NAFKAH SISA

NAFKAH SISA
Yudis Membawa Anakku


__ADS_3

Dadaku terasa sesak karena Aku tak sanggup jauh dari Anakku. Isakan tangis mengiringi jiwaku yang lagi kacau. Aku tak peduli lagi para Penumpang Kapal memandangku dengan aneh.


" Dasar bodoh, bodoh, bodoh." Aku merutuki diriku sendiri.


Tiba- tiba tangan Seseorang menyentuh pundakku. Aku menoleh ke belakang dengan perlahan. Mataku yang berair seketika berhenti begitu saja melihat siapa yang menyentuh pundakku.


" Kamu kenapa Via, siapa yang bodoh? Aku dan Zaki mecarimu dari tadi." Ucap Yudis menatapku heran.


Aku pun bangkit dari duduk dan berdiri di depan Yudis. Dengan tatapan nanar Aku mengambil Zaki dengan kasar dari gendongannya. Zaki sempat menolak saat ingin Ku gendong.


" Dari mana saja Kamu membawa Anakku, Apa Kamu tahu dan mengerti dengan kegelisahanku sebagai Seorang Ibu. Aku hampir saja mati jika sampai terpisah dengan Anakku." Ucapku emosi.


Tatapan Yudis yang tadinya heran kini berubah menjadi merasa bersalah.


" Maafkan Aku Via, tolong maafkan Aku. Aku tak bermaksud memisahkanmu dari Anakmu. Aku memang tidak pantas untuk dipercaya. Aku memang Pria yang jahat. Maaf, jika Aku datang mengganggu ketentraman hidupmu." Ucap Yudis perlahan pergi dari hadapanku. Langkah kakinya begitu terasa berat dan kepalanya menunduk menuju tingkat atas kapal. Aku tak bergeming atau pun mengucapkan sepatah kata pun ataupun mencegat Yudis untuk pergi. Rasa kegelisahanku belumlah hilang dari ingatanku. Bagiamana tadi Aku berlari layaknya Orang gila naik turun tangga. Menanyakan Para Penumpang secara satu persatu. Bahkan Aku hampir saja nekat melompat ke Kapal Nelayan untuk kembali ke Dermaga agar Aku bisa melihat Yudis dan Anakku di parkiran Pelabuhan. Aku seperti Orang yang kehilangan akal sehat.


Tak hentinya Ku kecup Wajah polos Anakku Zaki. Aku tak tau lagi jika Yudis benar- benar membawa Anakku pergi dariku. Membayangkan saja Aku tak mampu.


" Mi, mi" Tangis Zaki ingin menyusu. Aku membawa Zaki naik ke tangga Atas untuk menyusui. Mataku menyisir seluruh sudut ruangan. Namun Yudis tak Ku lihat di manapun. Biarlah, untuk apa Aku memikirkannya.


Dengan tenang Zaki begitu enteng saat menyusu dan matanya kini mulai terpejam. Aku merasa sangat lelah akibat mencari Zaki hingga Mataku juga ikut terpejam dan ikut tertidur bersama Zaki sambil menggendongnya di pangkuanku.


Kapal pun menyender di Dermaga tandanya Kapal sudah sampai di Pelabuhan kayangan. Aku bersiap- siap untuk turun ke bawah dan mencari posisi Bus yang telah Ku tumpangi dari Kampung. Ternyata Pak Sopir telah berada di samping Bus dan membukakan pintu untuk para Penumpangnya. Satu persatu Penumpang Bus itu masuk dan duduk di bangku Mereka masing-masing. Mataku mengitari seluruh penumpang yang sepenuhnya sudah menduduki bangku Mereka. Namun hanya ada Satu bangku kosong yang belum di tempati yaitu Bangkunya Yudis. Ada kekhawatiran timbul di benakku. Aku meyesal telah memarahinya tanpa bertanya dulu kemana Ia membawa Anakku pergi.


Bus pun berjalan menuju Tol Dermaga namun Yudis belum juga menampakkan batang hidungnya.


" Pak Sopir, Pria yang di samping Saya belum naik." Ucapku menunjukan bangku yang kosong di sampingku.


" Bukankan Pria itu Suaminya Ibu." Tanya Kondektur heran.

__ADS_1


" Dia hanya Teman Saya Pak, Kami juga kebetulan betemu di sini." Ucapku jujur.


" Kondektur, tolong turun dan cari Pria itu ke Kapal." Ucap Sang Sopir.


" Saya akan membantu Bapak untuk mencarinya." Ucapku menawarkan diri.


Aku dan Kondektertur itu pun mencari keberadaan Yudis. Aku berkeliling hingga ke tangga atas kapal. Tapi tak Ku temukan Yudis berada di sana. Ketika Aku mulai putus asa dan melangkah turun ke tangga. Aku melihat kepala Yudis yang berambut ikal duduk di ujung badan Kapal. Aku pun menghampirinya dan memegang pundaknya.


" Cepatlah naik ke atas Bus. Pak Sopir menunggumu." Ucapku.


Yudis pun menoleh ke arahku dengan mata yang berembun. Terlihat dari Wajahnya merasa sangat menyesal.


" Untuk apa Kamu bersusah payah mencariku Via, apa Kamu tak takut jika Aku menganggumu?" Ucapnya menundukkan kepala.


" Maafkan Aku yang telah menuduhmu tanpa bertanya. Aku terbawa emosi karena Aku takut kehilangan Anakku." Ucapku menyesal.


" Kamu tak perlu meminta maaf Via, Aku tahu perasaan yang kau rasakan. Sebagai Seorang Ibu Kamu pantas melakukan hal itu padaku. Kamu adalah Ibu yang baik Via, dan Aku iri dengan cinta dan kasih sayangmu kepada Anakmu. Karena Aku tak pernah mendapatkannya dari Ibuku." Ucapnya bersedih.


Yudis pun bangkit dan berjalan mengikutiku. Sampai di bawah, Bus yang Kami tumpangi sudah melaju cukup jauh akan tetapi Kami masih bisa melihat Badan Bus itu. Jika Aku berlari mengejar Bus itu pasti Aku tak akan sanggup.


" Kamu tunggu di sini, biar Aku yang mengejar Bus itu agar berhenti." Ucapnya.


Lagi-lagi Yudis membantu dan berkorban untukku. Dengan langkah yang lebar Yudis pun berlari dengan sangat cepat. Aku terkejut melihatnya berlari sekencang itu. Namun sepertinya Yudis kalah telak dengan kecepatan Bus. Dia menghampiriku dengan nafas yang tersengal- sengal dan Keringat mengucuri seluruh tubuhnya.


" Huuuuff, maaf Via. Aku kalah cepat." Ucapnya tersengal- sengal.


" Setidaknya Kamu sudah berusaha dan mencoba." Ucapku.


" Bagaimana Kita duduk di sana sambil menunggu Kapal lain menyender. Kita bisa naik Bus dari Kapal lain." Ucapnya mengajakku ke tempat Orang berjualan.

__ADS_1


Tanpa menolak Aku pun mengikutinya.


" Jika Kamu tak keberatan, Aku bisa membawa Tas Ranselmu." Ucapnya menawarkan. Tanpa ragu Aku pun menyerahkan Tas Ranselku pada Yudis.


" Nasi Tiga Bu." Ucapnya memesan Nasi.


" Makanlah, biar Aku yang traktir." Ucapnya tersenyum.


" Terima kasih, tapi Aku punya uang untuk membayarnya." Ucapku menolak.


" Aku akan kecewa dan tersingung jika Kamu tak menerima traktiranku." Ucapnya memaksa.


Yudis menyuap Zaki dengan sangat telaten. Mengapa selalu saja yang menyayangi dan yang memberi perhatian kepada Anakku adalah Orang lain dan bukan dari Ayah Kandungnya sendiri.


" Kamu tahu Via, Aku sangat menginginkan Seorang Anak. Namun sayang, Aku belum di takdirkan untuk mempunyai Istri." Ucapnya putus asa.


" Kamu beruntung mendapatkan Suami yang baik dan Anak-anak yang lucu." Ucapnya.


" Kamu juga nantinya akan lebih beruntung dariku. Suatu saat nanti Kamu akan menemukan Jodohmu." Ucapku menyemangatinya tanpa harus menceritakan Aib Rumah Tanggaku.


" Mudah-mudahan" Ucapnya sambil menyuapkan sendok nasi kemulutnya.


Anakku Zaki sehabis di suapi Yudis Dia langsung berjalan bermain di lokasi Penjual Makanan. Zaki nampak senang dan menikmati bermain dengan Yudis.


" Suami Ibu perhatian banget, udah ganteng mau juga momongin Anak. Biasanya jarang lho Bu, ada Lelaki seperti Suami Ibu." Ucap Penjual yang berada di samping Aku duduk.


" Lelaki itu bukan Suami Saya Bu, Dia adalah Omnya Anak Saya." Ucapku berbohong. Jika Aku jujur Yudis adalah Temanku, maka Penjual itu pasti akan bertanya lagi dan mengira Yudis adalah pacarku.


Kapal dari arah Tano pun menyender di Dermaga. Kami bersiap menunggu di depan mencari Bus yang kosong untuk di naiki.

__ADS_1


Beruntung Bus yang Kami tumpangi Bangkunya masih ada yang kosong. Namun hanya ada Satu bangku saja. Yudis mengalah memberiku tempat duduk dan terpaksa berdiri di pintu Bus. Aku merasa kasihan dengannya harus berdiri sampai Bus berhenti di Terminal nanti. Mudah-mudahan salah satu Penumpang ada yang berhenti di Desa lain.


Aku terperanjat ketika melihat Penumpang di depanku adalah Adik Iparku Lisa bersama dengan Seorang Pria. Lisa tertidur di bahu Pria itu, nampak tangan Pria itu merangkul pinggangnya. Aku bertanya-tanya dalam hati. Dari mana saja Adik Iparku hingga bersama Seorang Lelaki. Apakah Mas Surya dan Ibu Mertuaku tahu tentang kepergian Lisa.


__ADS_2