
Sampai di rumah Bunda Mery, beliau langsung beristirahat tidur siang dan sorenya Aku di ajak jalan-jalan ke pantai ampenan. Dengan menempuh jarak 25 menit kami sudah sampai.
Zaki sangat senang sekali ketika di ajak bunda Mery menaiki mainan mobil-mobilan. Kebetulan di pantai itu tersedia mainan untuk anak di lokasi depannya. Sementara Aku dan Yoris asyik menikmati ombak pantai sambil menikmati makanan khas lombok yang super pedas.
Yoris tertawa melihat mulutku yang dower akibat kepedasan. Bunda Meri yang memperhatikan keakraban kami tersenyum dari jauh sambil melambaikan tangan. Setelah Zaki bosan bermain bunda Meri menghampiri Kami dan ikut menyantap makanan yang sudah kami pesan dengan Yoris. Andai Bi Ina tadi ikut bersama kami pasti akan lebih seru.
"Tadi Zaki main apa sayang?" Tanyaku pada Zaki.
"Mbin, tiu-tiu." Jawab Zaki sambil memperagakan dirinya ketika sedang menyetir mobil.
Entahlah, saat Aku usai minum air tiba-tiba perutku terasa sakit. Mungkin ini reaksi makanan pedas yang baru saja Aku makan. Aku pamit sebentar pada Bunda Mery untuk ke kamar mandi.
Aku mencari keberadaan kamar mandi di pantai itu dan berkeliling sambil bertanya.
"Bu, kamar mandinya dimana ya?" Tanyaku pada seorang Ibu yamg juga pengunjung di pantai itu.
" Sebelah sana mba, nanti belok kiri." Jawab Ibu itu
"Makasih Bu" Ucapku.
Aku pun melangkahkan kaki ke arah yang Ibu bilang tadi. Sampai di kamar mandi Aku harus menunggu lagi. Karena kamar mandi masih di pakai oleh pengunjung lain dan Aku harus menunggu orang tersebut keluar.
Akhirnya orang itu keluar juga dari kamar mandi setelah cukup lama Aku menunggu. Ketika Aku masuk terasa tanganku di tarik oleh seseorang. Aku membalikkan tubuhku dan melihat siapa yang sedang yang sedang memegang pergelangan tanganku.
"Nindiana?" Kamu ngapain menarik tanganku." Ucapku keberatan.
__ADS_1
"Aku harus bicara padamu" Ucapnya serius.
"Baiklah, tapi tunggulah setelah Aku usai masuk ke dalam kamar mandi." Ucapku melepaskan tangannya dan bergegas masuk ke kamar mandi.
" Katakan, apa yang ingin kau bicarakan." Ucapku sinis.
"Aku ingin kamu menendatangani surat cerai dengan Mas Surya, karena kami akan segera menikah." Ucapnya tanpa malu.
"Bukankah kamu yang dulunya kekeh tak menginginkan mas Surya? Mengapa sekarang menjadi berubah fikiran." Tanyaku heran.
"Karena saat ini Aku sedang mengandung anaknya, dan itupun Aku baru tahu setelah Aku memutuskan berhubungan dengan Mas Surya. Ucapnya serius.
" Oya, selamat ya? Semoga saja bayi itu bapaknya bukan gado-gado. Mengingat kamu suka berpindah-pindah kekasih." Ejekku.
"Jaga mulutmu wanita kampung! Apa bedanya kamu denganku, sekarang ini saja kamu berani kencan dengan pria lain. Sementara kamu masih sah dari istri mas Surya." Ucapnya menyelidikiku.
Tanpa menghiraukannya mengoceh, Aku langsung meninggalkan Nindiana dan melebarkan langkahku menuju tempat Bunda Mery dan Anakku.
"Maaf bunda, Via tadi lama ngantrinya." Ucapku beralasan.
"Ayo kita pulang nak, sepertinya Zaki sudah mengantuk. Nanti kita mampir Sholat magrib di masjid saja. Soalnya sebentar lagi mau Adzan" Ucap Bunda Mery.
Kami pun naik ke atas mobil dan berhenti di Masjid dekat dengan pantai ampenan. Usai melaksanakan ibadah Sholat magrib, kami pun langsung pulang ke rumah.
Di dalam perjalanan pulang, mobil berhenti di depan lampu merah. Saat Aku menolehkan mataku lewat jendela kaca mobil. Ku lihat Yudis berhenti di lampu merah dengan sepeda motornya. Aku ingin memanggilnya namun, bibirku tertahan katika disamping Yudis juga ada Mas Surya dan Nindiana berboncengan dengan sepeda motornya. Spontan Aku mengurungkan niatku untuk itu.
__ADS_1
_____________________________
Sidang kedua pun berlanjut. Kali ini Aku datang sendiri tanpa di temani Yudis ataupun Bunda Mery. Mereka berdua harus mengurusi pekerjaan mereka. Dan jika nanti ada waktu Bunda Mery akan menyusulku ke kantor pengadilan dan Zaki Ku titipkan pada Bi Ina. Kebetulan tugas rumah sudah beres semua.
Aku tetap kekeh mempertahankan hak-hak dari ketiga putraku. Mas Surya meminta keringanan agar uang nafkah sisa selama setahun di bayarkan dengan jumlah sesuai kesanggupannya. Aku tetap pada pendirianku tak mau menerima uang tersebut. Bukan berarti Aku ingin memanfaatkan siapa pun atau mata duitan, niatku hanya ingin mendapatkan keadilan selama ini.
"Saya berjanji jika uang nafkah selama setahun itu saya akan cicil setiap bulannnya bersama dengan nafkah bulanan saya kepada ketiga putra saya." Janji Mas Surya pada pak hakim.
"Saya keberatan, bagaimana seandainya jika bapak dari anak-anak Saya ternyata berbohong dan melalaikan janjinya. Apa sangsinya?" Ucapku pada pak hakim.
"Dari pengadilan kami akan membuat surat perjanjian untuk di tandatangani oleh Pak Surya. Jika Pak Surya mangkir dari janji dan tanggung jawabnya maka Ibu boleh menuntut Mantan suami anda." Jelas pak hakim.
"Kemana saya akan menuntut, ke polisikah? Jika saya menuntut kesana mungkin banyak Ayah dari anak di indonesia ini yang akan masuk penjara gara-gara tidak menafkahi keluarganya. Saya meragukan akan hal itu dan saya tidak akan mau bercerai jika uang yang saya ajukan belum terpenuhi." Ucapku tegas.
Sidang pun berlanjut lagi karena Mas Surya belum mau dan mampu menyanggupi uang yang telah Aku ajukan.
Sampai di luar persidangan Mas Surya berlari kecil menghampiriku di area parkiran.
"Baiklah Via, jika kamu benar-benar ingin menuntutku. Aku punya kartu As untuk menjatuhkanmu. Aku punya fotomu bersama kekasihmu itu. Kamu juga ternyata licik, bermain asmara dengan pria lain pada saat statusmu masih menjadi istriku." Ucap Mas Surya percaya diri dan selalu saja menuduhku tanpa bukti yang jelas.
"Kalau begitu tunjukkan esok di pengadilan berikutnya. Jangn lupa bawa beserta dengan saksinya. Aku pun akan melakukan hal yang sama padamu. Aku punya banyak saksi bahkan vidio saat kamu berselingkuh dan Ku pastikan kamu tidak akan pernah menikah dengan kekasihmu yang sedang hamil itu. Karena Aku tak gentar untuk menuntutmu." Ucapku kembali mengancam.
"Oya, Aku hampir lupa. Selamat ya atas kehamilan kekasihmu. Aku berharap anak yang lahir dari istrimu nantinya sangat mirip denganmu." Ucapku sengaja mengejek.
Karena kesal mas Surya mengangkat tangannya guna ingin menamparku. Namun dengan sigap Aku langsung menangkis tangannya.
__ADS_1
"Berhati-hatilah kamu dalam berbuat, sedikit saja wajahku lecet olehmu Aku tak akan segan-segan menuntut dan melaporkanmu ke polisi. Jangan mengira Aku masih istrimu yang bodoh dan penurut seperti dulu. Ingat! Walaupun Aku tak ingin bercerai darimu bukan berarti Aku berharap kembali padamu. Asal kamu tahu, sampah yang telah Ku buang tidak akan pernah untukku pungut lagi." Ucapku lalu berlalu pergi melangkah menaiki taksi.
Ku lihat dari kaca taksi wajah Mas Surya memerah meradang dan menendang batu yang ada di depannya. Wajahnya meringis kesakitan karena tanpa sadar kakinya beradu dengan batu yang di tendang. Aku sempat tertawa geli melihat kejadian itu.