
Zaki asyik sekali bermain dengan Bunda Mery. Sementara Aku sibuk membantu Bi Ina memasak untuk makan malam. Kini Bi Ina Ku suruh duduk manis sambil melihat Aku memasak.
"Biar Bibi saja nak, kamu harus beristirahat Via." Ucap Bi Ina sedari tadi munyuruhku untuk duduk saja.
"Bibi kali ini santai ya Bi, biar Via yang akan memasak." Ucapku tersenyum.
"Nak Via, Bibi di sini di gaji. Masa nak Via yang memasak?" Ucap Bibi tak enakkan.
Tanpa menghiraukan ucapan Bi Ina, Aku menjulurkan sendok ke ke arah beliau guna mencicipi hasil masakanku.
"Waaah, ini enak banget nak Via. Pasti Bu Mery akan lahap memakan masakanmu." Ucap Bi Ina memuji.
"Bibi bisa aja" Ucapku tersenyum.
Aku pun menata masakan ke atas meja makan. Sementara Bi Ina membersihkan tempat memasak. Walaupun Aku sudah bilang urusan dapur Aku yang akan kerjakan. Tapi Bi Ina menolak dan tetap melakukan pekerjaannya.
Usai menata meja makan secantik mungkin, Aku pun memanggil Bunda Mery dan Yudis untuk makan malam.
"Bunda masakan sudah siap." Ucapku pada Bunda Mery.
" Ayo Nak, kita makan bersama." Ajak Bunda pada Yudis.
"Kita maam duyu, kita maam dong" Ucap Bunda Mery mengajak Zaki bicara sambil menggendongnya menuju meja makan.
"Waaah, makan malam di restoran bintang lima ini" Puji Bunda Meri melihat tatanan meja.
Aku sengaja menghias semua masakanku dengan garnis. Agar masakanku terlihat menarik di pandang mata. Impianku memang dari dulu ingin menjadi seorang Chef. Dan di rumah Bu Mery Aku bisa mengembangkan bakatku karena dapur di sini semuanya sangat lengkap. Dari bahan makanan hingga alat dapurnya memungkinkanku untuk mengeluarkan imajinasiku. Ditambah lagi dengan waktuku yang memungkinkan untukku mengerjakannya. Hingga Aku bisa leluasa dengan santai menumpahkan ketrampilan terpendamku selama ini.
"Bi Ina hari ini masak spesial buat kita, makasih ya Bibi." Ucap Bunda Mery.
"Ini semua Via yang buat Bu, tadi saya kerjanya cuma duduk saja." Ucap Bi Ina.
"Benarkah?" Ucap Bunda terkejut.
"Iya Bu, masa Bibi yang buat masakan hiasan begini. Mana Bibi tahu buat bunga pake tomat begitu. Bisa-bisa 5 jam lamanya Bibi masaknya kalau begitu Bu. Hi hi hi." Ucap Bi Ina lucu.
Kami pun ikut tertawa bersama, karena tawa Bi Ina terasa renyah dan sangat lucu.
"Doyan banget Om Yudisnya ya, dua kali nambah euy." Ucap Bunda Mery menggoda Yudis.
"Enak Bunda" Ucap Yudis singkat dan melanjutkan melahap makanannya.
__ADS_1
"Masakanmu benar-benar enak bangeeeet!" Puji Bi Ina mengacungkan dua jempolnya.
"Makasih Bi" Ucapku.
Aku sangat tersanjung, penghuni rumah ini menyukai masakanku. Aku merasa sangat bahagia malam ini.
Usai makan malam, kami pun duduk bersama di ruang tengah sambil menikmati cemilan dan menonton televisi bersama. Sesekali Aku tertawa lepas ketika melihat adegan lucu di film tersebut. Tampak sepasang mata sedari tadi memperhatikanku. Ya, Yudis memandangku sedari tadi dengan tatapan yang sulit Ku artikan. Mungkin Yudis lagi heran saja melihatku bisa tertawa terbahak-bahak seperti itu. Mengingat selama ini Aku terkesan menjaga image dan pendiam.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul Sepuluh malam. Namun Aku masih betah berada di depan televisi. Penghuni rumah ini semuanya telah tidur ke kamar mereka masing-masing. Mungkin karena Aku tak pernah sesantai ini jadi Aku terlalu terlena menikmatinya.
Uhuk Uhuk Uhuk
Suara Yudis terbatuk saat menuruni anak tangga.qqq Yudis menuju dapur untuk mengambil minuman dingin dan dua potong kue yang di letakkan ke dalam piring.
"Nonton itu sambil ngemil baru seru" Ucapnya memberikanku sepotong kue dan sebotol minuman dingin.
"Makasih Dis" Ucapku menyingkat namanya.
"Emang Aku kudisan ya?" Tanyanya.
"Siapa bilang?" Ucapku heran.
"Itu tadi kenapa nyebut namaku Dis" Ucapnya .
Yudis hanya tersenyum menanggapiku.
"Besok kamu kemana sama Ibu." Tanya Yudis kepo.
"Kamu nanyea?" Ucapku lebay menirukan yang lagi viral saat ini.
"Iya Aku bertanyea-tanyea. Ha ha ha..." Aku dan Yudis pun tertawa bersama.
Jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Mataku mulai mengantuk. Dan Aku pamit pada Yudis untuk masuk ke dalam kamar. Begitu juga dengan Yudis pamit naik ke lantai atas untuk tidur.
Kumandang Adzan pun menggema, Aku bergegas bangun untuk pergi berwudhu. Ku lihat Bi Ina sudah bergelut di dalam dapur.
"Bibi sudah sholat?" Sapaku.
"Bibi lagi halangan nak." Ucap Bibi.
Usai sholat Aku menghampiri Bi Ina di dalam dapur.Beruntung Anakku Zaki sudah tidak menyusui lagi karena umurnya sudah genap dua tahun.
__ADS_1
"Bibi istirahat ya, biar Via aja yang ngerjain." Ucapku.
"Kita kerjakan sama-sama gimana. Satu tim gitu." Ucap Bibi sok gaul.
"Baiklah, jika itu ingin bibi." Ucapku melanjutkan pekerjaan.
"Kamu hebat nak Via, maaf. Bibi tadi malam tidak sengaja mendengar kalian asyik tertawa. Seumur-umur, ini pertama kalinya Bibi melihat Yudis tertawa lepas seperti itu." Ucap Bibi serius sambil mengaduk adonan tepung.
"Berarti Yudis selama ini es batu dong Bi" Ucapku.
"Iya cowok kol gitu" Ucap Bibi gaul.
"Ha ha ha, bukan daun kol bibi tapi cool" Ucapku menertawai bibi.
"Maklum bibi kan tidak bisa bahasa orang barat." Ucap bibi ikut terkekeh.
Usai sarapan Aku dan Bu mery berangkat ke kantor pengadilan agama. Tentunya Yudislah yang mengantarkan kami.
"Jangan khawatir Via, nanti di ruang mediasi keluarkan semua uneg-unegmu. Dan ingat apa yang bunda ajarkan. Ok." Ucap Bunda Mery menyemangatiku.
Di ruang tunggu Aku melihat Mas Surya di temani oleh Nindiana kekasihnya. Aku hanya melirik mereka tanpa harus menegur. Tak lama nomor persidanganku si panggil. Aku dan Mas Surya pun masuk ke dalam. Kami sempat bersalaman tapi tak bertegur sapa.
Kami di pertemukan dalam ruang mediasi. Mas Surya tetap kekeh dengan pendiriannya untuk bercerai dariku. Namun Aku sengaja mengulur waktu untuk tak mau bercerai sebelum uang nafkah dan hak anak-anakku di penuhi. Di ruang mediasi Mas Surya hampir tak bisa mengendalikan diri karena emosi dengan tuntutanku.
"Saya tidak akan pernah mau menanda tangani surat cerai ini sebelum uang nafkah selama Satu tahun lamanya belum di bayarkan sekarang juga sebesar 3 juta rupiah dikalikan 12 bulan. Totalnya 34 juta rupiah. Dan ketika saya bercerai nanti ketiga anak saya harus di nafkahi setiap bulannya sebesar 3 juta rupiah." Ucapku lantang menuntut hak anakku.
"Saya keberatan, karena yang dia tuntutkan tidak sesuai dengan kemampuan dan penghasilan saya. Apalagi saat ini saya tidak mempunyai pekerjaan." Ucap Mas Surya keberatan.
"Kalau begitu, saya tidak akan mau menanda tangani surat cerai. Titik. Dan jika Suami saya beristri lagi tanpa sepengetauan saya. Saya aka menuntut." Ucapku tegas.
Wajah Mas Surya yang tadinya emosi dan garang kini terlihat nyalinya menciut. Karena sidang pertama tak berujung dengan damai maka akan di lanjutkan dengan sidang ke dua sesuai hari yang sudah di tentukan oleh pengadilan agama.
Saat keluar dari dalam ruangan mediasi nampak Mas Surya menghampiriku.
"Ku pastikan Kamu pasti akan menandatangani surat cerai itu. Aku tahu kamu datang kesini pasti Kamu berhutang di kampungmu. Ingat! Berurusan di kota itu membutuhkan kantong yang tebal." Ucap Mas Surya mencoba menghinaku lagi.
"Darimana kamu tahu jika Aku berhutang di kampung." Belum selesai ucapanku pada Mas Surya, Bunda Mery sudah datang menghampiriku.
" Sudah selesai nak, maaf tadi Ibu keasyikan bermain dengan Zaki." Ucap Bunda Mery.
"Sudah Bunda" Ucapku melangkah dan naik ke atas mobil mewah Mas Surya.
__ADS_1
Tatapan Mas Surya seperti tak percaya jika Aku saat ini bisa menaiki mobil mewah. Sampai mobil Bunda Mery keluar gerbang pun Mas Surya masih berdiri terpaku menatap kepergian mobil yang Ku naiki.