
POV LISA
Sementara Via mengembangkan bisnisnya, Surya malah menderita karena sikap Nindiana yang besar kepala. Kini Surya telah bekerja sebagai security di sebuanh BANK swasta di kota mataram.
Gajinya yang Tiga Jutaan lebih tak cukup satu minggu untuk menopang gaya hidup Nindiana. Ibu Surya yang terlanjur jatuh cinta dengan cucunya yang jelas-jelas bukan darah daging Surya menjadikan Surya harus menjadi budak pencetak uang.
Jika Surya bertengkar dengan Nindiana maka Ibu selalu membela menantu kesayangannya. Ibu terlalu terobsesi dengan cucunya hingga Nindiana menjadi besar kepala.
"Mas, coba mas nasehati mba Nindiana. Suruh masak atau bersihin rumah kek. Kerjaannya hanya dandan melulu. Jika Lisa mengadu sama Ibu, Lisa pasti di marahi." Ucapku kesal.
"Iya, nanti mas bilangin." Ucap Mas Surya janji sambil memasukkan sepatu dan bersiap berangkat kerja.
"Salim dulu sama papanya" Ucap Ibu menghampiri mas Surya sambil menggendong Syakila.
Dengan berpura-pura perhatian dengan Syakila. Mas Surya pun terpaksa mencium anak itu dan pamit pergi.
Sebenarnya Mas Surya sama sekali tak menyayangi anak itu, karena Ibu sangat mencintai cucunya jadi mas Surya harus menurut saja agar Ibu bahagia.
"Mba, tolong cuciin piring di dapur, Lisa capek." Ucapku kesal pada mba Nindiana yang sedang bersolek di depan cermin. Kadang Aku tertawa dalam hati melihat alis mba Nindiana bak celurut tumpul. Panjang melengkung membuat wajahnya terlihat tambah menyeramkan. Jangankan terlihat cantik malahan Mba Nindiana terkesan seperti nenek lampir peot. Entahlah mengapa mas Surya bisa jatuh cinta pada nenek sihir ini.
"Mba juga capek Lisa, mempunyai bayi itu lelahnya minta ampun." Jawab mba Nindiana santai.
"Perasaan mba kerjaannya dandan aja tuh! Sementara Syakila setiap detik bersama Ibu." Ucapku ketus.
"Iiish, kalau capek ya istitahat. Gitu aja kok repot sih!" Ucap mba Nindiana sembari menutup pintu kamarnya dengan kasar.
"Dasar! Sudah numpang hidup disini pake belagu lagi. Huh! Gerutuku dari luar kamar mba Nindiana.
Saat ini Akulah yang menggantikan posisi mba Via. Semua pekerjaan rumah dari memasak hingga tugas lainnya Akulah yang mengerjakan. Aku kini di anggap pembantu di rumah ini. Semenjak kehadiran Syakila kasih sayang Ibu berpindah pada cucunya. Saat seperti ini Aku jadi teringat dengan mba Via, apa kabarnya mantan kakak iparku itu sekarang.
Syakila memang sangat cantik. Wajahnya yang mirip dengan orang barat membuat siapa saja yang akan melihatnya pasti akan merasa gemes dan memujinya cantik. Tapi tidak bagiku dan mas Surya . Kehadiran Syakila adalah petaka bagi kami berdua.
Bahkan waktu itu Aku pernah menyentil pada mas Surya jika anak dari mba Nindiana bukanlah Anak mas Surya. Namun saat itu mas Surya hanya terdiam tanpa menyangkal ataupun menjelaskan.
__ADS_1
"Assalamualaikum" Ucap mas Fatir dan mba Yuri dari luar.
Semenjak Syakila lahir setiap minggunya mba Yuri dan mas Fatir pasti datang untuk mengunjungi Syakila. layaknya ratu bayi Syakila diperlakukan sangat spesial. Berbagai macam hadiah selalu di beli oleh Mba Yuri dan mas Fathir untuknya.
Sementara mba Nindiana, jika berhadapan dengan Mas Fatir sikapnya selalu di buat-buat. Suaranya sangat lemah gemulai dan terkesan menjaga image. Padahal yang sebenarnya mba Nindiana sangatlah busuk.
"Mas Fatir, Mba Yuri. Kalian baik banget. Nindiana sampai tak bisa berkata-kata." Ucap mba Nindiana sangat lembut melebihi kain sutra.
Kadang Ku lihat mas Fatir merasa risih dengan sikap mba Nindi namun tak dinampakkan oleh mas Fatir. Aku terpaksa bertahan menjadi Lisa yang sekarang. Jika tidak, Ibu akan mengadu pada mas Fatir dan mas Fatir tak akan lagi membiayai sekolahku yang tinggal sebulan lagi.
"Nindiiii!" tolong pegangin Syakila sebentar. Ibu mau ke kamar mandi." Panggil Ibu menyuruhku untuk menggendong Syakila.
"Suruh saja Ibunya Bu, Lisa capek!" Jawabku kesal.
"Sayang, mba Nindimu biarkan dia beristirahat. Soalnya Mbamu itu sering begadang tiap malam ngurusin Syakila." Ucap Ibu membela menantunya.
"Bukannya waktu Syakila menangis di malam hari Ibu selalu terjaga dan menggendong Syakila agar tenang. Terus mba Nindiana kerjaannya bobo aja gitu?" Ucapku sebel.
"Lisa! Jaga sikap kamu. Kalau kamu selalu begini bisa-bisa Nindiana kakak iparmu tidak betah dan membawa cucu Ibu pergi." Ucap Ibu selalu saja membela menantu malampir itu.
"Oe Oe Oe" Tangis Syakila menjerit.
"Lisa! Gendong Syakila ke luar rumah." Teriak Ibu dari dalam kamar mandi.
Aku sengaja membawa Syakila ke dalam kamar Mba Nindiana. Kulihat tidur malampir itu sangat nyenyak sekali. Aku kembali memolototi mataku pada Syakila.
"Oe Oe Oe" Syakila kembali menangis.
"Iiiish, berisik amat sih!" Ucap mba Nindi bangun dari tidurnya.
"Ni anakmu minta nyusu." Ucapku kasar.
"Mba capek, kasih aja susu dot sana!" Perintah mba Nindiana menyuruhku.
__ADS_1
"Enak aja, emang Lisa Ibunya? Ni anak kamu!" Ucapku menidurkan Syakila di samping mba Nindi.
Syakila terus menerus menangis karena mba Nindiana tak mau menggendong anaknya sendiri.
Dengan sigap Aku mengunci pintu kamar mandi Ibu agar Ibu tak bisa keluar untuk mengambil cucunya. Ibu paling tak bisa mendengar jika cucunya sedang menangis.
"Iiissh, anak ini kenapa sih! Ganggu tidurku saja" Gerutu mba Nindiana.
Semakin lama semakin keras suara Syakila menangis dan tangisan itu membuat Ibu ingin keluar dari kamar mandi namun Aku sengaja mengunci pintu dari luar.
"Lisa! Lisa! Coba bantu Ibu buka pintu ini." Teriak Ibu dari dalam kamar mandi.
Aku terduduk santai tak berkutik ataupun bersuara. Kali ini biarkan Aku berdosa padamu Bu. Gumamku dalam hati.
Oe Oe Oe...
Syakila tak berhenti menangis meskipun Mba Nindi mencoba memberi susu ke mulut Syakila. Wajah Syakila memerah akibat menangis dan Aku tetap bersikap masa bodoh dan tak perduli.
"Buuuu! Syakila nggak mau berhenti nangisnya." Panggil mba Nindi kewalahan menenangkan anaknya sendiri.
"Nindi, bukain pintu Ibu" Perintah Ibu dari dalam kamar mandi.
"Lisa, bukain pintu Ibu" Mba Nindiana menyuruhku namun Aku tak meresponnya dan tetap fokus memainkan ponselku.
Karena kesal mba Nindi akhirnya menidurkan Syakila di atas kursi dan membuka pintu kamar mandi untuk Ibu. Pada saat Ibu keluar bayi mba Nindi terjatuh dari atas kursi.
Oe Oe Oe...
Syakila menangis dengan kencang sampai tak bisa bernafas. Ibu langsung berlari dan segera mendekap Syakila. Aku yang tadinya bersikap masa bodoh melihat Syakila kejang-kejang menjadi merasa sangat ketakutan.
"Ini semua gara-gara kamu Lisa! Jika terjadi sesuatu dengan Syakila. Aku tak akan pernah memafkanmu." Ucap Mba Nindiana menyahkanku.
"Ayo cepat kita bawa segera Syakila ke rumah sakit." Ucap Ibu panik sambil mendekap Syakila yang masih kejang-kejang.
__ADS_1
Mba Nindiana sempat-sempatnya masuk ke dalam kamar untuk memerahkan bibirnya dengan lipstik.
Sebenanya saat ini Aku merasa sangat bersalah, tapi yang membuat Syakila krjang-kejang seperti ini adalah keteledoran Ibunya sendiri.