
Ambulan pun sudah sudah tiba di rumah duka. Para pelayat menantikan kedatangan jenazah Lisa. Ku lihat Yudis dan bunda Mery juga datang.
Meski mertuaku masih belum juga sadar namun jenazah tetap akan di makamkan segera. Usai dimandikan, di Sholati dan di kafani. Jenazah Lisa pun di bawa ke tempat peristirahatnnya.
"Jangan bawa anakku. Lissaaaa! Pekik Ibu mertua menangis histeris.
Mas Fatir mencoba menenangkan Ibu mertua dengan memeluk beliau dengan erat. Walaupun beliau mulutnya sering tajam menghinaku kala itu, namun Aku sangat Iba dan pilu ketika melihat Ibu mertua tergoncang seperti ini.
"Bu, nyebut. Sabar, kita harus relakan Lisa pergi." Ucap mas Fatir mengingati Ibu.
"Via, kalau kamu tidak keberatan menginaplah di sini." Ucap mas Fatir menawarkan.
"Iya Via." Timpal mas Surya mantan suamiku.
Aku pun mengangguk karena merasa kasihan sekali dengan keadaan mantan Ibu mertuaku.
Malam pun tiba, namun rumah duka masih di penuhi dengan kedatangan orang yang turut berduka cita. Tangis Ibu mertua tak henti-hentinya meraung. Belum lagi anak mas Surya Syakila yang sangat rewel.
"Bu, ikhlaskan Lisa. Kasihan Syakila jadi takut melihat Ibu menangis." Ucap mas Surya.
"Bagaimana Ibu tak menangis Surya, adikmu meninggalkan rumah dalam keadaan sehat dan Ibu harus bertemu dengan jenazahnya." Ucap Ibu mertua sedih.
" Bu, tenanglah." Ucap mas Fatir mengusap punggung Ibu mertua.
Saat inginku memejamkan mata, suara tangisan Syakila memekik telinga.
Aku bangkit dari tidur dan mencoba menenangkan bayi Syakila. Sesaat Ia tertidur lelap setelah di beri susu. Dengan pelan Aku menidurkannya di box bayi.
Mba Yuri yang melihatku perhatian dengan anak mas Surya datang menghampiriku dan berbisik.
"Tak usah cari muka, Surya takkan mau kembali padamu." Ucap mba Yuri pelan.
Aku tak menanggapinya dan hanya terdiam.
"Via, terima kasih. Syakila enteng sekali bila bersamamu. Andai Nindiana juga sepertimu mungkin saat ini Syakila tak setiap malamnya menangis seperti ini." Ucap mas Surya menyesal.
"Sudahlah Mas, jangan membandingkan Via dengan istri Mas. Karena kami sangatlah berbeda. Bukankah jodoh sesuai dengan cerminannya? Lantas mengapa mas Surya menyesalinya." Ucapku meninggalkan mas Surya masuk ke dalsm kamar.
__ADS_1
Sepertinya besok pagi Aku harus segera pulang. Karena tak baik bagiku harus menginap lebih dari satu hari di rumah mantan suamiku. Yang walaupun di rumah tersebut ada mba Yuri dmsjkan yang lainnya. Tetap saja Aku merasa risih.
Pagi pun tiba, Aku berkemas meletakkan bajuku di dalam tas dan bersiap-siap untuk pulang.
Belum sempat Aku membuka pintu kamarku tiba-tiba mantan mertuaku mengetuk pintu.
"Via, tidak usah pulang nak, kasihan Syakila hanya padamu saja Ia bisa tenang dan tak menangis. Ibu tak bisa mengurusnya untuk saat ini karena Ibu masih berduka." Ucap Ibu mertua memohon.
"Mohon maaf Bu, Via harus pulang karena ketiga putra Via menantikan kehadiran Via." Ucapku jujur.
"Via, mereka sudah besar dan sudah mengerti. Kasihan Syakila masih bayi Via." Ucap mantan Mertuaku mencoba membunjukku.
"Via harus pulang, lagi pula Syakila punya Ayahnya." Ucapku sembari menenteng tasku keluar kamar.
Aku sangat heran dengan mantan mertuaku. Jika Ia membutuhkanku selalu saja memohon. Mantan Ibu mertuaku tak pernah berubah sedikit pun.
"Jangan sombong kamu Via, ingat bahwa bagaimanapun Ibu dulunya adalah Ibu mertuamu." Ucap mba Yuri membela Ibu.
"Maaf mba Yuri, memang benar dulunya beliau adalah mertuaku dan Via adalah menantunya. Lebih tepatnya Via menantu yang tak dianggap. Dan demi bayinya orang lain mengapa harus Via yang berkorban. Via punya 3 putra yang manantikan Via pulang." Jawabku tegas.
Kebetulan sekali Yudis datang menjemputku.
"Oh, jadi gara-gara lelaki itu kamu jadi sombong." Ucap mantan mertuaku memandang Yudis.
Karena tak ingin di jadikan bahan hinaan lagi Aku terpaksa berbohong.
"Iya benar, pria mapan dan tampan ini adalah calon Ayah dar ketiga anak Via. Ia adalah pria yang akan menggantikan posisi mas Surya di hati Via." Ucapku terpaksa beralasan.
Wajah mba Yuri dan Ibu mertuaku begitu sangat terkejut. Begitu juga dengan wajah mas Surya.
Ku tatap wajah Yudis agar mengerti dengan kode dariku.
"Benar, Saya akan melamar Via secepatnya." Ucap Yudis bermain drama dengan serius.
Tanpa menoleh lagi, Aku pun masuk ke dalam mobil Yudis.
"Via, apa yang kamu katakan tadi hanya sekedar alasan saja kepada mereka." Tanya Yudis penasaran.
__ADS_1
"Iya Dis." Maafkan Aku harus menjual namamu.
"Tidak apa-apa Via, Aku senang membantumu. Dan Aku lebih senang lagi jika ucapanmu itu benar-benar dari lubuk hatimu." Ucap Yudis serius.
Aku mengernyitkan kening mendengar ucapan Yudis.
"Anggap saja angin lalu ucapanku Via. Aku hanya bercanda." Ucap Yudis tersenyum.
Saat dalam perjalanan ke terminal Bus. Ku lihat Nindiana dengan pakaian seksinya bersama bule tua.
"Dis, tolong berhenti." Ucapku pada Yudis.
"Nindiana?"Ucap Yudis mengenalinya juga.
Dengan cepat Yudis membuka pintu mobil dan langsung turun.
"Dasar wanita murahan! Apa Dady tidak puas menyakitiku dan juga Bunda. Hah!" Teriak Yudis emosi.
Ternyata Nindiana meninggalkan mas Surya demi Bule tua yang tak lain adalah Dadynya Yudis.
"Yudis tolong dengar Dady, Dady masih bersamanya karena Dady punya ikatan." Ucap Dady Yudis.
"Maksud Dady kalian sudah menikah?" Tanya Yudis emosi.
"Kami tidak menikah, namun Dady mempunyai seorang Bayi bersama Nindiana." Jelas Dady Yudis enteng.
"Apa?" Ucap Yudis terkejut.
Rupanya bayi Syakila adalah bayi dari bule itu. Pantasan wajah Syakila kebarat-baratan dan cantik. Aku sudah menduga jika bayi itu bukanlah anak mas Surya.
"Nindiana, Aku bukan mau ikut campur dengan urusanmu. Kasihan bayimu menangis tanpa henti. Ivu mertuamu sekarang berduka dan depresi. Apalagi Lisa sudah tiada. Kasihan Bayimu." Ucapku bersuara.
"Apa? Sayang kamu bilang bayi kita di tempat Ibu kamu. Kamu sudah membkhongiku Nindiana." Ucap Dady Yudis kesal.
"Perempuan semacam ini yang Dady sukai?" Ejek Yudis dan memegang tanganmu pergi.
Sementara Nindiana masih berusaha membujuk Dadynya Yudis agar tak marah. Namun Dadynya Yudis lebih memilih masuk ke dalam mobil meninggalkan Nindiana sendirian.
__ADS_1
Wajah Yudis yang tadinya ceria kini berubah menjadi sangat sedih dan kacau. Aku paham apa yang twngah di rasakan Yudis saat ini.