NAFKAH SISA

NAFKAH SISA
Kedatangan Mas Surya Dan Yudis


__ADS_3

POV SURYA


Dengan ramah Via mempersilahkanku masuk ke dalam rumahnya. Sembari menunggu ketiga Anakku di panggil Aku duduk di kursi dan melihat keadaan rumah Via yang sudah di renovasi. Aku salut dengan Via, dengan kegigihannya sekarang ini dia sudah mempunyai usaha sendiri.


Tak lama menunggu, Paman pun keluar dan menyambut kedatanganku dengan ramah. Tak ada wajah yang dulunya terlihat kecewa. Padahal Aku sudah melukai hati dan perasaan keluarganya. Aku semakin bangga dengan sikap keluarga mantan istriku itu.


"Nak Fatir, sudah lama menunggu. Sapa Paman ramah.


"Surya baru saja sampai paman, tadi malam Surya nyebrang dan ingin menunjungi anak-anak." Ucapku jujur.


Via pun membawa Zul dan Zaki untuk menemuiku. Aku mendekatkan tubuh ini di depan Zul dan mensejajarkan tubuhku lalu memeluk anak keduaku itu. Zul terlihat mematung tanpa eksperesi. Jangankan menyapa tersenyum pun Zul enggan melihatku. Zul memalingkan wajahnya seolah sangat membenciku.


"Zul, bapak kangen nak." Ucapku sedih.


Zul tetap saja mematung dan tak mengeluarkan suaranya.


Dia mencoba melepaskan pelukanku dan berlari bermain ke luar rumah. Hati ini bagai di remas-remas tak di hiraukan oleh anak sendiri.


Aku pun beralih ingin menggendong Zaki yang tampaknya sudah bisa berjalan. Saat Ku dekati Zaki menangis kencang seolah takut padaku.


"Ini Ayah Nak" Ucapku mencoba merayunya.


Zaki tetap menangis dan terpaksa Via menggendongnya keluar rumah untuk menenangkannya.


"Paman, Zafran mana?" Tanyaku mencari keberadaan Zafran.


"Zafran sudah mondok di kota, kami baru kemarin mengantarkannya." Ucap Paman.

__ADS_1


"Memangnya Zafran masuk SD di pondok?" Tanyaku bingung.


"Surya-surya, anakmu itu barusan lulus SD dan berhasil dengan prestasi yang luar biasa. Kamu mimpi jika anakmu masih SD?" Ucap Paman lembut dan mengeleng-gelengkan kepala.


Aku tertegun dan tak percaya dengan perkembangan anakku. Saking tak perdulinya diriku Aku pun tak tahu jika Zafran sudah menamatkan Sekolah Dasarnya. Aku memang Ayah yang tidak berguna.


Kedatanganku kampung Via tak membuatku merasa lega, malahan menambah kesedihanku. Ketiga putraku tak ada yang merinduiku. Ini semua memang salahku dan Aku patut mendapatkannya.


Ku lihat Via begitu sibuk melayani pembeli di warung nasinya. Wajahnya yang dulu kusam dan tubuhnya yang langsing kini, agak berisi dan kulitnya bersih. Aura kebahagiaannya terpancar jelas dari wajahnya. Mungkinkah hati Via masih ada namaku di sana. Mengingat Via masih saja betah hidup menjanda.


Siangnya Aku di jamu dengan makanan yang sangat lezat oleh Via. Usai makan siang Aku kembali ke ruang tamu menghampiri kedua putraku. Zul dan Zaki tetap saja tak menghiraukanku dan lebih fokus bermain dengan mainan mereka.


Memang salahku tak sempat membelikan ketiga putraku buah tangan atau oleh-oleh. Kedatanganku pun datang ke kampung Via secara mendadak dan tiba-tiba.


Malam itu Aku sengaja tak pulang ke rumah dan memilih menyebrang lautan. Uang gajiku bulan ini sengaja tak Ku berikan pada Nindiana. Mengingat sudah sangat lama Aku tak memegang gajiku sendiri. Setiap bulannya Aku selalu saja menyerahkan pada istriku yang boros itu. Uang yang Ku beri pada Nindiana selalu saja dipergunakan untuk membeli ķosmetik mahalnya. Beruntung Ibu di nafkahi oleh Mas Fatir setiap bulannya.


"Yudis?" Sapa Via mantan istriku. Sepertinya Pria itu kekasih dari Via.


Pria itupun melangkah untuk masuk ke rumah. Ketika di depan pintu kedua putraku tersadar jika ada tamu. Mereka yang tadinya sibuk bermain berlari berhamburan dan memeluk Pria itu.


"Om Yudis, kita kangen banget sama Om." Ucap anakku Zaki.


"Om juga kangen sama kalian. Ini Om bawa oleh-oleh untuk kalian" Ucap Pria itu sambil mengusap kepala kedua putraku.


"Waaaah, mainan Robot Ultramen. Makasih om." Ucap Zul kegirangan dan mencium Pria itu.


Sementara anak sulungku Zaki tak mau turun dari gendongan pria itu. Hatiku sangat teriris dan terluka ketika kedua putraku sangat dekat dengan orang asing. Padahal pria itu bukanlah ayah mereka. Aku ingin sekali menangis namun Aku sangat malu untuk menampakkannya.

__ADS_1


"Nak Yudis, kapan datang?" Sapa Paman dengan ramah.


" Barusan paman, tadinya saya langsung mau pulang ke mataram. Tapi saya rindu sama bocah ini. Oya, Zafran mana Paman?" Tanya Yudis mencari Anak Sulungku.


"Zafran sudah mondok di pesantren di kota kabupaten." Jawab Paman.


"Sayang sekali, kemarin kalau ketemu dengan saya Zafran harus di ajak ke pantai lagi." Ucap Yudis menyayangkan.


Yudis terlihat akrab sekali dengan kedua anakku. Aku jadi teringat dengan nama Yudis. Parasaan nama itu tak asing di telingaku. Aku mencoba memutar memori di kepalaku dan berusaha untuk mengingatnya. Ya, Yudis adalah nama kekasih Nindiana yang pernah di sebutkan Herman padaku kala itu di diskotik. Tapi, Herman bilang jika Yudis sudah menjadi pria gila karena di tinggalkan oleh Nindiana. Lagi pula banyak orang yang bernama Yudis.


"Kenalin, ini bapaknya anak-anak. Dia mas Surya mantan suami Aku." Ucap Via mengenalkanku pada Yudis kekasihnya.


Saat menekankan kata mantan hati ini terasa nyeri bagai tertusuk sembilu. Aku sepertinya masih sangat mencintai Via dan Aku cemburu melihat kedekatannya dengan pria lain. Apa jangan-jangan Yudis inilah yang membelikan sepatu mahal untuk Zafran kala itu. Artinya Via selama ini memang melakukan perselingkuhan.


"Surya" Ucapku tak bersahabat.


"Via, jika kalian menikah jangan lupa undang Aku." Ucapku tak bisa menahan diri.


Yudis dan Via saling berpandangan dan mereka berdua kembali menatapku.


"Maaf mas, Aku dan Yudis hanya berteman. Kebetulan Yudis sangat menyayangi ketiga putraku melebihi kasih sayang dari Ayah kandungnya." Ucapan Via berhasil menyinggung perasaanku.


"Maaf Via, Aku mengira kalian pasangan kekasih." Ucapku malu namun bahagia. Karena ternyata Via hanya berteman. Setidaknya hati Via masih mempertahankan namaku di sana. Via memang susah sekali untuk move-on.


"Mas Surya salah paham, saya hanya teman biasa Via tidak lebih." Ucap Yudis menjelaskan.


Sore pun tiba kini waktunnya Aku pamit begitu juga dengan Yudis. Sambil menyelam minum air Aku pun nebeng naik ke atas mobilnya Yudis yang kebetulan jalur kita sama menuju mataram.

__ADS_1


Saat pamit kedua putraku lebih memilih mengucapkan salam perpisahan kepada Yudis di bandingkan denganku. Aku sebenarnya merasa sangat iri dengan Yudis. Aku sengaja tak memberikan uang nafkah kepada Via, mengingat dirinya sekarang ini sudah menjadi wanita yang sukses. Nampaknya juga dia berpenghasilan lebih dan punya banyak uang. Lagi pula Via tak meminta apapun dariku tadi dan tak menagih nafkah dariku. Uang yang tadinya untuk ongkos pulang bisa aman Ku simpan dalam kantong.


__ADS_2