila pergi dari rumah ini." Ucap Nindiana mengancamku.


"Bawalah, Aku tidak butuh anak yang bukan darah dagingku." Ucapku menantangnya.


"Kamu yakin mas. Ibu sangat menyayangi Syakila, jangan harap jika Aku pergi Aku akan kembali lagi kesini. Ingat mas! Meski kalian mengemis Aku tidak akan kembali ke sini lagi!" Ucap Nindiana serius.


"Tak usah banyak drama, sekarang pergilah dari sini." Ucapku tak perduli.


Jujur, Aku sudah muak dengan sikap Nindiana yang memperbudak Ibu dan adikku. Selama ini Nindiana selalu menginjak-injak harga diriku. Aku ingin tahu, apakah dia sekuat Nindiana bisa pergi begitu saja tanpa uang. Apalagi membawa seorang bayi malam-malam begini.


Syakila selalu di jadikan alat oleh Nindiana untuk membuatku patuh selama ini. Jika Ibu kekeh tak mau pisah dengan cucunya maka Aku harus mengatakan yang sesungguhnya jika Syakila bukanlah putriku.


"Mas, Aku memberimu kesempatan lagi. Apa kamu serius dengan keputusanmu." Tanya Nindiana.


"Aku sangat serius dan sesadar-sadarya."Ucapku tanpa menoleh melihat wajah Nindiana.


Nindiana pun mengambil kopor yang ada di atas lemari lalu membukanya.


"Dimana..!" Teriaknya melengking memecahkan gendang telingaku.


Ku lihat sebuat kotak perhiasan kosong yang sedang di bukanya. Tak hanya Aku yang terkejut, Ibu pun di luar sana berlarian menuju kamar melihat keadaan Nindiana.


"Ada apa ini?" Tanya Ibu terkejut.


"Bu, perhiasan Nindiana hilang." Ucap Nindiana meraung-raung dan mengacak rambutnya seperti orang gila.


"Memangnya kamu punya perhiasan?" Tanyaku heran.


"Jangan-jangan mas yang mengambil perhiasanku dan memberikan pada mantan istrimu!" Tuduh Nindiana menatapku dengan berang.


"Hati-hati kamu Nindiana, jangan sembarangan menuduh. Bahkan Aku tak pernah tahu jika kamu punya perhiasan emas." Ucapku emosi karena tuduhan Nindiana.


" Kalau begitu, siapa yang mengambil perhiasanku. Tidak mungkin orang lain masuk ke kamar ini selain penghuni rumah ini." Ucap Nindiana.


"Kamu nuduh Ibu!" Ucap Ibu mulai emosi.


" Nindiana tidak menuduh Ibu, kenapa harus tersinggung." Ucap Nindiana.

__ADS_1


"Laporkan saja ke polisi berita kehilangan ini" Usul Ibu.


Ibu dan Nindiana sibuk membicarakan tentang perhiasan yang hilang. Sementara Aku keluar dari kamar karena ingin beristirahat. Suara Nindiana dan Ibu sangat mengganggu istirahatku. Sedari tadi Ku lihat wajah Lisa begitu sangat khawatir dan gelisah. Aku jadi curiga dengan Lisa, jangan-jangan ada sesuatu yang Ia rahasiakan selama ini. Mengingat Lisa waktu itu pernah kedapatan di diskotik merayuku. Jangan sampai Lisa Adikku hamil sebelum menamatkan sekolahnya yang sebentar lagi.


__ADS_2